When Religion Becomes Evil - Charles Kimbal
When Religon
Becomes Evil
Charles Kimbal
1.
Is
Religion the Problem ? (Apakah agama itu masalah)
Agama
adalah hal utama didalam kehidupan manusia. Kita semua dapat melihat indikasi
tersebut setiap hari, dan kita semua mengetahui hal tersebut ketika kita
melihatnya. Tetapi secara mengejutkan agama itu sulit untuk didefenisikan
dengan baik apa itu agama.
a.
The
Problem of Definitions and the limits of our perspective ( Masalah dari Definsi
dan batas dari Perspektif kita)
Masalah
dari mendefinisikan agama adalah Point utama yang baik untuk buku ini sejauh
ini. Kata Agama membangkitkan
berbagai macam gamabaran, ide, tindakan, kepercayaan, dan pengalaman – kadang
positif dan kadang negatif. Meletakkan elemen terpisah ini menjadi referensi
bingkai yang koheren bukanlah hal yang mudah atau kecil. Hal ini membutuhkan
banyak usaha. Hal ini memaksa kita untuk melangkah mundur dan merefleksikan atau
merenungkan asumsi awal kita mengenai agama itu sendiri.
Kata
agama juga memunculkan pemikiran dalam benak kita mengenai bagaimana agama itu
sifatnya destruktif atau juga
merupakan tindakan kebiasaan yang kejam. Asumsi mengenai agama pada masa
sekarang juga menganggap agama itu merupakan akar dari tindakan kekerasan,
intoleransi dan penyalahgunaan wewenang.
Banyak
perkumpulan agama umum yang berhubungan dengan agama sekarang telah berubah,
sebagian dikarenakan sudut pandang yang berbeda secara significant dengan
generasi sebelumnya. Walaupun agama secara religius berubah, kita sudah dapat
meletakkan kekhawatiran yang jauh lebih besar kepada pluralitas agama masa
kini.
Kita
sadari atau tidak, kita bergumul dengan isu mengenai kekhususan dan pluralisme,
pada tingkat tertentu kita di peringatkan bahwa agama itu adalah komponen yang
kompleks dari kehidupan manusia. Kita mengetahui agama mencakup tradisi dan
pengalaman kita sendiri. Beberapa berasal dari pengamatan pribadi atau gambar media;
beberapa gagasan telah disampaikan secara kultural dengan cara halus dan tidak
begitu halus.
Peristiwa-peristwa di dunia pada
awal milenium baru ini memberikan dorongan untuk melangkah mundur dan berpikir
lebih luas tentang agama dan kekuatan yang bergolak yang berhubungan dengan
agama di dunia kita. Ketika agama menjadi jahat Terlepas dari pandangan pribadi
seseorang tentang agama, studi
perbandingan agama menawarkan kepada kita cara yang efektif untuk mengatasi
masalah ketidaktahuan secara rinci .
b.
Help
from the Comparative Study of Religion (Bantuan dari Studi Perbandingan Agama)
Metode
umum untuk memahami dunia agama ini melibatkan pendekatan pendekatan deskriptif
yang jujur. Mengumpulkan data dan mengorganisasi fakta mengenai agama tertentu
adalah hal yang tepat untuk memulai studi perbandingan agama. Kita dapat
melihat pada saat peristiwa serangna 11 september. Wartawan, pemimpin agama dan
politik, dan banyak warga non-Muslim sangat ingin memahami apa yang sedang
terjadi dan mengapa. Meskipun Islam adalah agama global dan aktivis dan negara
Muslim sering muncul dalam berita selama beberapa dekade ini, banyak orang
menemukan fakta bahwa betapa sedikit yang mereka ketahui tentang agama terbesar
kedua di dunia ini. Setiap harapan untuk memahami beberapa gambar yang sering
kali saling bertentangan membutuhkan semacam pengenalan dasar tentang Islam.
Tokoh televisi terkemuka seperti Oprah Winfrey, Peter Jennings, dan Christianne
Amanpour melakukan seminar untuk jaringan masing-masing. Wartawan cetak - dari
surat kabar harian besar dan publikasi mingguan nasional besar - bergabung
dalam proses tersebut. Gereja, sinagoge, dan masjid menyelenggarakan program
pendidikan. Universitas dan organisasi kemasyarakatan menampilkan panel ahli
dan presentasi. Banyak upaya edukasi semacam itu yang penting dan sesuai
sehingga melalui prakarsa ini, orang bisa mengambil langkah-langkah pertama
yang disengaja dari sebuah perjalanan penting di luar wilayah lokal dan asing,
ke dunia global dan yang kurang akrab.
Ini
adalah hal yang menakutkan untuk menyajikan informasi dasar tentang agama dunia
dengan cara yang adil dan mudah dipahami dalam waktu yang sangat singkat. Siapa
pun yang ingin melakukannya harus mencoba untuk menggambarkan tradisi lain
dengan cara yang paling dipeluk dan tradisi tersebut harus dikenali dan
diyakinkan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa orang tidak dapat memberikan
penilaian nilai. Kita semua melakukan ini setiap saat. Tetapi langkah pertama
adalah menyajikan informasi secara akurat dan adil. Saat ini, tidak seperti
bertahun-tahun yang lalu, tidak ada kekurangan data, banyak informasi dapat
diakses secara terbuka. Selain itu, semakin sering penonton hadir dalam
presentasi publik akan beragam dalam hal keagamaan. Informasi yang akurat harus
menjadi dasar untuk penilaian nilai apa pun yang dibuat orang secara tepat
waktu.
Agama
seharusnya tidak cukup dipahami sebagai kumpulan individu, abstrak, pengajaran
dan praktek. Menemukan fakta-fakta tentang agama merupakan tempat terbaik untuk
memulai, dan juga lebih diperlukan. Memahami agama perlu merenungkan bagaimana
penganut agama memahami dan menafsirkan unsur unsur dalam agama, dan agama
tidak akan eksis dalam kekosongan; tetapi agama akan eksis didalam hati,
fikiran dan didalam perilaku manusia. Ini adalah hal yang sangat manusiawi, dan
merupakan kenyataan hidup. Untuk mengatakan bahwa Muslim merangkul Al Qur’an
sebagai firman Tuhan yang benar, namun berbagai cara muslim terkait masalah
teks rahasia merupakan hal yang lebih kompleks seperti yang akan kita temukan
dalam bab mendatang.
Sebagai
ladang studi, perbandingan agama (kadang disebut sejarah agama) telah melampaui
permintaan yang terfokus dalam tradisi keagamaan tertentu. Beberapa sarjana
yang berkonsentrasi pada hubungan antara sejarah dengan tradisi. Batas batas
yang memisahkan Hindu dan Budha, atau orang orang Yahudi, Kristen dan Muslim
dalam pemeriksaan yang terperinci diartikan berubah menjadi buruk dan sangan
fleksibel. Agama agama sering berbagi tentang cerita suci, ruang yang sakral,
dan orang orang suci. Kita bisa menelusuri pola dualisme kosmik, misalnya
melalui beberapa tradisi yang berasal dari Timur Dekat kuno. Penganut
Zoroastrianisme mendefenisikan kosmik sebagai perjuangan antara baik dan jahat
seperti Ahura Mazda dan Ahriman (figur Allah dan kejahatan), malaikat dan
iblis, surga dan neraka. Hal ini menjadi fitur penting dari Judaisme kuno,
Kristen dan Islam. Setiap tradisi keagamaan-mulai dari agama besar di dunia
sampai kepada agama agama suku di Afrika dan Amerika Utara- memiliki cerita
suci (mitos) tentang penciptaan dunia, dan menggabungkan banyak fitur atau
motif yang serupa. Dalam beberapa kasus, kita dapat melihat jelas hubungan
antara tradisi-tradisi; banyak kasus yang menunjukkan bahwa kesamaan tidak
dapat dijelaskan dengan mudah, baik dengan pendekatan geografis atau
perpindahan orang orang.
Pendekatan
komparatif juga mengungkapkan sejumlah karakteristik umum yang dimiliki dan
disebar oleh kebanyakan komunitas keagamaan. Terlepas dari perbedaan pandangan
dunia dan klaim kebenaran yang bertentangan, tradisi keagamaan berfungsi dengan
cara yang sama dan bahkan berbagi beberapa ajaran dasar. Semua tradisi
keagamaan, misalnya membedakan antara yang sakral dan profan. Sebagai
ilustrasi, dalam hal mendefinisikan peristiwa atau cerita suci, orang, tempat,
waktu dan objek tertentu terpisah dari hal-hal duniawi. Orang Hindu dan Budha,
praktisi Shinto, dan tradisi Penduduk asli Amerika memiliki kisah suci,
manusia, benda, gunung, sungai, dan sejenisnya yang paralel atau berhubungan.
Kehidupan
beragama di masyarakat selalu terstruktur seputar komponen-komponen ini.
Kalender di setiap agama, misalnya cenderung mengikuti siklus tahunan dimana
peristiwa sakral yang menjadi penentu (misalnya; Natal, Paskah, Haji, Diwali,
pencerahan Budha) diceritakan kembali, dirayakan dan sering disahkan melalui
ritual. Ritual kalender-apakah itu
ibadah mingguan atau perayaan tahunan-ikuti pola yang dapat diprediksi dan
memiliki tujuan serupa di hampir semua komunitas religius.
Agama juga menawarkan analisis tentang keadaan
manusia, dan mereka menguraikan jalan menuju tujuan yang diinginkan. Pemahaman
tentang kondisi manusia didefinisikan secara berbeda dan tujuannya tidak sama,
namun pola fungsional diantara tradisi keagamaan sebanding. Suatu hal yang
menarik adalah bahwa sebagian besar tradisi keagamaan menantikan harapan masa
depan di zaman baru. Banyak kelompok
dalam agama-agama besar menghormati seorang tokoh penyelamat, seseorang yang akan
mengantarkan pada zaman baru, baik dibumi atau di dunia surgawi.
Studi perbandingan agama membantu kita melihat
keterkaitan antara agama-agama tersebut, termasuk persamaan bagaimana agama
digunakan oleh penganut dan bahkan persamaan dalam
hal doktrin. Contoh diatas secara singkat menggambarkan
pendekatan komparatif yang digunakan dalam buku ini. Pada satu tingkat, perlu
untuk mengidetifikasi dan menggambarkan fakta-fakta dasar tentang agama dengan
cara yang dapat dikenali oleh orang-orang dalam tradisi itu dan dapat dipahami
oleh orang lain. Tetapi
kita harus dapat melangkah lebih jauh lagi, yaitu berusaha untuk mengetahui apa arti data bagi beberapa
penganut, khususnya perlakuan tindakan berbahaya yang dilakukan yang dihubungkan dengan bagaimana mereka
memahami tradisi mereka. Hal ini dimungkinkan untuk menarik kesimpulan yang
lebih luas.
Mengidentifikasi karakteristik umum diantara agama
tidak sama dengan mengatakan bahwa semua agama sama. Jelas tidak.
Dapat kita ketahui bahwa, satu agama
tidak sama dari satu
abad ke abad berikutnya, dari satu benua ke benua berikutnya atau dari satu
komunitas pemujaan ke seberang lainnya.
Jika keragaman ada di dalam satu komunitas religius,
maka ada juga didalam setia anggota komunitas tersebut. Kita semua selalu
dan sedang dalam proses perubahan.
Jika kita berpikir, mengamati, mendengar, membaca atau memproses informasi
setiap hari, kita akan sadar bahwa kita akan terus berubah dengan cara kecil dan
kadang-kadang substansial, termasuk berkenaan dengan agama kita sendiri. Siapa diantara kita yang benar benar statis?
Siapa yang bisa mengatakan pandangan kita tetap sama persis apapun data yang
dimasukkan ke dalam otak kita? Pemahaman religius adalah proses yang terus
menerus dan sangat manusiawi.
Fakta
sejarah ini harus ditanggapi dengan serius, tapi bukan berarti semua jalan
menuju gunung yang sama. Peristiwa di dunia kita saat ini menunjukkan bahwa
nilai Penilaian sangat dibutuhkan Saya yakin ada kriteria yang dapat kita
gunakan untuk membuat keputusan yang informatif dan bertanggung jawab.
Kebebasan beragama adalah hal yang baik. Jadi, kebebasan dari agama lain
mungkin diharapkan untuk memaksakan kepada orang-orang yang berbeda.
Pendekatan
komparatif terhadap agama dapat membantu kita menjernihkan cara-cara manusia
saling berhubungan dan saling tergantung. Memahami. Karena agama-agama itu juga
saling tergantung memiliki implikasi moral.
c.
Is
Religion the Problem ? (Apakah Agama itu masalah)
Bagi
orang-orang yang akhir-akhir ini menerima tindakan kekerasan atau dikecam oleh
agama atau termotivasi oleh tindakan kekrasan oleh agama, konsekuensinya selalu
sangat serius. Pada masa sekarang hampir semua orang di manapun bisa menjadi
korban perilaku destruktif yang berasal dari separuh dunia. Kekalahan
mengerikan dari kefanitasan akan agama atau paham-paham teologis yang merusak
tidak dapat lagi ditebak atau didefenisikan berdasarkan batas geografis.
Potensi
pemusnah massal ini bukan hal yang baru. Tapi kita berada dalam situasi baru.
Kemungkinana bahwa seorang yang sangat fanatik agama akan memprakarsai atau
menjadi katalis perusak yang tak
terkatakan adalah tidak jauh. Sejarah tanpa diragukan meningggalkan beberapa
motivasi keagamaan atau komunitas, dan juka mempengaruhi manusia untuk
melaaskan kekerasan dan teror atas nama allah mereka atau keyakinan mereka. Perdebatan
tentang globalisme versus tribalisme atau benturan peradaban menimbulkan
pertanyaan penting tentang masa depan peradaban manusia. Secara keagamaan
berdasarkan figur konflik secara menyolok menjadi sebuah debat. Jelas, status
quo tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang, jika bukan jangka pendek
semua ini menimbulkan pertanyaan. , "Apakah agama itu masalah?"
d.
Why
Those Who Say Yes Are Right – in part (Mengapa bagi yang berkata YA itu benar –
di satu sisi )
Respon
atas pertanyaan ini muncul dari beberapa arah, dari orang beragama dan tidak
beragama. Di satu sisi bertanya “apakah agama itu masalah ?” berdasarkan berapa
besar seseorang memahami agama. Pada masa ini bagi banyak orang, jawabannya
adalah YA.
Banyak orang beragama melihat agama sebagai masalah.
Melalui agama, mereka tanpa terkecuali menganggap orang lain memiliki agama
yang palsu.
Banyak
orang menganggap agama sebagai masalah. Mereka berargumentasi berbeda pandangan bahwa dunia keagamaan tradisional
lebih berjalan sesuai rencana, karena sains telah membuat sebuah ejekan-ejekan
bagi agama. Agama yang suci dalam pandangan ini adalah cara yang tidak
bertentangan dengan jaman, melihat dunia khususnya kosmos yang membabahayakan.
Perspektif ini memiliki kelebihan dan dukungan luas. Beberapa contoh dalam buku
ini bisa digunakan untuk memperkuat kasus ini. Munculnya penyelidikan ilmiah
modren mempertanyakan praduga keagamaan, karena pertanyaan tatanan alam oleh
orang-orang memandang agama dapat menjawabannya, dapat dipecahkan dengan
percaya diri dengan mengamati dan eksperimen didunia fisik secara saksama.
Kasus terkenal Jen Galileo mengungkapkan hubungan yang tidak nyaman antara
teolog tradisional. Pemikiran dan penyelidikan ilmiah pada tahun 1633 oleh
pejabat gereja yang ditemukan dan Galileo dinyatakan bersalah karena ajaran
sesat yang menegaskan teori Copernican bahwa bumi bergerak mengelilingi
matahari. Galileo dilecehkan dan ditempatkan di tahanan bawah tanah selama
tujuh tahun sampai akhirnya ia dibebaskan. Pejabat gereja telah lama mengetahui
bahwa inti dari argumen Galileo dan doktrin mereka telah berdasarkan asumsi yang
salah, sekalipun butuh waktu sekitar tiga abad oleh gereja Katolik untuk
mengeluarkan permintaan maaf secara formal untuk urusan Galileo.
Pandangan
dunia religius dan doktrin yang tidak fleksibel dikalangan kelompok kristen
sering menimbulkan masalah serius dalam menghadapi pertanyaan dan hipotesis
ilmiah. Persidangan tahun 1925 yang terkenal di Tennessee dikenal melalui
kemenangan pengadilan tersebut tentang masalah biologi evolusioner melawan
pendekatan literalis terhadap kisah penciptaan pada kitab Kejadian. Perdebatan
berlanjut–dibeberapa sekolah setempat- dengan beberapa pendukung. Kristen
menganjurkan ilmu yang mereka sebut
pengetahuan penciptaan jika agama meminta persetujuan intelektual atas
proposisi bahwa planet ini berusia kurang dari seribu tahun dan cerita
penciptaan dalam Kejadian secara harafiah adalah cara bumi diciptakan. Ketika
murid-murid saya membaca cerita tentang penciptaan Izanagi dan Izanami dari
Jepang atau cerita-cerita suci dari suku asli Amerika, mereka segera melihat
pengertian-pengertian simbolisme untuk menyampaikan pesan yang kuat tentang
kesucian dan tempat manusia dalam penciptaan. Ketika orang Yahudi dan Kristen
membaca Kejadian 1-3, mereka menemukan ajaran yang kaya dan kuat tentang makna,
tujuan, dan tanggungjawab manusia dalam penciptaan. Juga jelas bahwa buku ini
bukan buku teks ilmiah. Apakah alam semesta semacam kue lapis tiga? Apakah ular
berbisa? Benarkah ada pohon di taman Eden yang menaungi buah kehidupan yang
kekal? Orientasi religius yang menghampiri anda dari sudut pandang William
Jennings Bryan di Scopes sangat berbahaya. Agama yang mengharuskan pemeluk
untuk melepaskan otak mereka seringkali merupakan bagian besar dari masalah
keagamaan.
e.
Why
Those Who say NO are Right – in Part ( Mengapa yang berkata tidak adalah benar
– di satu sisi )
Huston Smith, penulis The World's
Religions, buku yang telah memperkenalkan beberapa generasi mahasiswa dan
jutaan lainnya untuk mempelajari agama-agama dunia, dalam bukunya Why Religion
Matters secara langsung menantang orang-orang yang akan mendefinisikan agama
dengan begitu sempit dan kemudian menolaknya. Berbeda dengan mereka yang
percaya bahwa agama adalah masalahnya, Smith menyarankan bahwa krisis utama
yang kita hadapi pada abad kedua puluh satu adalah spiritual. Dengan menggunakan
metafora terowongan, Smith berpendapat bahwa saintisme dan materialisme telah
berkonspirasi untuk menghalangi banyak orang melihat gambaran besarnya. Ilmu
pengetahuan adalah keyakinan bahwa metode ilmiah adalah satu-satunya atau
paling tidak cara yang paling andal untuk mendapatkan kebenaran dan entitas
material adalah unsur eksistensi paling mendasar.
Banyak orang-orang yang beragama
mengambil posisi tengah pada pernyataan tentang realitas apakah agama adalah
sebuah masalah dengan menyatakan bahwa bukan agama yang membahayakan
tetapi oranglah masalahnya. Anehnya
analogi ini sering dikutip oleh lawan dari pengontrolan senjatan : “Senjata
tidak membunuh manusia; manusia membunuh manusia”. Penglihatan orang-orang,
bukan agama yang menjadi masalahnya yang telah secara luas baik sejak, analisis
awal, ini adalah sikap dan tindakan dari orang itu yang merupakan isu. Telah
dicatat sebelumnya, bahwa bagaimana pun keagamaan tidaklah bisa bebas
mengambang, entitas abstrak mereka
datang untuk hidup sebagai teladan yang dipeluk dan dijalani oleh orang. Tetapi
bentuk dan arah tradisi orang tersebut, maka tradisi juga mengarahkan kekuasaan
atas orang, dimana pengaruh itu tidak hanya datang dari satu arah hanya karena
hubungan ini adalah hal yang dinamis.
Apakah
agama itu masalah? Tidak. Dan iya. Jawabannya berubah di satu sisi kepada
bagaimana orang memahami sifat agama. Inti orientasi dan pencarian religius,
manusia menemukan makna dan harapan. Didalam asal usul mereka dan ajaran inti
mereka, agama-agama mungkin mulia, tapi bagaimana mereka berkembang hampir
selalu gagal mencapai cita-cita atau apa yang mereka anggap ideal. Penganutnya
terlalu sering membuat pemimpin agama mereka, doktrin dan kebutuhan untuk
mempertahankan struktur kelembagaan kendaraan dan pembenaran untuk prilaku yang
tidak dapat diterima. Apapun pandangan pribadi seseorang tentang sifat dan
nilai agama, itu adalah realitas yang kuat dan sekarang. Orang-orang yang
berpikiran penuh dengan iman harus mencoba untuk belajar lebih banyak tentang
bahaya dan janji yang terkandung dalam fenomena globalmanusia yang kita sebut
dengan agama.
f.
Taking
Religious Seriously – Globally and Locally (Membawa agama Secara serius –
Secara Global dan Lokal)
Kita
dapat mengatakan bahwa agama merupakan kekuatan paling kuat dan meresap dalam
masyarakat. Ini adalah fakta historis dan realitas dinamis yang membentuk
komunitas dunia kita sekarang dan masa depan. Dengan demikian, kita semua harus
menganggap serius agama. Pemenang penghargaan buku, Thomas Friedman, dalam
bukunya yang berjudul “The Lexus and the olive tree”, memberikan kerangka kerja
yang berguna untuk memahami kompleksitas komunitas dunia kita yang semakin
saling bergantung dan peran sentral seperti agama dan budaya. Dia berpendapat
bahwa subuah sistem yang baru dari globalisasi pada masa sekarang telah
menggantikan sistem perang dingin yang mendominasi dunia selama beberapa dekade
sebelum runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1989. Kita hanya bisa memahami globalisasi,
Friedman berpendapat ketika kita memahami bahwa garis tajam sekali memisahkan
budaya politik, teknologi, keuangan, keamanan nasional, dan ekologi kita kini
lenyap. Sulit untuk membahas satu bidang atau dimensi tanpa mengacu pada yang
lain. Judul bukunya mencerminkan dua kutub utama yang menarik dan menopang
manusia. Lexus melambangkan semua pasar global, lembaga keuangan, dan teknologi
komputer yang sedang berkembang yang dengan kita memperoleh standar hidup yang
lebih tinggi saat ini. Pohon Zaitun, disisi lain, “mewakili segala sesuatu yang
mengakar kita, menyadarkan kita, mengidentifikasi kita dan menempatkan kita
disunia in.” Agama, menurut saya, adalah akar terbesar dan terdalam, mengangkat
dan mempertahankan kehidupan dari pohon tersebut.
Thomas
Friedman tahu banyak tentang pohon zaitun-secara harafiah dan simbolis. Bukunya
yang berjudul Pulitzer Prize yang merupakan bukunya yang mendapat penghargaan ,
From beirut to jerusalem, dibangun
selama bertahun-tahun sebagai kepala biro untuk New York Times yang berbasis
dikota-kota yang dilanda perang tersebut. Dia tahu betul bahwa konflik besar
yang dihadapi- konflik israel- palestina-
arab yang sedang berlangsung dan perang lima belas tahun yang multiside di
lebanon dan itu bukan hanya perang agama. Tapi tokoh agama menonjol dalam
campuran dinamika politik, ekonomi, sosial dan sejarah yang bercalan secara
berbelit-belit. Mereka yang secara sederhana berpendapat bahwa konflik tragis
ini tidak pernah berakhir diantara
keturunan abraham dimana terjadi salah
penafsiran ilmuwan bahwa kejadian politik, ekonomi, sosial dapat dijelsakan
dengna mudah. Kita perlu melihat dan saling mempengaruhi semua faktor, seperti
pendukung Friedman. Untuk menganalisis secara akurat dan bergerak menuju
resolusi konflik kita harus menganggap serius agama sebagai komponen utama
dalam campuran.
, Stephen Carter, mengajukan
permohonan terkait dengan agama secara serius dalam bukunya, The Cultureof
Trust: Bagaimana Hukum dan Politik Amerika memperdebatkan Pengabdian Beragama.
Buku ini terus menghasilkan perhatian satu dekade setelah pertama kali
diterbitkan. Seorang profesor hukum Yale dan Episcopalian yang aktif, Carter
menghadirkan berbagai cara penjaga alun-alun publik dengan sopan menegaskan hak
individu untuk percaya sebagaimana yang dia inginkan sambil terus-menerus
memperlakukan agama sebagai hal sepele dan tidak penting bagi orang-orang yang
serius, sesuatu yang tidak disebutkan dalam dialog publik yang bijaksana
Seperti Huston Smith, Carter menunjukkan bahwa menjadi orang yang memiliki akal
dan agama bukanlah hanya sebuah oxymoron atau ungkapan.
g.
The
Propensity Toward Evil (Kecondongan kepada Kejahatan)
Ketika
presiden Bush menyandingkan baik dan jahat, dia mengartikulasikan kerangka
acuan yang sudah dikenal dengan memanfaatkan tradisi dualisme kosmik yang
dalam. Realitas kejahatan setidaknya setua kesadaran manusia. Dalam narasi
alkitabiah, segera setelah Tuhan menyelesaikan karya penciptaan dan melihat
bahwa itu baik, manusia menjadi mangsa godaan untuk mengambil pohon terlarang
di taman eden, pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan.Tepat setelah
pria dan wanita itu diusir dari taman, para pembaca dibawa bertatap muka dengan
manifestasi kejahatan yang kejam: Kain membunuh saudaranya Habel.
Kita
beresonansi dengan konsep kejahatan karena kita mengetahui ini adalah kenyataan
yang selalu ada. Keinginan untuk penjelasan yang koheren mengenai asal mula dan
sifat kejahatan bersifat global. Setiap tradisi keagamaan hendaknya memberikan
satu atau lebih penjelasan untuk realitas kejahatan dan ketidakadilan.
Jawabannya sangat bermacam, namun muncul dalam setiap tradisi. Orang yang tidak
beragama juga berusaha memahami kecenderungan kejahatan, di antaranya untuk
meminimalkan penderitaan dan menghindari potensi bencana. Bahkan orang-orang
yang tidak menawarkan penjelasan khusus untuk kejahatan, ketidakadilan,
kesakitan, dan penderitaan - orang-orang yang hanya mengangkat bahu dan
berkata, "hal-hal terjadi" - umumnya tidak terlalu santai saat
"bahan" terjadi pada mereka atau kepada orang yang mereka cintai.
Kita tahu kejahatan berada di antara
individu dan kenyataan perusahaan. Faktor sosial dan psikologis selalu
dilibatkan. Pencobaan individual terhadap perilaku perusakan diri muncul dalam
banyak bentuk. Banyak tokoh heroik dalam Alkitab, misalnya, tidak dapat selalu
mengatasi daya tarik kuat perilaku kekerasan dan destruktif pada tingkat
pribadi. Musa mencambuk dan membunuh seorang Mesir. Hawa agung Daud untuk
wanita yang sudah menikah memaksa dia untuk mengirim suaminya, seorang tentara
yang setia kepada rajanya, sampai mati dalam pertempuran. Rasul Paulus secara
terbuka mengakui perjuangannya untuk mengatasi perilaku egois dan berdosa untuk
melakukan apa yang dia tahu benar.
Kita juga akrab dengan mentalitas massa.
Dinamika kelompok dapat memisahkan, memecahkan
hati nurani individu, dan sebaliknya orang-orang yang baik terkadang
melakukan hal-hal yang mengerikan. Meskipun Pontius Pilatus tidak dapat
menemukan sesuatu yang salah dengan Yesus, menurut Injil Lukas, ketika massa
berseru, "Salibkan Dia," Pilatus menyetujui. Contoh perilaku kelompok
jahat yang terkenal, seperti pembantaian My Lai selama Perang Vietnam dan massa
lynch di Amerika Serikat, mengingatkan kita akan konsekuensi mengerikan dari kejahatan
yang terkorporasi. Komunitas religius dapat tersapu dalam semangat yang
bersemangat dan mengembangkan mentalitas massa untuk mendukung seorang guru
karismatik tertentu atau doktrin yang dianggap sakral. Psikologi perilaku
kelompok itu nyata dan kuat. Kekejaman religius semacam itu sama dengan
nasionalisme yang tidak terkekang. Beberapa kali keduanya menjadi saling
terkait secara eksplosif.
Jadi fokus penelitian ini bersifat
pragmatis. Semakin efektif kita dalam mengidentifikasi pola berbahaya dari
agama yang merusak, semakin besar kemungkinan orang-orang yang memiliki niat
baik dapat mencegah bencana yang di inspirasi atau dibenarkan oleh agama.
Apakah seseorang percaya bahwa agama itu sendiri adalah masalahnya, tradisi
keagamaan yang beragam akan terus menjadi fakta kehidupan yang kuat di
komunitas dunia kita yang semakin saling bergantung. Apa pun penjelasan
filosofis atau teologis yang bisa dilakukan untuk hal-hal jahat yang terjadi,
mendekati masa depan secara pasif tidak dapat diterima. Setelah 11 September,
adalah kewajiban semua orang untuk mendidik diri kita sendiri tentang sikap dan
perilaku keagamaan yang menyebabkan penderitaan yang meluas.
Kecenderungan terhadap kejahatan di
dalam komunitas religius selalu memberi tanda peringatan. Sikap dan tindakan jelas
tertentu dapat menjadi pertanda perilaku berbahaya atau jahat yang akan
terjadi.
2.
Absolute Truth Claim ( Klaim
Kebenaran Absolut)
Setiap
bertanya dalam hal korupsi keagamaan harus dimulai dengan klaim kebenaran yang
dibuatnya. Selalu, klaim kebenaran religius didasarkan pada ajaran otoritatif
pemimpin karismatik “terinspirasi” atau mirip rasul atau tentang interpretasi
teks suci, yang sering dikaitkan dengan pemimpin berbakat semacam itu. Mereka
meresapi tradisi keagamaan dengan cara yang jelas dan halus. Dalam setiap
agama, klaim kebenaran merupakan dasar dimana seluruh struktur berada. Namun,
ketika interpretasi tertentu dari klaim ini menjadi proposisi yang memerlukan
persetujuan yang seragam dan diperlukan sebagai doktrin yang kaku, kemungkinan korupsi
dalam tradisi tersebut meningkat secara eksponensial. Kecenderungan semacam itu
adalah pertanda pertama dari kejahatan yang mungkin terjadi.
Kita
dapat pahami bahwa setiap tradisi keagamaan memiliki unsur yang cenderung
mengarah pada hal yang kaku dan memperlihatkan bahaya dan potensi kesalahan
dalam mempertahankan kekakuan semacam itu adalah langkah yang penting untuk
memberi alternatif sehat. Klaim kebenaran religius yang otentik tidak pernah
tidak fleksibel dan eklusif seperti penganut yang gigih bersikeras. Klaim
kebenaran agama yang korup selalu kekurangan kesadaran membebaskan bahwa
manusia terbatas saat mereka mencari dan mengartikulasikan kebenaran agama.
Dua
ribu tahun, orang kristen memberitakan injil mengenai Yesus yang menjelma
menjadi anak Allah mati untuk dosa dunia - untuk semua orang di dunia. Demikian
pula, orang muslim yang datang dari Arab pada abad ke tujuh dengan memberitakan
iman yaitu Shahadah: Tidak ada Tuhan tetapi Tuhan dan Muhammad menyampaikan
pesan Tuhan. Seperti injil kekeristenan, shahadah tidak sederhana dan mudah di
awal kemunculannya. Tigabelas kata-kata yang mengandung makna dan kemungkinan
ditafsir. Mereka menunjukkan implikasi utama tentang Tuhan, sifat dari
kesulitan manusia, sesuai jalan untuk hidup di dunia ini, dan bimbingan menuju
tujuan akhir dari keberadaan manusia itu sendiri.
Kedua
dari pengakuan iman yang berhubungan ke dua untuk Tuhan dan fungsi dari
Muhammad. Tuhan, yang dipahami bagi orang Muslim sebagai pencipta, penopang dan
hakim di akhir waktu, tidak meninggalkan manusia itu sendiri. Komunikasi Tuhan
untuk manusia disampaikan melalui nabi-nabi dan pesan-pesan, yang terakhir,
atau “segel” yang diantarai oleh Muhammad. Islam mengerti bahwa Quran adalah
wahyu ilahi dan batasan wewenang wahyu dari Allah, yang membantu manusia
mengetahui tentang Allah dengan baik sebagai pedoman hidup sesuai kehendak
Tuhan. Dalam Al-Quran dikatakan bahwa pesan dari Tuhan adalah sebauh contoh
yang baik (33:21). Demikian, perkataan dan perbuatan dari pesan, panggilan dari
hadits, mendatangkan sumber kedua dari shariah (“jalan” “bimbingan atau hukum
islam”). yang resmi dan ritual tugas bakti membuat sebuah struktur yang
memberikan panduan dan disiplin untuk orang yang dalam kebanggan dan penuh
dosa, sehingga cenderung lupa bahwa Tuhan menciptakan dan menopang mereka dan
akan menggegam pertanggungjawaban mereka pada hari penghakiman.
Penjelasan
awal tentang pernyataan iman Islam ini segera menimbulkan pertanyaan serius.
Apakah orang Kristen bersalah karena syirik jika mereka menghubungkan manusia,
Yesus, dengan Tuhan? Apakah orang Kristen yang menegaskan doktrin Trinitas
benar-benar orang musyrik? Bagaimana Anda mengatasi ketegangan antara kesetiaan
total kepada Tuhan dan tanggung jawab kewarganegaraan di negara Muslim yang
kurang sempurna? Bagaimana seorang Muslim bisa tinggal di tanah yang diperintah
oleh non-Muslim? Ini dan sejumlah pertanyaan lain yang tersirat dalam kredo
dibahas di sumber otoritas Islam yang diakui. Meskipun demikian, umat Islam
sering berbeda dalam interpretasi mereka atas petunjuk yang diberikan dalam Al
Qur'an, hadis (ucapan dan tindakan yang berwibawa dari Muhammad), dan pendapat
para ilmuwan hukum.
Ketidaksepakatan
tentang bagaimana menafsirkan klaim kebenaran agama menyebabkan perpecahan dan
fragmentasi didalam Islam, sama seperti di semua tradisi utama. Kekristenan,
yang dimulai di lingkungan yang sederhana dua ribu tahun yang lalu di
Palestina, sekarang mencakup ribuan gereja dan denominasi yang diakui secara
resmi di seluruh dunia. Dalam kisah sejarah gereja Kristen yang terus
berlanjut, pandangan dan praktik yang berbeda seringkali dianggap oleh orang
lain sebagai penyimpangan dari kebenaran dasar. Masalahnya diperbesar lintas
agama. Berpegang teguh pada interpretasi tertentu terhadap klaim kebenaran memungkinkan
orang merasa dibenarkan untuk memegang semua jenis sikap dan perilaku, termasuk
keyakinan dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama yang mereka kenal.
Sementara klaim kebenaran adalah
bahan penting bagi agama, namun juga titik-titik di mana interpretasi berbeda
muncul. Ketika pemahaman tertentu menjadi kaku dan tidak kritis sesuai dengan
kebenaran absolut, orang-orang yang bermaksud baik dapat dan sering melukis
diri mereka sendiri ke sudut di mana mereka harus mengasumsikan sikap defensif
atau bahkan ofensif. Dengan konsekuensi yang berpotensi merusak, orang mengira
mengenal Tuhan, menyalahgunakan teks-teks suci, dan menyebarkan versi kebenaran
absolut mereka yang khas
a.
Knowledge of God (Pengetahuan akan
Tuhan)
Di seluruh dunia dan selama berabad-abad
manusia di semua budaya telah mencoba untuk memahami dan mengartikulasikan
keberadaan kita di alam semesta. Beberapa pemahaman kita tentang Tuhan yang
transenden adalah inti dari pencariannya. Dua faktor utama menimbulkan hambatan
berat. Pertama, ada banyak cara untuk mengetahui: pengalaman, pengamatan,
nalar, intuisi, wahyu, dan sebagainya. Bahkan orang-orang yang menganggapnya
menarik hanya pada wahyu ilahi karena sumber kebenaran agama mereka sebenarnya
menggunakan sumber epistemologis lainnya pada saat bersamaan. Kedua, apa pun
yang ditangkap atau diketahui, tidak masalah seberapa besar kebenarannya, dapat
dikomunikasikan kepada orang lain hanya melalui simbol. Ini sudah jelas ketika
kita memikirkan seni, musik, puisi, bahasa isyarat, atau bahasa tubuh. Tapi
sering terabaikan saat kita berkomunikasi melalui prosa, baik lisan atau
tulisan. Klaim kebenaran agama paling sering dinyatakan dalam bahasa prosa.
Namun, bahasa pada dasarnya besar, sistem simbol yang rumit. Dan bahkan jika
Anda tahu simbolnya dengan baik, kata dan banyak hal bergerak di berbagai
tingkatan dan membutuhkan nuansa dan penjelasan.
Kita
dapat dengan mudah melihat kebutuhan dan keterbatasan mengenai bahasa simbolis
ketika kita mengajukan pertanyaan sederhana: apa yang kita maksud ketika kita
mengatakan "Tuhan"? tanyakan pada diri sendiri pertanyaan itu.
Apakah Tuhan seperti seorang tokoh
kakek yang lebih besar dari pada duduk di awan di atas takhta besar dengan
malaikat-malaikat di dekatnya memikat musik yang indah dengan kecapi ? Citra
itu tetap populer di kalangan pria Yahudi dan Kristen, yang pada tahap
perkembangan kognitif tertentu, cenderung mengkonseptualisasikan suatu hal
dengan sangat konkret. Tapi penulis alkitabiah menunjukkan betapa pentingnya bergerak
melampaui bahasa antropomorfik sederhana ke konsep yang lebih abstrak. Dalam
pasal ketiga dari Kejadian, Tuhan digambarkan dengan istilah yang sangat
manusiawi - mengunyah daun sambil berjalan di kebun dan memanggil Adam dan
malam, yang bersembunyi di balik sebatang pohon. Visi Yesaya tentang takhta
surgawi sangat mengagumkan bagi nabi yang akan segera datang. Kitab Ayub
berakhir dengan pengingat yang keras bahwa manusia - bahkan orang yang paling
benar di bumi - tidak dapat mulai memahami Tuhan.
Ketika konseptualisasi tertentu
mengarah pada doktrin dan daya tarik yang kaku tentang Tuhan, kemungkinan
masalah utama meningkat dengan cepat.
Allah hanyalah kata Arab untuk
Tuhan. Orang yang berbahasa Arab - termasuk lebih dari lima belas juta orang
Kristen yang tinggal di Timur Tengah hari ini - berdoa kepada Allah;
orang-orang yang berbicara bahasa Prancis berdoa kepada Dieu; Orang-orang yang
berbicara bahasa Jerman berdoa pada Gott. Saya telah bergabung dalam banyak
ibadah Kristen di Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania dan Israel / Palestina
selama beberapa dekade. Kami selalu berdoa kepada Allah. Tapi ini lebih dari
sekadar bahasa. Mengambil ke aitwaves untuk mengklaim bahwa umat Islam
menyembah tuhan palsu yang tidak bertanggung jawab. Ini mengungkapkan betapa
buruknya pemimpin terkemuka yang tidak tahu informasi dan betapa mudahnya
menjadi diperbudak oleh klaim kebenaran yang tidak fleksibel tentang Tuhan.
Bagaimanapun, tidak masuk akal untuk menggunakan mimbar untuk memicu
ketidaktahuan dan kefanatikan.
Kebenaran
religius mengklaim tentang Tuhan atau yang transendenmengandalkan bahasa. Bila
bahasa itu ditekankan menjadi doktrin yang tak pantang menyerah,orang sering
mengambil peranuntuk membela Tuhan.
Teks
suci menjadi sumber kebijaksanaan dan bimbingan yang kaya dalam perubahan
kehidupan. Seperti hal yang sangat kuat, teks-teks suci dapat disalahgunakan
melalui semacam pengudusan keseluruhan dan melalui pembacaan dan interpretasi
yang selektif. Teks suci adalah komponen yang paling mudah disalahgunakan oleh
agama. Koran harian dan penyiar Alkitab atau Alquran mendukung kebijakan yang
mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Teks suci menyediakan alat yang mudah
diakses dan berwibawa untuk mempromosikan agenda atau sebab. Observasi tajam
dari Shakespeare adalah apropos: "Bahkan iblis pun bisa mengutip kitab
suci untuk tujuannya." Sayangnya, sejumlah besar orang rentan terhadap
retorika teologis sederhana berdasarkan prooftexts atau teks pendukung.
Pemanfaatan teks-teks yang dipalsukan secara manipulatif dapat menyebabkan
fanatisme kekerasan.
Klaim
kebenaran berdasarkan tindakan yang selektif terhadp pembacaan teks-teks suci
mengakibatkan korupsi dalam keagamaan yang tidak segera menghasilkan kekerasan.
Tapi sempit, kebenaran mutlak dapat mengklaim dan sering memiliki konsekuensi
destruktif. Banyak orang Kristen mengklaim Alkitab adalah Firman Tuhan, secara
harfiah benar dalam segala hal lisan
diilhami. Jutaan memeluk pandangan sedemikian, rupanya sering dilakukan tanpa
banyak refleksi. Sebaliknya mereka menunda
untuk figur otoritas yang menentukan "itu" posisi Kristen
tentang berbagai masalah, mulai dari seksualitas umur manusia secara fisik di
planet. Jika Anda juga tidak yakin bahwa klaim kebenaran agama yang didasarkan
pada bukti teks seperti yang ditafsirkan oleh figur otoritas dapat memiliki
konsekuensi yang berbahaya, berpikir tentang sejarah antisemitisme atau
pembenaran perbudakan atau diskriminasi terhadap wanita atau sikap perilaku
terhadap orang-orang yang homoseksual.
Tapi
pemikiran dan kejujuran yang jelas dan murni mengenai teks suci seseorang
tidaklah mudah. Kebanyakan orang tidak didorong untuk mengajukan pertanyaan
kritis dalam tradisi mereka sendiri. Dilihat dari perspektif lain, masalah
menjadi jelas dan pentingnya penyelidikan kritis mudah dilihat.
Penyalahgunaan
teks-teks suci yang muncul dalam berbagai bentuk. Ini tidak boleh dibiarkan,
bagaimanapun, mengaburkan fakta yang meyakinkan bahwa teks suci telah menjadi
sumber kekuatan, inspirasi, dan bimbingan konstan bagi orang-orang di banyak
kebudayaan selama lebih dari tiga ribu tahun. Dengan cara yang tak terbayangkan
seratus tahun yang lalu, orang-orang Kristen di Barat sekarang memiliki akses
yang siap untuk menerjemahkan teks-teks yang dihargai oleh ratusan juta umat
Hindu, Budha, Tao, Muslim, dan lainnya.
b.
The Abuse of Sacred Texts
(Penyalahgunaan teks suci)
Teks
suci menjadi sumber kebijaksanaan dan bimbingan yang kaya dalam perubahan
kehidupan. Seperti sesuatu hal yang sangat kuat, teks-teks suci cenderung dapat
disalahgunakan melalui semacam proses pengudusan keseluruhan dan melalui
pembacaan dan interpretasi yang selektif. Teks suci adalah komponen yang paling
mudah disalahgunakan oleh agama. Koran harian dan penyiar Alkitab atau Alquran
mendukung kebijakan yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Teks suci
menyediakan alat yang mudah diakses dan berwibawa untuk mempromosikan agenda
atau sebab. Observasi tajam dari Shakespeare adalah apropos: "Bahkan iblis
pun bisa mengutip kitab suci untuk tujuannya." Sayangnya, banyak orang
rentan terhadap retorika teologis sederhana berdasarkan prooftexts atau teks
pendukung. Pemanfaatan teks-teks yang dipalsukan secara manipulatif dapat
menyebabkan fanatisme kekerasan.
Klaim
kebenaran berdasarkan tindakan yang selektif terhadap pembacaan teks-teks suci
mengakibatkan korupsi dalam hal keagamaan yang tidak segera menghasilkan kekerasan.
Tapi sempit, kebenaran mutlak dapat mengklaim dan sering memiliki konsekuensi
destruktif. Banyak orang Kristen mengklaim Alkitab adalah Firman Tuhan, secara
harfiah benar dalam segala hal lisan
diilhami. Jutaan memeluk pandangan sedemikian, rupanya sering dilakukan tanpa
banyak refleksi. Sebaliknya mereka menunda
untuk figur otoritas yang menentukan "itu" posisi Kristen
tentang berbagai masalah, mulai dari seksualitas umur manusia secara fisik di planet.
Jika Anda juga tidak yakin bahwa klaim kebenaran agama yang didasarkan pada
bukti teks seperti yang ditafsirkan oleh figur otoritas dapat memiliki
konsekuensi yang berbahaya, berpikir tentang sejarah antisemitisme atau
pembenaran perbudakan atau diskriminasi terhadap wanita atau sikap perilaku terhadap
orang-orang yang homoseksual.
Tapi
pemikiran dan kejujuran yang jelas dan murni mengenai teks suci seseorang
tidaklah mudah. Kebanyakan orang tidak didorong untuk mengajukan pertanyaan
kritis dalam tradisi mereka sendiri. Dilihat dari perspektif lain, masalah
menjadi jelas dan pentingnya penyelidikan kritis mudah dilihat.
Penyalahgunaan
teks-teks suci yang muncul dalam berbagai bentuk. Ini tidak boleh dibiarkan,
bagaimanapun, mengaburkan fakta yang meyakinkan bahwa teks suci telah menjadi
sumber kekuatan, inspirasi, dan bimbingan konstan bagi orang-orang di banyak
kebudayaan selama lebih dari tiga ribu tahun. Dengan cara yang tak terbayangkan
seratus tahun yang lalu, orang-orang Kristen di Barat sekarang memiliki akses
yang siap untuk menerjemahkan teks-teks yang dihargai oleh ratusan juta umat
Hindu, Budha, Tao, Muslim, dan lainnya.
c.
The Special Challenge for Missionary
Religions (Tantangan khudud bagi misionaris keagamaan)
Bukanlah sebuah kebetulan, bahwa
agama kedua terbesar dan paling meluas memasukkan perintah penginjilan,
bermissi. Tidak seperti umat percaya Hindu, Yahudi, Taoist, dan Praktisi
Sintho, Kristen dan Islam dipanggil untuk beriman, dengan hormat menginjili sampai
ke ujung bumi. Kedua penganut ini (kristen dan islam) sama-sama memiliki mandat
didalam mandat mereka untuk melakukan penginjilan. Bagaimanapun juga, pemahaman
sempit mengenai proses misi yang disatukan dengan proses impreialisme dan
kekuatan militer yang dimana itu dapat menghancurkan proses penunjukan kasih
dan Rahmat Allah.
Kegiatan misionaris yang di
informasikan berdasarkan kalim kebenaran mutlak itu menegaskan secara tajama
siapa yang dialam dan siapa yang diluar melanjutkan untuk membentuk sebuah
pandangan.
Langkah maju kedepan belum tertutup.
Kristen dan Muslim membutuhkan sikap untuk tidak meninggalkan komitmen mereka
untuk membagi kabar baik mengenai pandangan mereka terhadap Tuhan dengan
manusia. Untuk mengisyaratkan hal diatas, mereka harus mengingat bahwa memasukkan
orang masuk agama lain bukanlah tanggung jawab mereka. Panduan mengenai
bagaimana untuk melahirkan penemuan kepercayaan didalam hati dari antara kedua
tradisi. Perjanjian Baru dan Al-Quran kedu-duanya mengutamakan bahwa kasih dari
Allah adlah manifestasi dari jalan orang untuk berhubungan dengan yang lain.
Kedua tradisi mengajarkan manusia untk menighitung hari mereka kepada
penghakiman.
Banyak masalah dari proses
penyebaran agama adalah terikat kepada issu mengenai kekuasaan. Seringkali
proses misi yang sehat terdapat jika mereka dalam kondisi minoritas.
d.
A Human View of Truth (Pandangan
manusia tentang kebenaran)
Klaim
kebenaran ada di mana-mana. Tapi kebenaran seringkali sulit dipahami.
Bagaimanapun cara kita bersikap objektif, cara kita untuk menyeleksi dan
memproses informasi mengenai masalah yang kompleks tentu saja dikondisikan oleh
berbagai macam faktor.
Kita
dapat lakukan dengan baik klaim kebenaran mutlak agama dengan memperhatikan isu
dan kejadian yang dimana kita memiliki data yang jelas. Manusia adalah sangat
subjektif dan terkondisi oleh jalan yang dia lakukan dan dia tidak pahami.
Kebutuhan
akan bintang tetap, dimana kepastian di tengah kehidupan kita yang lemah di
planet yang berbahaya dan tak terduga, adalah nyata dan mudah dipahami.
Pemimpin keagamaan yang dapat membungkus dan melayani kebenaran absolut untuk
jemaat yang menerima.
Lebih
mudah untuk mengetahui kebenaran daripada mencara kebenaran itu sendiri. Tetapi
kehidupan beragama adalah perjalanan yang dimana kita belajar, tidak belajar,
berubah dan bertumbuh. Kebenaran religius adalah hal yang penting; mereka tidak
mudah dikemas atau dibatasi dengan klaim mutlak. Dan sebaliknya, mencari
kebenaran agama adalah proses yang terus berjalan.
Pandangan
manusia mengenai kebenaran, salah satunya ialah dinamis dan relasional
mengaktifkan orang utnuk merangkul dan menrerima fondasi kebenaran tanpa harus
memdatkan dunia menjadi kaku dan statis, mutlak, pernyataan yang proporsional. Sebaliknya,
keyakinan religius yang menjadi rahasia mutlak dapat dengan mudah mengarahkan
orang untuk melihat diri mereka sebagai agen Tuhan. Orang menjadi begitu berani
mampu untuk melakukan tindakan kekerasan dan destruktif atas nama agama.

Komentar
Posting Komentar