KITAB YOSUA

 KITAB YOSUA

sebuah pembimbing singkat 

Kitab Yosua muncul dalam rangka membahas pembaharuan (reformasi) yang dilakukan oleh Raja Yosia yang memerintah Yehuda tahun 640-609 SZB. Tulisan tentang pembaharuan itu disebut sebagai sejarah Deutronomistik (Sejarah Dm atau Deutronimistic History disingkat DH). Disebut demikian katena tulisan itu pada saat ini dipahami ahli terdapat dalam kitab Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, 1-2 Samuel dan 1-2 Raja-raja. Para ahli membicarakan penulis dari cerita yang panjang ini dengan menyadari bahwa sebenarnya Kitab Ulangan sendiri ditulis oleh dua sumber yang berbeda. Ulangan 12-26 yang berisikan berbagai hukum disadari berasal dari Israel Utara yang ketika terjadi kehancuran, dibawa lari ke selatan dan disembunyikan di Bait Allah di Yerusalem, Itulah dokumen yang diduga kuat sebagai Taurat yang ditemukan di Bait Allah oleh Yosia dijadikan dasar bagi pembaharuan yang dilakukannya (2 Raj, 22:10-11, TB-LAI). Oleh Yosia, terhadap taurat tersebut ditambahkan pasal 1-11 dan 27-34 dan Yosua, Hakim-hakim, 1-2 Samuel dan 1-2 Raja-raja.[1]

Kitab Yosua adalah kitab yang sangat mencerminkan diri Yosia sendiri. Akar kata yang sama antara Yosia dan Yosua adalah jalan masuk untuk mengidentifikasikan Yosua sebagai Yosia. Dalam kitab yang menceritakan proses pergantian Musa kepada Yosua sangat mencerminkan legitimasi Yosia inginkan di Israel Utara. Legitimasi itu Yosia dapatkan lewat Musa sendiri, tokoh dari Utara yang sangat dihormati. Legitimasi itu dia butuhkan untuk memperkuat usahanya menguasai Israel Utara. Hal itu dilakukan melalui cerita bahwa musalah yang menyerahkan kewenangannya ke Yosua. Yosia membutuhkan pengakuan itu. Begitu pula dengan pembagian tanah yang diceritakan dalam kitab Yosua. Menurut Chaney, batas-batas wilayah yang dibagi-bagikan kepada dua belas suku dalam Kitab Yosua adalah batas-batas wilayah selama pemerintahan Raja Daud. Hal itu hendak menegaskan bahwa wilayah utara adalah wilayah yang diperoleh sejak jaman Yosua. Hal itu hendak menegaskan kedaulatan Yosia atas Israel Utara.[2]

Sebagaimana telah dijelaskan, kitab Yosua ditulis dalam rangka melegitimasi usaha dari Yosia sendiri untuk menyatukan bangsa Israel, karena letak kekuatan bangsa israel yang sebenarnya ialah kesatuan suku-suku. Tetapi, sumber E dimunculkan kembali atau ditambahkan kedalam kitab Yosua, dalam rangka semakin menguatkan, mengingatkan bangsa Israel akan pentingnya bangsa Israel sebagai umat panggilan Allah yang terdiri atas suku-suku yang bersatu harus memiliki relasi khusus dengan Allah yang puncak pertemuannya ialah di Yerusalem. Karena dengan menyadari bahwa mereka umat pilihan Allah harus memiliki relasi khusus dengan Allah dapat membantu sumber D untuk melegitimasi, melancarkan maksud dari Yosia bangsa Israel dipanggil kembali oleh Allah untuk menjadi bersatu yang hidup dan berpusat di Yerusalem sama seperti masa dinasti Daud sehingga mereka dapat kembali menjalin relasi yang harmonis kembali dengan Allah.

 

Tak pelak lagi pemerintahan Yosialah yang direfleksikan dalam seluruh Sejarah Deutronimistik, dan didalamnya kitab Yosua.  Tujuan reformasi yang dilakukan Yosia adalah :

·         Memelajari kesejajaran kuno dengan teks Alkitab yang melimpah ruah tekait dengan reformasi tersebut. Pada waktu reformasi Yosia pada tahun 622, tatanan ekonomi masyarakat di bawah kekuasaan keluarga Daud telah dikomersilkan secara besar-besaran dalam konteks “kedamaian Asyur”. Komersialisasi seperti itu biasanya memiliki dampak pada terkonsentrasinya lahan pertanian di tangan orang-orang kaya, melalu kombinasi tingginya sewa dan pajak, serta manipulasi dan mekanisme utang. Dengan demikian, tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa reformasi Yosia menjawab jeritan tuntutan penghapusan utang.[3]

·         Tujuan kedua adalah, untuk mengembalikan reputsi penguasaa untuk memungkinkan dia “memproyeksikan citra publik sebagai negarawan yang hanya merawat rakyatnya, khususnya mereka yang lemah dan kurang beruntung.” Reformasi Yosia muncul setelah delapan puluh tahun dominasi Asyur atas keluarga Daud. Tradisi kekuatan, panjang umur, dan otonomi dinasti itu hanya diperuntukkan guna menunjukkan kelemahan saat ini, hal ini telah menjadi tantangan yang didalam tiga generasi untuk memerintah berdasarkan rasa suka dan atas perintah penguasa kekaisaran.  Hampir dapat dipastikan bahwa keluarga Daud mendorong komersialisasi yang membengkakkan utang di wilayah tersebut, dan pada saat yang sama berada pada posisi buruk untuk mencegah pengabaian dan penyalahgunaan peraturan peringanan untang yang telah ditetapkan oleh kebiasaan kuno atau dijababarkan dalam daftar hukum yang ada. Dengan demikian, keluarga Daud membutuhkan kebijakan yang akan melawan tuduhan ketidakpedulian dan ketidakadilan dari orang-orang miskin.[4]

·         Tujuan ketiga dari Reformasi semacam itu adalah untuk menentang para lawan dengan menerapkan hukum-hukum peringanan utang secara seleftif parsial dalam rangka melemahkan faksi elit yang terus mengancam penguasa yang tengah memegang kekuasaan.[5]

·         Dalam rangka mengawasi perbaikan yang diperintahkan oleh Yosia, Hilkia menemukan hukum Musa, yang seolah-olah telah lama hilang atau sudah dipandang usang. Ini adalah hukum yang dibentangkan dalam Ulangan 12-26, yang segera disalin kembali dan kemudian dicermati, atau sedikitnya demikian, dibawah kepemimpinan Yosua. Sebagaiman dicata, dokumen ini – “dokumen hukum” dalam sejarah Deutronimistik – bisa jadi mengandung unsur-unsur kuno yang mendahului monarki yang ada. Namun, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Seluruhnya jelas mencerminkan reformasi monarki radikal. Tulisan yang diduga bersifat kuno, kitab yang berisi penglihatan, hukum, dan kebijaksanaan yang tersembunyi untuk dapat ditemukan kembali merupakan hal yang lumrah dalam sejarah. Penulis kitab Ulangan mungkin telah memperhatikan pemikiran-pemikiran sumber-sumber kuno, tetapi pada umumnya bagian-bagian dari hukm dalam kitab Ulangan yang belum tersusun pada masa reformasi Hizkia mungkin disusun dibawah pemerintahan Yosia, sebagai persiapan untuk reformasi sentralisasi Yosia, sehingga ini menjadi tujuan dari sejarah secara keseluruhan. Musa telah memperkenalkan hukumNya dengan menekankan berkali-kali bahwa hukum itu penting jika israel hendak menjaga tanah yang akan mereka taklukkan. Tanpa hukum Musa tidak ada tanah israel. Setelah melanggar hukum ini, Israel kehilangan tanahnya. Satu-satunya harapan untuk memulihkan tanha Israel, tanpa menyatakan keharusan menjaga tanah Yehuda, dalah dengan memulihkan hukum itu. Di sinilah, di tangan imam Hilkia dqalam pemerintahan Yosia, keluarga Daud siap diluncutkan untuk melalui penaklukan ulang atas Israel. Dua penekanan utama dari undang-undang ini telah disebutkan yakni sentralisasi, baik secara kultis maupun istana dan penguarangan utang periodik.[6]

Sebagaimana yang terjadi dengan hukum remisi utang, penting untuk dipahami bahwa represi Deutronimistik terhadap otoritas sesepuh keluarga dilakukan demi raja itu merupakan bagian dari penggambaran reformasi Yosua. Hubungan dengan Yosua ini berjalan dengan baik melampaui pengaturan-pengaturan kota-kota perlindungan, misalnya (Yos. 20 bnd. Dengnan Ul. 19: 1-13). Yosua mewakili seorang penguasa tunggal yang menjadi kepala Israel yang bersatu. Seorang individu yang memimpin penaklukan. Dalam catatan penaklukan dan pembagian tanah, semua referensi mengenai pengelolaan kepentingan yang saling bersaing dan bertentangan dari “suku” tertentu beserta kepala-kepala suku mereka ditiadakan.[7]

Setelah mengamati hukum yang telah dihasilkan oleh imam dan penulis pada masa pemerintahan Yosia, kita kembali memperhatikan jalannya reformasi Yosia. Yosia memerintahkan semua tua-tua Yehuda- para kepala kota dan desa yang diacu dalam keseluruhan hukum – untuk berkumpul di Yerusalem, bersama-sama dengan semua bangsawan. Imam, dan kultus, pejabat istana, dan para taruna yang sudah ada disana. “Dengan didengar’ para hadirin pertemuan besar ini, seluruh bangsa dibawah kekuasaan keluarga Daud, Yosia sendiri membaca hukum lengkap Musa yang ditemukan di Bait Allah. Yosia kemudian membuat perjanjian untuk memelihara hukum dalam semua bagiannya, dan bangsa yang berkumpul itu sepakat mendukungnya.

Kesepakatan murni ini melecut kampanye Yosia atas pemurnian kultus yang dimulai dari Yehuda. Dalam ketaatan pada hukum pertama, Yosia membersihkan dan memurnikan kultus Bait Allah dan menghentikan atau membersihkan semua kultus lain yang menjadi para pesaing bagi pemberlakuan satu bait suci dan satu kultus melayani satu Yahweh.

Setelah membersihkan Yehuda, Yosia beralih pada Israel, Kebijakan pemulihan wilayah oleh keluarga Daud, yang sempat tidak aktif selama lebih dari tiga ratus tahun, tetapi telah merasuk selama seratus tahun sebelumnya, akhirnya muncul mengemuka.

Tindakan akhir yang dilakukan Yosia adalah menyingkirkan dari Yehuda para peramal, tukang sihir, tukang jampi, kotoran dan semua hal yang dibenci Yehuda dan Yerusalem. Sejuah ini tidak berlbeihan, hal ini juga mengacu kepada oragn-orang kudus lokal berserta benda-benda dan hal-hal yang mewakili mereka, yakni sesuatu yang dilarang dalam Ulangan 18 : 9-14. Yang menjadi pokok tindakan terkahir ini jelas berasal dari teks larangan yang terdapat dalam Ulangan 18. Di dalam teks itu Musa mengatakan bahwa “Seorang nabi dari tengah-tengahmu sama seperti aku, akan dibangkitakan bagimu oleh Yahweh, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Mematuhi Musa dalah dengan menolak untuk berkonsultasi pada ramalan atau orang kudus yang tidak mereprentasikan Musa.  

 



[1] Robert B. Coote, Sejarah Deutronimistik, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015), 4.

[2] Sejarah Deutronimistik, 11.

[3] Sejarah Deutronimistik, 64-65

[4] Sejarah Deutronimistik, 65-66.

[5] Sejarah Deutronimistik, 66.

[6] Sejarah Deutronimistik, 69-70.

[7] Sejarah Deutronimistik, 80-81.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTBAH Lukas 18 : 1 - 8

PERTANYAAN YANG MUNCUL DARI LUKAS 18 : 1-8

Sejarah Gereja di India