Gereja sebagai pemerintahan dan Realitas Sosial Allah
Gereja sebagai pemerintahan dan Realitas Sosial Allah pada Masa Pendemic Covid-19 terhadap Orang-Orang Miskin
1.1.Pendahuluan
Tulisan
ini bertujuan untuk membahas realitas sosial Allah dan otoritas umat-Nya dalam
menjawab persoalan bencana yang kini di hadapi oleh dunia yaitu pendemic
Covid-19, khususnya dalam menghadapi persoalan bagi orang-orang yang menderita
kemiskinan di tengah-tengah pendemic Covid-19. Pemerintahan, realitas Sosial
Allah dan otoritas umat-Nya seringkali dipahami Gereja hanya sebagai
pemerintahan dan otoritas rohani saja, tetapi tidak mencakup jasmani, sehingga
mengalami hambatan dan ketidakmampuan merelevansikan ajaran tersebut dalam
masalah global yang terjadi saat ini, seperti wabah pendemic Covid-19 Oleh
karena itu, tulisan ini bertujuan untuk melihat Allah sebagai pribadi yang
berdaulat dan menyatakan
pemerintahan-Nya yang menempatkan orang percaya
berada dalam pemerintahan-Nya untuk terlibat aktif dalam tanggungjawab
di dunia sebagai representasi Allah, khususnya dalam konteks kemiskinan pada
masa pendemic Covid-19 ini.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
peranan Gereja sebagai pemerintahan dan realitas sosial Allah ditengah pendemic
Covid-19 terhadap orang-orang miskin?
1.3.
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan merupakan suatu upaya menemukan jawaban atas pokok masalah
penelitian. Oleh karena itu berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan
penulisan adalah :
Pertama,
supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana Allah yang transenden memandang
umat-Nya yang mengalami penderitaan di tengah pendemic Covid-19.
Kedua,
melihat peranan Gereja sebagai pemerintahan dan realitas sosial Allah ditengah
pendemic Covid-19 terhadap orang-orang miskin.
1.4.
Hipotesis
Allah
sebagai pribadi yang berdaulat dan
menyatakan pemerintahan-Nya yang menempatkan orang percaya berada dalam pemerintahan-Nya (Gereja) untuk
terlibat aktif dalam tanggungjawab di dunia sebagai representasi Allah,
khususnya dalam konteks kemiskinan pada masa pendemic Covid-19 ini
BAB II
(Landasan Teori)
2.1.
Terminologi dan Etimologi
Kata “miskin” yang berasal dari bahasa Yunani: ptochos, memiliki arti kondisi miskin
yang sama sekali tidak mempunyai apa-apa dan menderita. Kata kemiskinan ini tidak
hanya mengarah kepada orang yang mengalami kemiskinan secara material tetapi
juga merujuk kepada orang-orang yang mengalami kemiskinan secara jiwa.[1]
Dapat dikatakan bahwa orang yang miskin secara material ini juga mengalami
kemiskinan jiwa, yang membuat mereka menjadi merasa tidak bahagia dan
terasingkan. Dalam situasi bermasyarakat, orang-orang miskin dianggap hina,
golongan terbawah dan sampah masyarakat.
2.2. Kemiskinan Menurut Para
Ahli
·
Gustavo Guitterez
Menurut Gutierrez, kemiskinan
bukanlah hanya secara material (ketiadaan kebutuhan bahan pokok ekonomi),
tetapi juga kemiskinan spiritual, yaitu suatu sikap inferior yang tak tersentuh
oleh kebutuhan dunia. Kemiskinan material sebagai suatu ‘scandalous condition’ dan kemiskinan spiritual sebagai suatu sikap
keterbukaan kepada Allah, menghasilkan komitmen, solidaritas dan protes. Sadar
akan situasi dan realitas kemiskinan, ia menyatakan bahwa, untuk melayani orang
miskin kita harus bergeser kepada political
action. Orang-orang miskin dalam konteks teologi pembebasan mencakup
dimensinya yang luas. Mereka yang didominasi, dieksploitasi, didiskriminasi,
dimarjinalisasi. Orang-orang miskin merupakan suatu universe, ketika aspek sosial ekonomi menjadi dasar. Bagi
Gutierrez, kemiskinan berarti kematian, ketiadaan makanan, perumahan,
kesehatan, pendidikan, eksploitasi pekerja, pengangguran, kehilangan respek
kepada martabat manusia, pembatasan kebebasan personal, politik dan agama.[2]
·
S.A.E Nababan
Kaum miskin adalah mereka
yang betul-betul berada dalam kekurangan, kemelaratan dan kesengsaraan. Milik
mereka telah dirampas, mereka lapar, haus, tak mempunyai tempat berteduh,
tertindas, diperas dan diburu-buru, mereka kehilangan unsur-unsur minimal
hidup. Dalam keadaan demikian, miskin selalu berarti kekurangan materiil,
kehilangan jaminan sosial dan ekonomis, kehilangan hak minimal hidup,
kelemahan, dan ketidakmampuan.[3]
·
Malcolm Brownlee
Menurut Brownlee, kemiskinan bukanlah
hanya secara material saja, tetapi juga terdapat kemiskinan jiwa di dalamnya
yang dapat digambarkan sebagai keadaan yang serba kekurangan dalam segala hal:
kekurangan pangan, sandang, lapangan kerja, nilai-nilai hidup, kebahagiaan dan
kegembiraan, kepenuhan hidup, kekurangan cita-cita dan impian, tekad dan
kemauan, kemungkinan dan kesempatan, kekurangan keadilan, kebebasan,
perdamaian.
BAB III
(Analisa)
3.1.Situasi
atau Konteks yang Terjadi
Ditengah
serangan pandemik Covid-19 yang terus menerus semakin merebak luas dengan cepat
keberbagai tempat, telah menimbulkan phobia kepada sebagian besar populasi
dunia. Dalam tempo ±
5 bulan telah ada 200 Negara yang
terpapar Covid-19. Sangat banyak korban terinfeksi sebab penularannya begitu
cepat dan ganas. Berita tentang kematian terdengar setiap hari. Grafik jumlah
yang terpapar kian hari semakin meningkat. Sementara angka kematian lebih
tinggi dibanding angka kesembuhan.
Semua
tercengang atas kehadiran pandemik ini yang notabene belum pernah terjadi
sebelumnya. Serangan Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan baik sosial
maupun pribadi dengan begitu drastis. Tidak ada yang berdaya menghadapi
serangan musuh kasat mata ini. Semua dipaksa bersembunyi di rumah
masing-masing. Manusia yang sebelumnya mencari untuk kemakmuran, kebahagian dan
masa depan, kini cemas menyelamatkan nyawanya. Semua kegiatan dan rencana
sekalipun yang sangat penting diberhentikan. Sebagaian besar penduduk bumi
menderita ketakutan.
Ditengah
situasi yang menggangu kenyamanan manusia ini, terdapat beragam situasi dan
penderitaan terutama menyangkut bidang ekonomi dan kebutuhan hidup. Sebagian
masyarakat yang memiliki harta dan tabungan, hanya mendapat tuntutan serius untuk tetap stay
home menjaga dirinya dan keluarga untut tidak terpapar karena kontak sosial.
Sementara masyarakat miskin dan berkecukupan, ditengah tuntutan pemerintah
terlebih tuntutan ancaman Covid-19 untuk mengurung diri di kediaman
masing-masing, masih memiliki pergumulan bagaimanakah caranya manusia untuk
dapat tetap bertahan hidup? Dengan demikian kehidupan orang-orang miskin
semakin menderita dan semakin merajalela karena hanya bisa menerima kenyataan
hidup. Tempat tinggal tidak ada, untuk memenuhi
kebutuhan hidup dana tidak ada. Yang dapat dilakukan hanya dengan
menunggu dan menantikan pertolongan dan perubahan sistem yang sudah ada.
BAB IV
(Pembahasan)
3.1.Allah
dan Pemerintahan-Nya
Didalam
pembahasan ini akan dilihat pemahaman mengenai pemerintahan Allah, menurut Choan-Seng
Song, melihat bahwa segala sesuatu pemberitaan Yesus sesungguhnya adalah
pemerintahan Allah. dapat dilihat bahwa Yesus tanpa pemerintahan Allah adalah
Yesus yang tidak lengkap, menurutnya Gereja telah mengalami kekeliruan dengan
hanya memberitakan Yesus tanpa pemerintahan Allah. Karena pemberitaan yang
demikian akan menghilangkan visi dari pemerintahan Allah. Istilah kerajaan
Allah baginya hanya memberikan kesan iman yang hanya melihat kerajaan Allah
sebagai suatu tempat penantian, dan hanya cenderung memperkuat ketidakperdulian
sosial dan memperkuat sikap negative terhadap keterlibatan dalam dunia,[4]
dalam arti melihat orang-orang disekitar diri sendiri, dan hanya terfokus
kepada Tuhan saja. Disini terlihat bahwa fungsi salib (Horizontal dan Vertikal)
tidak seimbang, dimana Gereja dan manusia, lebih memilih untuk bersikap
vertical hanya peduli terhadap hubungannya dengan Tuhan saja, tanpa melihat
aspek sosial sesamanya. Herman Bavinck juga menegaskan bahwa pemerintahan Allah
yang providensial memiliki kekhususan atas umat-Nya[5]. Melalui
definisi ini jelas bahwa pemerintahan
Allah terhadap realitas sosial juuga dinyatakan didalam manusia.
3.2.Representatif
Pemerintahan Allah
Representatif
Allah hadir dari masa ke masa, seperti uangkapan Choan-Seng Song bahwa “Allah peduli terhadap penderitaan umat-Nya. Kemiskinan
yang menghancurkan martabat manusia
ditanggapi Yesus secara sungguh-sungguh. Ia rela menderita untuk orang-orang miskin” dalam
sebuah seruan yaitu “Allah yang turut menderita”. Melalui pemahaman teolog tersebut dapat dilihat bahwa
karya Allah yang selalu bekerja dalam sejarah dan penyertaan-Nya atas
orang-orang miskin. Selain itu, Wayne Grudem juga melihat
aspek-aspek dan makna segambar dengan
Allah yaitu aspek moral, spiritual, spiritual, mental, relasional dan jasmani,
dalam fungsinya ia menempatkan bahwa Gereja dan manusia merupakan fungsi untuk
menentramkan ciptaanya.[6]
Gereja
sebagai tubuh Kristus dan manusia sebagai dan segambar dengan Allah, pernyataan
ini sangat jelas, menunjukkan bukti bahwa hakekatnya Gereja dan manusia harus
saling melayani dalam kehidupan bersosial terkhususnya dalam musibah global
pendemic Covid-19 terhadap orang-orang miskin yang sengsara, Manusia
ditempatkan untuk keterlibatan dalam pemerintahan Allah di muka bumi, melayani
sesama manusia sebagai representative Allah, melayani dengan cermin karakter
Ilahi.[7]
Dengan demikian ini menjadi fondasi kokoh bagi panggilan umat manusia untuk pemerintahan Allah atas
permasalahan global yang terjadi saat ini.
3.3.Perspektif
Realitas Sosial Allah terhadap Orang Miskin menurut Alkitab
Pembaharuan
yang dilakukan oleh pemerintahan Allah melalui Yesus melihat seluruh golongan
aspek sosial bahwa struktur masyarakat dan hati manusia harus diperbaharui.
Dalam arti Yesus tidak memperhatikan individu atau kelompok saja, namun seluruh
masyarakat sosial, Ia juga memperhatikan individu dalam keberadaannya dalam
masyarakat. Tidak ada individu yang tersisih dan tertindas dalam masyarakat,
misalnya orang miskin, buta, lumpuh. Maka Ia akan memulihkan mereka untuk
mendapat tempat yang sewajarnya. Jadi
jelas bahwa realitas sosial Allah dan keberpihakan Yesus kepada kaum miskin dan
tersisih bukan hanya keberpihakan pada kemiskinan dan ketersisihan mereka,
melainkan keberpihakn pada sistem yang adil yang tidak mereka dapatkan sehingga
mereka menjadi miskin dan tersisihkan. Inilah yang menyelamatkan dan memulihkan
setiap orang dalam keberadaan yang wajar dalam masyarakat. Sebab itulah
tujuan-Nya datang ke dunia, yaitu untuk menyelamatkan dan memulihkan.
Melalui
Realitas sosial Allah didalam Yesus kepada kaum miskin dan yang terpinggirkan,
setiap orang yang hadir dalam perjamuan juga diajak untuk memberi perhatian
kepada orang-orang miskin. Realitas sosial yang harusnya berorientasi pada
“saudara” (ikatan keluarga, bisnis, kelas sosial yang sederajat) harus
diperluas menjadi kebersamaan yang menyelamatkan semua “saudara” (setiap
anggota masyarakat tanpa dibatasi ikatan keluarga, profesi, agama dan
lain-lain). Yesus memperluas istilah “saudara” dengan merangkul semua orang
masuk ke dalam solidaritas kasih.
Tujuan
Yesus datang ke dunia untuk menghadirkan kerajaan Allah yang sangat berbeda
dengan kerajaan duniawi. Dimana kerajaan duniawi didasarkan pada kelompok sosial yang eksklusiv dan demi
kepentingan sendiri. Maksudnya lebih mengutamakan kepentingan pribadi ataupun
golongan dari pada kepentingan umum. Sedangkan kerajaan Allah didasarkan pada
kebersamaan yang mencakup seluruh umat manusia dan demi kebenaran Allah (bnd.
Mat 5:43-44).
Injil adalah kabar baik untuk
orang miskin. Allah dalam karya-Nya melalui sejarah Yesus Kristus, memberikan
kabar baik dan sukacita untuk semua orang, tetapi fokus Allah adalah
memberitakan kabar baik pada orang miskin yang merupakan orang yang tak berdaya,
baik secara sosial, ekonomi maupun politik.[8]
3.4.Peran
Gereja dalam menanggapi Realitas Sosial Allah kepada Orang Miskin dimasa
pendemic Covid-19
Dalam
pengakuan iman rasuli, gereja adalah Am atau universal, yang merupakan kesatuan
orang percaya di seluruh dunia yang telah berlaku di sepanjang sejarah,
persekutuan yang tidak dibatasi oleh pembatas sosial seperti suku, bahasa,
daerah.[9]
Tetapi menunjukkan persekutuan yang
menunjukkan kesatuan orang percaya. Persekutuan Am yang dipanggil dan dipilih
menjadi garam dan terang di tengah ketegangan global. Anak-anak Allah
seluruhnya telah memiliki otoritas, semestinya menjadi garam dan terang dunia.
Menegaskan bahwa anak-anak Allah merupakan sebuah komunitas yang mempunyai cara
yang hidup untuk menceritakan sebuah bagian tentang realitas. Gererja sebagai
mandaritas Tuhan ditengah dunia, dituntut untuk dapat berpartisipasi dan
berperan aktif dalam membantu masalah kemiskinan. Kehadiran dan keberadaan
Gereja didunia jela, yaitu untuk berfungsi memuliakan Allah melalui partisipasi
aktif dalam mewujudkan tujuan penyelamatan Allah terhadap manusia di dunia.
Gereja
menjadi garam yang mampu melebur kepada orang-orang miskin, mencari tahu dan
memberikan rasa kepada orang miskin , Gereja menjadi terang bagi orang miskin,
dengan cara memberikan penerangan kepada masyarakat miskin karena situasi
gelap, gereja memberikan solusi dan bantuan baik berupa uang maupun sembako,
melihat keadaan ekonomi masyarakat yang semakin melemah.
Menurut
Dr. Enig Aritonang, peran gereja pada masa pendemic Covid-19 yang didasarkan
Kis 3:1-10 diantaranya adalah:
1. Gereja
harus menyetarakan antara perkataan dan
perbuatan, dalam arti ketika Gereja berkata mengenai pelayanan dan kasih harus
disertakan dengan aksi nyata.
2. Gereja
memberikan kesembuhan sosial bagi masyarakat, dengan menghilangkan sikap
disinteraksi, diskomunikasi, individualism.
3. Gereja
memberikan kesembuhan ekonomi kepada masyarakat, Gereja harus ikut memerdekakan
jemaatnya dari kemiskinan yang terjadi akibat musibah yang terjadi.
4. Gereja
memberikan kesembuhan emosional, dari pasif, sedih, depressi menjadi mengucap
syukur kepada Tuhan atas anugrah yang luar biasa.
5. Gereja
memberikan kesembuhan holistic.
Menurut Josef Purnama yang
merupakan aktivis sosial. Ia meyakini bahwa mewujudkan manusia yang bebas dari
kemiskinan merupakan panggilan gereja, maka perlu dilakukan tugas diakonia
transformatif. Diakonia transformatif tak bermaksud untuk menciptakan
permusuhan antara yang kaya dan yang miskin atau antara majikan dan buruh.
Diakonia transformatif justru bermaksud untuk menciptakan perdamaian dengan
keadilan di tengah konflik sosial. Manusia adalah ciptaan Allah sebagai gambar
Allah. Tidak seorang pun boleh merusak gambar Allah. Panggilan untuk mewujudkan
kemanusiaan dan kasih pada semua orang bukan saja panggilan orang Kristen
tetapi hampir semua agama di dunia. Mengasihi dan berbuat baik pada semua
orang, terutama saudara seiman.
Yesus mengajarkan kepada
seluruh umat Kristen, bahwa kita sebagai umat Allah harus mampu mengatasi
situasi kemiskinan, ketidakadilan, penindasan dan lain-lain. Kemiskinan
menimbulkan berbagai problema kehidupan yang secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi hidup manusia. Misalnya; kesengsaraan, penderitaan,
kemelaratan, kehilangan identitasnya bahkan membuat manusia menjadi tersisih.[10]
Tuhan sudah memberikan tugas dan tanggung jawab kepada kita sebagai orang
Kristen, yang berarti sudah menjadi keharusan kita untuk menebarkan kasih dan
perhatian kita terhadap orang miskin. Sesungguhnya Tuhan tidak menginginkan
adanya kemiskinan pada manusia. Hal ini terbukti pada awal mula penciptaan
dimana segala sesuatu diciptakanNya baik adanya. Kemiskinan itu terjadi akibat
sesuatu hal yang ingin dicapai oleh manusia dengan tidak memikirkan dan
mempedulikan sesamanya.
BAB V
5.1.Kesimpulan
Alkitab mengajarkan
dan memperlihatkan bukti realitas sosial Allah kepada umat-Nya bahwa mereka
yang memiliki kelimpahan harus mau berbagi. Dalam Kisah Para Rasul, kita dapat
membaca bahwa tidak seorang pun dalam komunitas orang percaya itu yang
berkekurangan (Kisah Para Rasul 4:34), dan hal itu dapat mereka capai dengan
saling berbagi. Ketika kita gagal menerima mereka yang mengungsi, terbuang,
maupun para pekerja migran yang terlantar, hal itu menunjukkan tingkat moral
kita yang buruk. bukan hanya sekadar keputusan moral saja. Melainkan Pemerintahan
dan realitas sosial Allah atas ciptaanNya yang telah dilegasikan kepada manusia
yang mengalami pembaharuan didalam dan melaui karya Yesus Kristus. Melalui
pembaharuan ini menjadikan manusia menjadi serupa dan segambar dengan Allah,
mengikuti sifat-sifat simpati dan empati Allah kepada sesama umat manusia
disertai dengan tindakan yang saling
bahu membahu. Dengan hadirnya rasa simpati dan empati kita kepada sesama
manusia yang membutuhkan pertolongan mengajarkan sebuah sikap “Omni Present” bahwa Allah itu
hadir dimanapun dan kapanpun. Allah melihat seluruh situasi umat mannusia
dimanapun manusia itu berada. Oleh karena itu Gereja yang merupakan mandaritas
Tuhan di dunia ini, perannya sebagai mandaris kerajaan Allah perlu
diaktualisasikan, sehingga “rasa” sebagai garam dan terang itu tampak di tengah
masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Banawiratma. J.B. 1990. Kemiskinan dan Pembebasan Yogyakarta: Kanisius
Bavink, Herman. 2012.
Dogmatika Reformed : Allah dan Penciptaan. Surabaya : Penerbit Momentum.
Berkhof, Louis. 1997.
Theology Sistematika. Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia.
Brownlee, Malcolm.2004. Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Gutierrez, Gustavo. 1973. A Theology
of Liberation. New York: Marykonoll, Orbis Books.
Grenz, Stanley J.
Theology For The Community of God. Grand Rapids.
Grudem, Wayne. 1994.
Systematic Theology. Nottingham.
Seng Song, Choan. 2010.
Yesus dan Pemerintahan Allah. Jakarta : BPK. Gunung Mulia.
Widyatmadja, Josef.P. 2017 Yesus & Wong Cilik. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2017.
[1]
Malcolm Brownlee, Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2004), hlm. 80.
[2]
Gustavo Gutierrez, A
Theology of Liberation, (New York: Marykonoll, Orbis Books, 1973)hlm 21
[3]
Malcolm Brownlee, Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan hlm. 82
[4] Choan-Seng
Song, Yesus dan Pemerintahan Allah ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2010) hlm
19-31
[5]
Herman Bavinck, Dogmatika Reformed : Allah dan penciptaan ( Surabaya: Penerbit
Momentum 2012) hlm 173
[6]
Wayne Grudem, systematic theology (Nottingham 1994) hlm 448
[7] Stanley
J. Grenz. Theology For The Community of God (Grand Rapids : William B. Eerdmans
Pub) hlm 177
[8]
Josef P. Widyatmadja, Yesus & Wong Cilik, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2017), hlm. 25-26.
[9]
Louis Berkhof, Theology sistematika : Doktrin Gereja ( Jakarta: lembaga
reformed injili Indonesia, 1997) hlm 23
[10] J. B. Banawiratma, Kemiskinan dan Pembebasan,
(Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 113.
Komentar
Posting Komentar