PERTANYAAN YANG MUNCUL DARI LUKAS 18 : 1-8

 
Atas bacaan Lukas 18 : 1-8
Beberapa pertanyaan atau pernytaan yang sulit dan penjelasannya. 

1. Apa makna dari pertanyaan, "Apakah Ia akan mendapati iman di bumi?"

Pertanyaan Yesus di akhir perumpamaan ini (Lukas 18:8b) adalah puncaknya dan berfungsi sebagai sebuah "cermin" bagi para pendengar-Nya, termasuk kita. Maknanya sangat dalam:

  • Bukan tentang Kuantitas, tapi Kualitas Iman: Yesus tidak sedang bertanya apakah nanti masih akan ada orang Kristen di bumi. Yang Ia pertanyakan adalah kualitas iman mereka. "Iman" (bahasa Yunani: pistis) yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengakuan intelektual bahwa "Yesus adalah Tuhan." Iman yang dicari adalah iman yang memiliki daya tahan, iman yang gigih, dan iman yang setia menanti—persis seperti yang dicontohkan oleh si janda.

  • Fokus Bergeser dari Tuhan kepada Manusia: Di ayat sebelumnya, Yesus sudah memberi jaminan mutlak: Tuhan pasti akan memberikan keadilan. Kesetiaan Tuhan tidak perlu diragukan. Namun, dengan pertanyaan ini, Yesus seolah berkata, "Bagian-Ku sudah pasti. Aku akan datang dan menepati janji-Ku. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan bagian kalian? Apakah kalian akan tetap percaya dan setia menanti-Ku, bahkan ketika penantian itu terasa sangat lama dan penuh penderitaan?"

  • Iman yang Diuji oleh Waktu: Konteks perumpamaan ini adalah akhir zaman dan penantian akan kedatangan Kristus yang kedua kali. Penundaan adalah ujian iman terbesar. Akan sangat mudah untuk menjadi lelah, putus asa, atau bahkan meninggalkan iman ketika doa sepertinya tidak terjawab dan dunia semakin jahat. Iman yang Yesus cari adalah iman yang telah teruji oleh waktu dan kesulitan, namun tetap bertahan.

Singkatnya, makna pertanyaan itu adalah sebuah tantangan: Tuhan pasti akan setia pada janji-Nya, tetapi apakah kita sebagai umat-Nya akan memiliki iman yang cukup tangguh untuk tetap setia berdoa dan berharap sampai pada hari kedatangan-Nya?


2. Apa maksud kata hakim "supaya ia jangan terus-menerus datang dan akhirnya menyerang aku"? Bukankah janda itu lemah?

Ini adalah pertanyaan yang sangat bagus dan menyoroti pentingnya memahami nuansa bahasa asli Alkitab. Anda benar sekali, secara fisik seorang janda tentu tidak mungkin bisa "menyerang" atau mengalahkan seorang hakim yang berkuasa.

Kata yang diterjemahkan sebagai "menyerang aku" atau "membuatku lelah" dalam beberapa terjemahan berasal dari kata Yunani hypōpiazō. Secara harfiah, kata ini berarti "memukul di bawah mata" atau "memberi mata hitam." Ini adalah istilah yang biasa digunakan dalam dunia tinju atau perkelahian jalanan.

Tentu saja, hakim ini tidak takut janda itu akan memukulnya secara fisik. Maksudnya adalah kiasan (metafora) yang sangat kuat. Hakim itu merasa bahwa kegigihan si janda:

  • Merusak Reputasinya: Bayangkan, setiap hari di pengadilan, janda ini terus-menerus datang dan berteriak menuntut keadilan. Lama-kelamaan, semua orang akan melihat betapa tidak becusnya hakim ini. Reputasinya hancur. Ia seolah-olah mendapat "mata hitam" di depan publik.

  • Melelahkan Mental dan Emosionalnya: Teror mental dari gangguan yang tiada henti ini membuatnya "babak belur" secara emosional. Ia tidak bisa lagi bekerja dengan tenang. Kehadiran janda itu menjadi pukulan telak bagi kenyamanan dan ketenangannya.

Jadi, "serangan" janda itu bukanlah serangan fisik, melainkan serangan mental dan reputasi melalui kegigihannya yang luar biasa. Senjatanya bukanlah kekuatan fisik, melainkan kebenarannya dan keuletannya yang tak terpatahkan. Inilah yang pada akhirnya membuat sang hakim menyerah.


3. Apa makna dari, "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!"?

Perkataan Yesus ini adalah kunci untuk memahami seluruh logika perumpamaan. Ini adalah sebuah teknik pengajaran yang disebut argumen a fortiori, atau dalam bahasa sederhana, "argumen dari yang lebih kecil kepada yang lebih besar" atau "dari yang buruk kepada yang baik."

Yesus seolah-olah berkata: "Coba perhatikan baik-baik. Dengar dan renungkan motivasi hakim yang paling egois dan tidak adil ini. JIKA orang sejahat dia saja, yang tidak punya rasa takut pada Tuhan maupun belas kasihan pada manusia, pada akhirnya mau bertindak hanya karena tidak mau diganggu... MAKA BAYANGKAN BETAPA JAUH LEBIH LAGI Bapa kalian di surga akan bertindak!"

Maknanya adalah untuk menciptakan kontras yang tajam antara si hakim dan Allah:

  • Hakim itu jahat, tetapi Allah itu Maha Baik.

  • Hakim itu tidak peduli, tetapi Allah sangat mengasihi anak-anak-Nya.

  • Hakim itu bertindak karena terpaksa, tetapi Allah bertindak karena karakter-Nya yang adil dan penuh kasih.

Dengan menyuruh kita "mencamkan" perkataan hakim itu, Yesus tidak sedang membandingkan Allah dengan hakim itu. Justru sebaliknya, Ia menggunakan kebobrokan si hakim untuk memperbesar dan memperjelas betapa luar biasanya kebaikan, keadilan, dan kesetiaan Allah. Jika yang terburuk saja bisa luluh, maka yang Terbaik (Tuhan) pasti akan jauh lebih mau mendengar dan menjawab seruan umat-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTBAH Lukas 18 : 1 - 8

LATIHAN SOAL BAHASA INGGRIS