KOTBAH Lukas 18 : 1 - 8



Judul Khotbah: "JANGAN SALAH ALAMAT DOA: Belajar dari Janda yang Gigih"

Pembukaan (Ice Breaker):

Selamat pagi/siang/malam, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Pernahkah Anda berurusan dengan customer service yang menyebalkan? Kita telepon, musiknya main terus, lalu disambungkan ke sana-kemari, dan ujung-ujungnya masalah kita tidak selesai. Rasanya lelah, diabaikan, dan tidak berdaya, bukan? Kita merasa harus terus-menerus menelepon, komplain, sampai suara kita didengar.

Hari ini, Yesus menceritakan sebuah kisah yang mirip. Ada seorang janda, orang yang paling tidak punya kuasa di masyarakat, yang berhadapan dengan "birokrasi" terburuk: seorang hakim yang korup dan tidak peduli. Tapi, Yesus menceritakan ini bukan untuk bilang bahwa Tuhan itu seperti hakim yang jahat itu. Justru sebaliknya! Yesus memakai perbandingan yang ekstrem ini untuk menjungkirbalikkan cara pandang kita tentang doa. Seringkali, tanpa sadar, kita berdoa seolah-olah kita sedang mengirim permohonan ke "alamat" yang salah. Mari kita lihat tiga hal penting dari kisah ini.


POIN 1: POTRET DOA YANG KELIRU: BERDOA KEPADA "HAKIM YANG JAHAT"

Yesus memulai dengan dua tokoh yang kontras:

  • Janda yang Lemah: Tidak punya uang, tidak punya koneksi, tidak punya kuasa. Modalnya hanya satu: kegigihan.

  • Hakim yang Jahat: Tidak takut Tuhan, tidak hormat manusia. Dia adalah gambaran dari kekuasaan yang absolut dan sewenang-wenang.

Seringkali, beginilah gambaran doa kita di kepala kita:

  • Kita merasa seperti janda itu: Lemah, kecil, dan permohonan kita hanyalah satu dari jutaan doa lainnya.

  • Dan kita (tanpa sadar) membayangkan Tuhan seperti hakim itu: Sosok yang jauh, sibuk, yang harus "diganggu" terus-menerus baru mau mendengarkan. Kita berpikir, "Kalau aku kurang berdoa, Tuhan nggak akan jawab. Kalau aku kurang pelayanan, Tuhan akan cuek."

Ini adalah alamat doa yang salah. Kita berdoa dengan mentalitas seorang pemohon kepada pejabat yang korup, bukan sebagai anak kepada Bapa. Doa kita menjadi sebuah usaha untuk "melelahkan" Tuhan, berharap Dia akhirnya menyerah dan memberi apa yang kita mau. Yesus justru mau membongkar mentalitas ini.


POIN 2: PERBANDINGAN YANG MENGUBAH SEGALANYA: BAPA KITA 180 DERAJAT BERBEDA!

Inilah inti dari perumpamaan ini. Yesus berkata, "Dengarkan apa kata hakim yang jahat itu!" Lalu Yesus membuat perbandingan yang luar biasa (logika dari yang buruk ke yang jauh lebih baik):

  • Jika hakim yang JAHAT & TIDAK PEDULI saja... pada akhirnya menolong karena egonya terganggu...

  • ...TERLEBIH LAGI Allah, BAPA-mu yang MAHA ADIL & PENUH KASIH!

Mari kita lihat bedanya:

| Hakim yang Jahat | Bapa Kita di Surga |

| :--- | :--- |

| Motifnya egois (supaya tidak diganggu) | Motif-Nya kasih (karena kita anak-Nya) |

| Menganggap janda itu pengganggu | Menganggap kita umat pilihan-Nya |

| Bertindak karena terpaksa | Bertindak karena rindu membela kita |

| Harus didesak baru bertindak | Sudah siap menolong pada waktu-Nya |

Inovasinya di sini: Kegigihan dalam doa bukanlah untuk mengubah pikiran Tuhan. Kegigihan dalam doa adalah ekspresi iman kita bahwa kita sedang berbicara kepada Bapa yang baik. Kita terus berdoa bukan untuk "memaksa" Tuhan, tapi untuk menyatakan, "Bapa, aku tahu Engkau baik. Aku tahu Engkau dengar. Aku percaya pada waktu-Mu, dan aku tidak akan pergi ke tempat lain. Aku akan tetap di sini, di hadapan-Mu." Doa yang gigih mengubah kita, bukan mengubah Tuhan. Doa itu melatih hati kita untuk terus percaya saat logika berkata mustahil.


POIN 3: TANTANGAN DI GARIS FINIS: APAKAH IMAN KITA CUKUP KUAT?

Di ayat terakhir, Yesus memberikan sebuah "plot twist" berupa pertanyaan yang menantang: "Akan tetapi, apabila Anak Manusia datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?"

Ini pertanyaan yang luar biasa. Coba perhatikan:

  • Yesus tidak meragukan kesetiaan Tuhan. Dia sudah menjamin, "Ia akan segera membenarkan mereka." Jawaban dan keadilan dari Tuhan itu PASTI.

  • Yang Yesus pertanyakan adalah kesetiaan kita. Saat jawaban terasa lama, saat dunia semakin tidak adil, saat kita lelah menunggu... apakah kita masih percaya? Apakah kita masih berdoa?

"Iman" yang Yesus cari bukanlah sekadar keyakinan di awal. Iman yang Dia cari adalah iman yang memiliki daya tahan. Iman yang seperti lari maraton, bukan lari sprint. Iman yang tetap setia mengetuk, bukan karena putus asa, tapi karena percaya sepenuhnya siapa yang ada di balik pintu.

Pertanyaannya untuk kita hari ini: Ketika Yesus melihat hidup kita—di tengah kesibukan, kekecewaan, dan penantian kita—iman seperti apa yang Dia temukan? Iman yang "on-off" tergantung keadaan, atau iman yang gigih seperti janda itu?


Penutup (Kesimpulan & Panggilan):

Jadi, mari kita pulang hari ini dengan tiga pemahaman baru tentang doa:

  1. Berhentilah berdoa ke 'alamat' yang salah. Tuhan bukan hakim yang jahat yang harus kita paksa.

  2. Kirimlah doa kita ke alamat yang benar: Kepada Bapa yang penuh kasih, yang rindu membela kita. Kegigihan kita adalah tanda cinta dan kepercayaan kita kepada-Nya.

  3. Bertahanlah dalam iman. Jawaban Tuhan itu pasti, tapi pertanyaan-Nya adalah, apakah kita mau setia menanti-Nya?

Mari kita berdoa bukan lagi dengan mentalitas seorang pengemis di depan pejabat yang kejam, tetapi dengan keyakinan seorang anak yang tahu bahwa pintu rumah Bapanya selalu terbuka. Teruslah datang, teruslah berdoa, teruslah percaya.

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANYAAN YANG MUNCUL DARI LUKAS 18 : 1-8

Sejarah Gereja di India