Allah yang berfirman dan berkarya


ALLAH YANG BERFIRMAN DAN BERKARYA
(Suatu Pendekatan Alkitabiah tentang Allah)[1]


1.      Pendahuluan
Penulis dan juga teolog Yahudi, Martin Buber, berdiam di sebuah pemukiman Jerman yang luas pada tahun 1932 dan telah terbangun pada suatu subuh untuk membaca cetakan percobaan sebuah buku. Ia bertemu dengan seorang yang menurutnya ‘seorang pemikir tua yang terkenal’, yang telah terjaga sebelum dia, dan atas permintaan pemikir tersebut, ia membacakan buku cetakan percobaan itu dengan suara nyaring. Ketika Buber selesai, orang tua itu berkata penuh semangat:
“Bagaimana engkau dapat menyebut ‘Allah’ dari waktu ke waktu? Bagaimana mungkin engkau mengharapkan para pembacamu memahami perkataan dalam arti yang engkau maksudkan? Apa yang engkau maksudkan dengan nama Allah adalah di luar jangkauan pemahaman dan pengertian manusia, sehingga dengan berbicara tentangNya, engkau sudah merendahkanNya sesuai dengan konseptualisasi manusia. Kata apa pun dalam percakapan manusia sudah begitu disalahgunakan, dicemarkan dan dinajiskan seperti kata ini! Kalau saya mendengar kata ‘Allah’, acapkali rasanya merupakan penghujatan.”
Buber katakan, ia terduduk diam. Kemudian ia merasakan seolah-olah suatu kekuatan yang dari atas mask ke dalam dirinya dan sebagai jawabannya, ia mengatakan bahwa ia hanya dapat memberi penunjuk. Jawaban itu adalah sebagai berikut:
“Ya, kata itulah yang paling berkesan dari semua kata manusia. Tidak ada yang sedemikian dinajiskan dan dinodai. Kalau saya mengambil konsep yang paling murni dan terbit dari khazanah para filsuf, saya hanya dapat memperoleh buah pemikiran yang tidak utuh. Saya tidak dapat menangkap kehadiran Dia, yang dihormati dan direndahkan oleh segala angkatan manusia dengan kehidupan dan kematian mereka yang hebat. Tetapi, ketika semua kegilaan dan khayalan hancur luluh, ketika mereka berdiri di hadapanNya dalam kegelapan yang paling mengerikan dan tidak lagi menyebut ‘Dia, Dia, tetapi mengeluh, ‘Engkau’, menyeru ‘Engkau’, mereka semua dengan satu kata, dan ketika mereka kemudian menambahkan ‘Allah’, bukankah mereka memohon dengan sangat kepada Allah yang sebenarnya, satu-satunya Allah yang hidup, Allah dari umat manusia? Bukankah Dia yang mendengar mereka? Dan justru karena itu, tidakkah kata ‘Allah’, kata permohonan, satu kata yang sudah menjadi nama, disucikan dalam bahasa segala waktu? Kita tidak dapat membersihkan kata Allah dan kita tidak dapat membuatnya utuh; tetapi dengan cemar dan cemar sebagaimana adanya, kita dapat mengangkatnya dan menaruhnya dalam perhatian yang besar.”
Orang tua itu bangkit mendatangi Buber dan menumpangkan tangannya ke atas bahunya dan berkata, “Mari, kita menjadi sahabat.”[2]

Apa yang dapat kita tangkap dari pembicaraan tulus itu hingga diangkat dalam pendahuluan ini? Ada hal yang sangat prinsipiil hendak ditegaskan ketika hendak berbicara tentang Allah, yakni pendekatan yang benar. Pendekatan atau pun metode memang bukan tujuan; tetapi bila pendekatan salah maka boleh jadi tidak sampai di tujuan.

Itu sebabnya, dalam tulisan ini hendak dibentangkan satu pendekatan terhadap pemahaman akan Allah. Pendekatan ini bertitik tolak dari pendekatan Alkitab yang memperkenalkan Allah dari sudut karya atau perbuatanNya. Allah Alkitab adalah Allah yang berfiman dan berkarya dalam sejarah umat manusia.    

2.      Problematika
Mengapa pendekatan Alkitabiah terhadap pemahaman akan Allah ini begitu urgen dan prinsipiil? Sebabnya ialah, berbagai pendekatan yang pernah dilakukan ternyata tidak membawa pencerahan. Problematika tidak terpecahkan, bahkan menjadi pemicu munculnya problematika tersebut. Sedikitnya ada tiga faktor yang merupakan indikator problematika itu, yakni:  
a.       Pikiran Manusia yang Terbatas
Orang Kristen bukanlah orang yang rasionalis, tetapi orang Kristen harus menjadi orang yang rasionil. Maksudnya ialah rasio manusia tidak mungkin mencapai keseluruhan pengetahuan firman, tetapi harus secara maksimal dipergunakan untuk mengerti firman Tuhan. Meskipun tidak mungkin mencapai kesempurnaan yang mutlak karena manusia bukan Allah.[3] Di sisi lain, Allah tidak dapat dimengerti, atau Allah terlalu besar untuk dimengerti oleh manusia.
b.      Keterbatasan Bahasa
Kehidupan Allah sebagai Tritunggal jelas tidak ada padanannya dalam pengalaman manusia. Manusia berbicara tentang misteri ini hanya karena Allah sendiri telah berbicara tentang hal ini dalam Alkitab. Sudah tentu timbul kesulitan dalam mengungkapkannya dengan bahasa yang dapat dimengerti. Sebagaimana dikutip oleh Bruce Milne, Agustinus, misalnya, dalam membahas kelayakan memakai istilah ‘oknum’ berhubungan dengan Tritunggal, mengatakan:
“Ketika ditanyakan tiga apa? Bahasa manusia sangat terbatas karena miskin dalam perbendaharaan kata. Namun dikatakan ‘tiga oknum’, bukan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya, tetapi untuk mengatakan sesuatu yang menyampaikan arti sekalipun terbatas.”[4]

Hal yang serupa juga ditemukan dalam pemakaian angka tiga berkaitan dengan keberadaan Allah. Dalam ketritunggalan ini dua atau tiga oknum tidak lebih besar daripada salah satu oknum.

Akibat keterbatasan bahasa ini, dalam sejarah Gereja telah dikemukakan pelbagai kiasan atau perumpamaan atau pu analogi untuk menggambarkan isi dogma atau upaya menerangkan tentang Allah. Hubungan antara Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus, pernah dihubungkan misalnya dengan hubungan antara matahari dan terangnya dan panasnya, atau pun dengan tiga ukuran sebuah ruangan, yakni panjang, lebar dan tingginya. Alhasil, segala analogi tersebut tidak memberi penjelasan yang cukup sebab segala perbandingan dan kiasan itu memanglah pincang.[5]
c.       Pendekatan Hellenis atau Filsafat
Pengajaran Alkitab tentang Allah atau pun ketritunggalan Allah telah diteliti  oleh beberapa gereja paska rasuli yang mencoba menjelaskan imannya secara rinci dalam konteks kebudayaan Yunani Romawi. Hasil perdebatan ini, sebagaimana dikutip oleh Bruce Milne, misalnya dituangkan dalam Pengakuan Iman Athanasius (kira-kira abad ke-8):
“Kita menyembah satu Allah dalam ketritunggalan, dan Tritunggal dalam kesatuan; tanpa mengacau-balaukan Oknum-oknum, atau membeda-bedakan keilahian.” 

Itu sebabnya, Tom Jacobs berkata:[6]
“Paham Allah dari filsafat lebih rasional. Tetapi abstrak. Bukan hanya dalam arti kabur atau umum, tetapi terutama karena berat sebelah. Paham Allah dari filsafat hanya menyangkut rasio. Padahal, kata ‘Allah’ punya arti yang jauh lebih menyeluruh. Tidak hanya rasio, tetapi juga hati dan bahkan tubuh terlibat. Dalam arti itu paham Allah dari filsafat adalah miskin. Juga kalau orang dapat menghubungkan pengertian itu dengan pengalaman yang konkret, filsafat tetap mengungkapkan satu aspek saja, yakni yang rasional.”

Dari pemaparan itu dapat dilihat bahwa pendekatan filsafat dalam memahami Allah tidaklah maksimal, dalam arti membawa seseorang kepada pengenalan yang benar akan Allah. Rasionya mungkin terasah dan bertumbuh, tetapi imannya belum tentu bertumbuh. Pikirannya mungkin semakin tajam, namun imannya mungkin saja semakin tumpul. Oleh karena itu, pendekatan ini tidaklah ideal.

Dengan melihat ketiga indikator di atas maka problematikanya jelas yakni pendekatan yang harus benar dan efektif dalam hal memahami Allah. Pendekatan apakah itu? Itulah yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini, yakni pendekatan alkitabiah. Maksudnya, pendekatan terhadap Allah bertitik tolak dari firman dan karyaNya. Dengan kata lain, problematikanya terletak dalam paradigma berteologi. Paradigma teologi yang hendak dikembangkan ialah teologi yang bertitik tolak atau berdasar atas Allah, bukan bertitik tolak dari manusia. Jadi, Allah – Manusia; bukan Manusia – Allah.

Problematia seperti ini sebenarnya telah digumuli ketika Karl Barth menggagasi lahirnya ‘Neo Orthodoks’ sebagai jawaban terhadap kekakuan atau kejumudan yang diakibatkan teologi liberal dari kaum liberalis pada waktu itu.[7] Metode historis kritis yang bertitik tolak dari filsafat Yunani juga dikritik. Cara berpikir filsafat Yunani melihat manusia menjadi subyek dan Allah menjadi obyek penelitian. Paradigma ini terbalik dengan teologi Neo Orthodoks. Teologi ini melihat Alkitab sebagai Firman yang diilhamkan oleh Allah secara verbal. Akhirnya, Allah Alkitab yang dilihatnya adalah Allah yang berfirman dan berkarya atau Allah sejarah, yang senantiasa aktif dan dinamis dalam sejarah karya keselamatanNya.

3.      Allah Menurut Alkitab

Siapakah Allah Alkitab itu? Allah Alkitab ialah Allah yang diberitakan dalam Alkitab, yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub atau lebih khusus, Allah dan Bapa Yesus Kristus. Ungkapan ‘Allah Abraha, Ishak dan Yakub’ dan ungkapan ‘Allah dan Bapa Yesus Kristus’ secara prinsipiil mempunyai arti yang sama.[8] Kedua ungkapan ini mau menegaskan bahwa Allah, yang diberitakan dalam Alkitab, bukanlah Allah yang asing. Ia adalah Allah, yang telah menyatakan diriNya kepada manusia dalam sejarah, yaitu sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub dalam sejarah Israel dan juga sebagai Allah dan Bapa dalam sejarah Yesus Kristus. Tanpa penyataan Allah, manusia tidak dapat mengenalNya. Penyataan Allah dan manusia erat berhubungan.  

Allah Alkitab itu akan semakin jelas bila ditelusuri dari pendekatan atau metode yang dipakai dalam teologi alkitabiah, yakni teologi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tentu pendekatan ini dirujuk dari pendekatan yang digunakan oleh Alkitab itu sendiri. Pendekatan yang hendak dipaparkan di sini adalah pendekatan yang digagasi oleh seorang sarjana Perjanjian Lama dari Jerman, yakni Gerhard von Rad. Dalam dua julid bukunya, Old Testament Theology, ia memperkenalkan kata kunci  yang mewarnai seluruh pemaparannya, yakni ‘Heilsgeschichte’.. Heilsgeschichte secara sederhana berarti sejarah karya keselamatan. Pada bagian pendahuluan bukunya, ia mengatakan bahwa teologi PL berbicara tentang Allah yang berkarya dalam sejarah karya keselamatanNya di dunia. [9]

Christoph Barth kemudian mengembangkan gagasan von Rad dalam empat jilid bukunya, Theologia Perjanjian Lama. Ch. Barth mengatakan ada sembilan pokok-pokok teologi PL yang merupakan tonggak-tonggak sejarah karya keselamatan Allah.[10] Pokok-pokok teologi itu dimuat dalam empat jilid bukunya. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:   

NO.
SUBYEK
PREDIKAT
OBYEK
KETERANGAN
1.
Allah
menciptakan
langit dan bumi

2.
Allah
memilih
para bapa leluhur Israel

3.
Allah
membawa
Israel
keluar dari Mesir
4.
Allah
membimbing
umatNya
di padang gurun
5.
Allah
berfirman

di gunung Sinai
6.
Allah
memberikan
tanah Kanaan
Kepada Israel
7.
Allah
mengangkat
raja-raja
di Israel
8.
Allah
memilih
Sion / Yerusalem

9.
Allah
mengutus
nabi-nabi


Dari tabel itu dapat dilihat:
·         Subyek dari semua karya itu adalah Allah. Itu berarti, Allah berkarya di sepanjang sejarah.
Seluruh PL membentangkan Allah yang berkarya.
·         Sembilan pokok itu memiliki predikat (full verb) yang menunjuk kepada pekerjaan tertentu. Itu berarti, Allah bekerja dalam sejarah. PekerjaanNya itu merupakan rangkaian karya keselamatanNya.

Gagasan serupa juga dikemukakan oleh Eichrodt dalam bukunya, Theology of the Old Testament. Pendekatan yang dia perkenalkan juga sama, yakni Allah yang telah berkarya atau bekerja memilih umat Israel dari antara bangsa-bangsa dan masuk ke dalam kesepakatan yang mengikat mereka, yang mempunyai sifat sebuah kontrak. [11] Dalam kontrak ini, Allah berjanji memegang sisi perjanjianNya, dengan cara senantiasa bekerja dan berkarya di sepanjang sejarah umat Israel.

Demikian juga pendekatan teologi Perjanjian Baru. Menurut Donald Guthrie, seluruh tema teologi Perjanjian Baru haruslah merupakan ajaran mengenai Allah, karena ini merupakan dasar bagi setiap teologi yang berpusat pada Allah. Pendekatan pada pokok persoalan bertitik tolak pada keyakinan bahwa PB adalah penyataan Allah bukan hasil penemuan manusia.[12]

Demikianlah Allah Alkitab itu dikenal dari hakekatNya, sifatNya dan nama yang diberikan oleh Allah sendiri. Pada Allah segala sifat bertindih tepat oleh karena segala sifat adalah sempurna. Sifat yang satu tidak membatasi sifat yang lain. Demikian juga dengan namaNya. Manusia tidak dapat memberikan nama kepada Allah, oleh karena manusia tidak mengenal akan Tuhan. Tetapi Tuhan berkenan memberikan nama-nama bagi diriNya sendiri di dalam penyataanNya kepada manusia.[13] Yang memberikan nama ialah yang memiliki atau menguasai sesuatu (Kej. 2:19; Mazm. 49:12).Allah memberikan nama bagi diriNya dan memberikan hak untuk menyebut akan Dia dengan nama-nama tadi. Sekarang manusia mempunyai Allah, oleh karena Ia memberikan diriNya kepada manusia. Jadi berbicara tentang nama-nama Tuhan berarti berbicara tentang kasih Tuhan yang telah menjelma dalam Yesus Kristus.

Nama adalah penyataan dari yang mempunyai nama. Allah memberikan nama bagi diriNya berarti, bahwa Ia memberikan penyataan tentang diriNya kepada manusia. Memang di dalam kasihNya Allah bahkan sudi memakai kata-kata dan pengertian yang dapat dimengerti oleh manusia. Dalam hal ini ada empat nama yang biasa dipakai untuk Allah dalam Alkitab, yakni Yhwh, El/Elohim, Adonai dan Bapa.

4.      Allah Yang Berfirman dan Berkarya
Iman Perjanjian Lama berhubungan dengan beberapa peristiwa di dalam sejarah. Orang berkeyakinan, bahwa Allah telah bertindak di dalam peristiwa-peristiwa tertentu.[14] Itu sebabnya, terhadap pertanyaan “Siapakah Allah?”, Perjanjian Lama menjawab dengan cara yang berbeda sama sekali. Jawabannya jelas dan langsung. Alkitab tidak memperdebatkan keberadaan Allah, tetapi dengan langsung menerimanya sebagai fakta. Yang pasti. Perjanjian Lama memberikan banyak pertanyaan mendalam tentang realitas Allah dan tindakanNya. Pertanyaan dan pencarian mereka dilakukan dalam konteks komunitas yang sangat menyadari realitas Allah yang disembahnya.[15] Dalam hal ini, dunia pemikiran abstrak adalah asing bagi konsep Allah dalam PL. PL mendefenisikan Allah secara fungsional, yaitu dengan menelusuri kerelevansianNya dalam kehidupan dan pengalaman manusia, bukan mendefenisikanNya secara metafisis dengan menanyakan Ia terbuat dari bahan apa.

Inilah cara PL berbicara mengenai Allah. PL menjawab ‘Siapakah Allah’ dengan memberi tekanan sepenuhnya pada bagaimana Allah berelasi dengan dunia dan penghuninya. PL tidak pernah menganalisis Dia dengan cara yang abstrak dan metafisis. Berita-berita para nabi, demikian juga kitab-kitab sejarah, menyatakan bahwa Allah akan ditemukan di dalam berbagai peristiwa kehidupan nasional Israel. Mereka menekankan seutuhnya kepada pandangan Allah yang bertindak. Allah ditemukan umatNya dalam peristiwa biasa sehari-hari dan bukan melalui perdebatan intelektual yang berliku-liku.
Demikianlah Alkitab berbicara tentang hakekat Allah. Hakekat Allah ditemukan dalam realita bahwa Ia adalah Sekutu umatNya. Hakekat ini diungkapkan di dalam segala pengungkapan hakekatNya yang beraneka ragam, juga diungkapkan dalam penyataanNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Tuhan Allah adalah Mahatinggi. Tuhan yang demikian tinggi ini menurut Alkitan, bukan karena Tuhan Allah adalah gaib, juga bukan karena tabiat ilahinya atau ketuhananNya yang tidak mungkin (mustahil) ditembus oleh akal manusia. Alkitab bersaksi akan ketinggian Tuhan Allah itu bukan karena ia berspekulasi tentang Allah, bukan karena Israel berpikir dengan memakai hokum akal, melainkan karena Israel mengenal Allahnya dari Firman dan karyaNya.

Tuhan tidak dapat dilihat. Menurut Alkitab, hakekat Tuhan yang tidak dapat dilihat ini bukan dihubungkan dengan tabiatNya yang gaib, yang berada di luar batas-batas pengamatan manusia. Tuhan tidak dapat dilihat justru menunjukkan persekutuanNya yang akrab dengan manusia yang dikasihiNya. Dengan firman dan karyaNya manusia dapat bersekutu dengan Tuhan.

Tuhan Allah adalah kudus. Menurut Alkitab, pengertian kudus di sini tidak pernah dipisahkan daripada hubungan Tuhan Allah dengan umatNya. Dalam kekudusanNya, Tuhan berfirman dan berkarya.  Demikian juga Tuhan Allah adalah kekal. Menurut Alkitab, kekekalan Tuhan Allah di sini adalah kehadiran nyang aktif, yaitu kehadiran di dalam firman dan karyaNya sebagai sekutu umatNya. Tuhan Allah tidak berubah. Menurut Alkitab hal ini bukan berarti Ia tidak begerak, seperti gunung atau batu yang mati. Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama justru di dalam Firman dan karyaNya, supaya menjadi sekutu umatNya.

Tuhan Allah adalah esa. Menurut Alkitab, keesaan ini menunjukkan bahwa bagi Israel, berdasarkan Firman dan KaryaNya, tidak ada Allah yang lain, kecuali Tuhan. Kata ‘ekhad’ dalam pengakuan iman Israel sekali-kali bukan guna menekankan kepada satunya angka secara matematis. Sebab hal yang demikian memang tidak pernah dihadapi oleh Israel. Israel tidak pernah diperhadapkan dengan persoalan: ada Allah satu atau lebih dari satu. Bagi Israel, Tuhan adalah satu-satunya yang ilahi, atau yang lebih tepat Tuhan adalah satu-satunya Tuhan. Tuhan itu esa juga bermaksud mengungkapkan bahwa Tuhan adalah esa di dalam Firman dan karyaNya, bukan di dalam bilangan atau jumlahnya.[16]

Demikianlah dibentangkan oleh Alkitab hakekat Allah yang sungguh-sungguh nyata di dalam Firman dan karyaNya. Firman dan karya ini ditemukan di dalam Alkitab. Itu sebabnya, mengenal Allah dengan pendekatan alkitabiah berarti mengenal Allah di dalam Firman dan karyaNya.

5.      Trinitas Ekonomis / Immanen / Dinamis
Alkitab berbicara tentang Allah sebagai tiga oknum yang dapat dibedakan, yang biasa disebut sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Istilah teknis untuk gagasan ini, Trinitas atau Tritunggal, tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi termasuk golongan istilah yang bersifat alkitabiah dalam arti mengungkapkan dengan jelas ajaran Alkitab.  

Ada empat alasan membentangkan pendekatan Trinitas ekonomis ini,  yakni:
a.       Mengapa memilih pokok teologi Trinitas ? R.A. Finlayson mengatakan:[17]
“Doktrin mengenai Allah Tritunggal inilah ajaran Kristen yang paling khas, dan mencakup seutuhnya segenap unsur utama kebenaran yang diajarkan agama Kristen mengenai adanya kegiatan Allah dalam hanya satu istilah umum yang sangat luhur.”

Inilah alasan pertama, yakni doktrin Trinitas memegang peranan penting dalam tataran teologi Kristen. Terutama dalam hubungannya dengan pluralisme agama. Roman Williams menyimpulkan tulisannya tentang topik Tritunggal dan Pluralisme: “Misteri Tritunggal adalah dasar terdalam pluralisme.”[18] Dari kesimpulan itu dapat dipahami betapa pentingnya mengembangkan doktrin Trinitas, termasuk dalam era pluralisme agama.

b.      Mengapa memilih pendekatan Trinitas ekonomis/immanen/dinamis?
Seiring dengan penuturan Ted Peters: “Theology is an ongoing task with which Christian are never finished because something new is always placed on its agenda.”[19] Artinya, teologi merupakan tugas orang Kristen yang tidak pernah selesai karena sesuatu yang baru selalu muncul dalam agendanya. Dengan kata lain, seiring dengan perjalanan waktu, teologi juga senantiasa berkembang. Itulah yang disebut dinamika. Ketika abad ke-21 tiba, millennium ke-3, era post modern, era pluralisme dan globalisasi, maka teologi juga harus bertumbuh seiring dengan itu jika hendak tetap exist dan up to date.

Demikian juga halnya dengan doktrin Trinitas. Sebagaimana halnya dengan Kristologi dan pokok-pokok dogmatis lainnya, doktrin Trinitas dibangun dengan proses berteologi, dengan refleksi iman, analisis dan sintesa berpikir manusia. Oleh karena itu, maka rumusan doktrin Trinitas tersebut dapat juga diposisikan sama dengan rumusan teologi lainnya. Dengan demikian Trinitas adalah suatu teks teologi yang dapat direinterpretasi dan direformulasi guna memperoleh makna yang aktual dan relevan di setiap kondisi dan bidang kehidupan.
Untuk itulah dipilih pokok teologi Trinitas ekonomis / dinamis / immanen dan sekaligus alasan pemilihan judul kedua. Mengapa demikian ? Sebagaimana ditegaskan oleh C. Groenen:[20]
“Trinitas Kristen bukan masalah matematika atau arithmatika. Dogma itu dalam alam pikiran Yunani dirumuskan untuk menyelamatkan, mengamankan Trinitas ekonomis, tata penyelamatan. Trinitas ekonomis agaknya jauh lebih mudah dipahami dan dihayati, jauh lebih relevan.”

Dengan kata lain, Trinitas ekonomis / dinamis / immanen hendak menghindarkan kerumitan, kekakuan atau kejumudan, yang diakibatkan oleh berbagai delik dogmatis seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan teologi.

Selanjutnya, Trinitas ekonomis / dinamis atau immanen ini akan dibentangkan dengan metode hermeneutika. Mengapa demikian ? Dalam perspektif hermeneutika semua bentuk monopoli kebenaran dipertanyakan karena makna teks terlalu kaya untuk direduksi menjadi satu kebenaran. Dengan demikian, doktrin Trinitas dengan prinsip hermeneutika ini dapat mendasari penerimaan pluralisme, di mana pluralisme merupakan sarana untuk mengungkapkan kepenuhan misteri Tuhan. 
   
c.       Alasan ketiga ialah tantangan kontemporer dan mendasar bagi agama-agama zaman ini yakni pluralisme. Dengan pluralisme kenyataan kemajemukan agama-agama tersebut tidak saja dilihat sebagai kenyataan sosiologis belaka. Ada pengalaman yang sungguh baru dirasakan setiap agama. Pengalaman baru ini dilukiskan oleh Martin L. Sinaga dengan metafora sebagai berikut:[21]
     “Setiap agama ditempatkan sebagai salah satu penari dalam relasi dengan agama yang lain dan membentuk tarian bersama. Kalau agama tersebut mau tetap survive dalam konteks baru ini, ia harus mampu memberi respons keterbukaannya terhadap keadaan pluralisme tersebut, seperti seorang penari yang tidak boleh menari sendirian lagi, tetapi harus mau bergerak seturut dengan irama bersama dan mampu memberi jawaban terhadap gerak (bahkan kreatifitas) teman menarinya, agar ia tidak tersandung jatuh ataupun menginjak kaki penari lainnya, lalu terpaksa dikeluarkan dari arena tarian karena mendesakkan gaya tertentu dan terkesan sewenang-wenang.”

Pelajaran dapat dipetik dari metafora itu, yakni menjawab tuntutan perkembangan zaman maka agama harus senantiasa menjalin kerjasama dengan agama lain. Oleh karena itu, pertanyaan yang relevan dari seorang Kristen ialah apa artinya menjadi seorang Kristen di dalam suatu dunia yang bersifat majemuk secara kultural, religius dan ideologis.[22] Dengan pemaparan serupa dapat ditegaskan bahwa tantangan teologis paling besar dalam kehidupan beragama sekarang ini, adalah: bagaimana seorang beragama bisa mendefenisikan dirinya di tengah-tengah agama-agama lain. Atau istilah yang lebih teknis, bagaimana berteologi dalam konteks agama-agama.[23]

d.      Alasan keempat, sebagaimana Hans Kung senantiasa menasihatkan: Think globally, act locally (berpikir global, menyeluruh namun bertindak lokal). Semboyan semacam ini mengutarakan keinginan untuk mengkombinasikan berbagai kekayaan pemikiran global yang bisa diserap dari segala penjuru dunia dengan komitmen untuk melakukan langkah nyata pada aras lokal.[24] Think globally, berarti ada kesediaan dan keterbukaan untuk mencari inspirasi seluas-luasnya akan kekayaan pengalaman dari berbagai sudut dunia; sedang act locally, berarti memberi aksen kepada komunitas konkret yang dihadapi di lapangan. Dalam hal berpikir global maka perlu dibentangkan doktrin Trinitas ekonomis / dinamis atau immanen secara jelas dan ilmiah. Selanjutnya, dalam hal bertindak lokal maka konteks Indonesia akan menjadi fokus kontekstualiasi dan aplikasi. Itulah sebabnya maka bahasan dalam tulisan ini juga perlu direlevansikan dengan konteks Indonesia.

Singkatnya, pendekatan Trinitas Ekonomis/Immanen/Dinamis ini sangat sesuai dengan pendekatan alkitabiah tentang Allah yang berfirman dan berkarya.

6.      Kesimpulan

a.       Allah Alkitab adalah Allah yang berfiman dan berkarya. Melalui Firman dan karya ini, Allah menyatakan diriNya kepada umat manusia. Manusia hanya mengenal Allah sebatas Allah menyatakan diriNya. Itu sebabnya, manusia harus merendahkan diri di hadapan Allah memohon berkat dan pertolonganNya.

b.      Allah berfirman dan berkarya. Firman dan karya Allah ini dituangkan di dalam Alkitab. Itu sebabnya Allah dikenal melalui kesaksian Alkitab. Di dalam Alkitab dibentangkan berbagai karya dan perbuatan Allah di medan sejarah.

c.       Teologi Alkitab juga sejajar dengan pendekatan ini. Teologi Alkitab selalui dimulai dari pertanyaan akan tindakan Allah dalam sejarah karya keselamatanNya. Pokok-pokok teologi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga menunjukkan karya dan perbuatan Allah ini.

d.      Pendekatan alkitabiah ini juga relevan dengan pendekatan Trinitas ekonomis/immanen/dinamis. Hal itu berarti, Allah hendak dilihat dari firman dan karyaNya. Mengenal Allah dari perbuatanNya, itulah yang hendak diperkenalkan melalui pendekatan Trinitas ekonomis/immanen/dinamis ini. Pendekatan ini diharapkan menolong setiap orang percaya semakin bertumbuh dalam iman dan dalam persekutuan yang intim dengan Allah.













DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J.J. Ch                      Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen (Jakarta: BPK GM, 2001)
Banawiratma, J.B (ed.)           Kristologi dan Allah Tritunggal (Yogyakarta: Kanisius, 1986)
Barth, Ch                                Theologia Perjanjian Lama 1 (Jakarta: BPK GM, 1991)
Davidson, R                            Alkitab Berbicara (Jakarta: BPK GM, 2001)
D’Costa (ed.), C                     Mempertimbangkan Kembali Keunikan Agama Kristen (Jakarta: BPK GM, 2002)
DGD                                       Iman Sesamaku dan Imanku (Jakarta: BPK GM, 1997)
Douglas, J.D (peny.)               Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996)
Drane, J                                   Memahami Perjanjian Lama III  (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2003)
Eichrodt, W                            Theology of the Old Testament (London: SCM Press, 1967)
Guthrie, D                               Teologi Perjanjian Baru 1 (Jakarta: BPK GM, 1992)
Hadiwijono, H                                    Iman Kristen (Jakarta: BPK GM, 2006)
Jacobs, T                                 Paham Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2002)
Kung, H dan Kuschel, K.J      Etik Global (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Lane, T                                    Runtut Pijar (Jakarta: BPK GM, 1990)
Milne, B                                  Mengenali Kebenaran (Jakarta: BPK GM, 1993)
Niftrik, G.C.van&Boland,B.J Dogmatika Masa Kini (Jakarta: BPK GM, 2001)
Peters, T                                  God – the World’s Future (Minneapolis: Fortress Press, 1992)
Rachman, B.M                        Islam Pluralis (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004)
Rad, G. von                            Old Testament Theology, Vol. 1 (New York & Evanston: Harper & Row Publishers, 1962)
Soedarmo, R                           Ikhtisar Dogmatika (Jakarta: BPK GM, 2000)
Solle, D                                   Thingking about God (London: SCM Press, 1991)
Tim Balitbang PGI (Peny.)     Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia (Jakarta: BPK GM, 2000)
Tong, S                            Allah Tritunggal (Surabaya: Momentum Christian Literature, 2003)
Vardy, P                                  Allah Para Pendahulu Kita (Jakarta: BPK GM, 1992)



[1] Tulisan ini dipersembahkan kepada Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti dalam rangka Jubileum 75 tahun oleh Pdt. Leo Dunan Sibarani, MTh. Penulis melayani sebagai Dosen bidang Biblika Perjanjian Lama di STT HKBP Pematangsiantar. Penulis juga pernah melayani sebagai dosen selama 4 tahun di Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP sebelum menerima SK dari Pimpinan HKBP menjadi dosen di STT HKBP.
[2] Peter Vardy, Allah Para Pendahulu Kita (Jakarta: BPK GM, 1992), hlm. 1-3. Bnd. Juga Dorothee Solle, Thingking about God (London: SCM Press, 1991), hlm. 183-184. Di sana Dorothee Solle mengutip pendapat Buber yang mengatakan: You know always in your heart that you need God more than everything; but do you know too that Good needs you – in the fullness of this eternity needs you? Di sini Buber hendak menegaskan bahwa perjumpaan manusia dengan Allah merupakan titik berangkat pendekatan yang benar akan Allah.
[3]   Stephen Tong, Allah Tritunggal (Surabaya: Momentum Christian Literature, 2003), hlm. 10.
[4]   Bruce Milne, Mengenali Kebenaran (Jakarta: BPK GM, 1993), hlm. 88-89.
[5]   G.C. van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: BPK GM, 2001), hlm. 555-556. Mereka juga menegaskan bahwa istilah Trinitas sebenarnya dipinjam dari bidang lain, yakni dari ilmu filsafat Yunani. Dengan kata pinjaman ini maka isinya yang semula begitu saja diambil alih.
[6] Tom Jacobs, Paham Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 68-69.
[7] Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK GM, 1990), hlm. 215.
[8]  J.J. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen (Jakarta: BPK GM, 2001), hlm. 12.
[9]   Gerhard von Rad, Old Testament Theology, Vol. 1 (New York & Evanston: Harper & Row Publishers, 1962), hlm. v-vi.
[10] Ch. Barth, Theologia Perjanjian Lama 1 (Jakarta: BPK GM, 1991), hlm. 19-20. Di sana dijelaskan bahwa  sembilan pokok teologi itu dimuat dalam empat jilid bukunya. Pokok teologi I – V dimuat dalam jilid 1, pokok teologi VI-VII dimuat dalam jilid 2, pokok teologi VIII dalam jilid 3 dan pokok teologi IX dalam jilid 4.
[11] W. Eichrodt, Theology of the Old Testament (London: SCM Press, 1967), hlm. 1-2. Gagasan ini juga dikembangkan oleh John Rogerson dalam bukunya, Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula (Jakarta: BPK GM, 1997), hlm. 104-105. Di sini Rogerson menambahkan bahwa dalam ikatan perjanjian (karath berit) itu Israel sendiri tak pernah melakukan apa pun hingga berhak memperoleh hak itu. Pada pihaknya, Israel berkewajiban mempertahankan kontrak itu dengan hidup setia kepada Allah, menyembahNya semata-mata dan menaati perintah-perintahNya.
[12] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1 (Jakarta: BPK GM, 1992), hlm. 38-39. Di sana juga dijelaskan bahwa bertitik tolak dari pendekatan itulah dibentangkan teologi PB yang dituangkan dalam 3 jilid bukunya. Jilid 1 tentang Allah, Manusia, Kristus; jilid 2 tentang Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen; jilid 3 tentang Eklesiologi, Eskatologi, Etika. Semua ini membentangkan sejarah karya keselamatan Allah di dunia.
[13]  R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika (Jakarta: BPK GM, 2000), hlm. 101-102.
[14] Robert Davidson, Alkitab Berbicara (Jakarta: BPK GM, 2001), hlm. 21.
[15] John Drane, Memahami Perjanjian Lama III  (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2003), hlm. 4-5.
[16] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK GM, 2006), hlm. 99-100.
[17]R.A. Finlayson, “Tritunggal, Trinitas”, dalam J.D. Douglas (peny.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996), hlm. 490.
[18]Roman Willliams, “Tritunggal dan Pluralisme”, dalam Cavin D’Costa (ed.), Mempertimbangkan Kembali Keunikan Agama Kristen (Jakarta: BPK GM, 2002), hlm. 27.
[19] Lih. Ted Peters, God – the World’s Future (Minneapolis: Fortress Press, 1992), hlm. 333.
[20] C. Groenen, “Kristologi dan Allah Tritunggal”, dalam J.B. Banawiratma (ed.), Kristologi dan Allah Tritunggal  (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 38-39.
[21] Martin L. Sinaga, “Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia”, dalam Tim Balitbang PGI (Peny.),  Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia (Jakarta: BPK GM, 2000), hlm. 1-2.
[22]  DGD, Iman Sesamaku dan Imanku (Jakarta: BPK GM, 1997), hlm. vii.
[23]  Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. v.
[24]  Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel, Etik Global (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. xxviii.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTBAH Lukas 18 : 1 - 8

PERTANYAAN YANG MUNCUL DARI LUKAS 18 : 1-8

Sejarah Gereja di India