When Religion Becomes Evil - Charles Kimbal



When Religon Becomes Evil
Charles Kimbal

1.      Is Religion the Problem ? (Apakah agama itu masalah)
Agama adalah hal utama didalam kehidupan manusia. Kita semua dapat melihat indikasi tersebut setiap hari, dan kita semua mengetahui hal tersebut ketika kita melihatnya. Tetapi secara mengejutkan agama itu sulit untuk didefenisikan dengan baik apa itu agama.

a.      The Problem of Definitions and the limits of our perspective ( Masalah dari Definsi dan batas dari Perspektif kita)
Masalah dari mendefinisikan agama adalah Point utama yang baik untuk buku ini sejauh ini. Kata Agama membangkitkan berbagai macam gamabaran, ide, tindakan, kepercayaan, dan pengalaman – kadang positif dan kadang negatif. Meletakkan elemen terpisah ini menjadi referensi bingkai yang koheren bukanlah hal yang mudah atau kecil. Hal ini membutuhkan banyak usaha. Hal ini memaksa kita untuk melangkah mundur dan merefleksikan atau merenungkan asumsi awal kita mengenai agama itu sendiri.
Kata agama juga memunculkan pemikiran dalam benak kita mengenai bagaimana agama itu sifatnya destruktif atau juga merupakan tindakan kebiasaan yang kejam. Asumsi mengenai agama pada masa sekarang juga menganggap agama itu merupakan akar dari tindakan kekerasan, intoleransi dan penyalahgunaan wewenang.
Banyak perkumpulan agama umum yang berhubungan dengan agama sekarang telah berubah, sebagian dikarenakan sudut pandang yang berbeda secara significant dengan generasi sebelumnya. Walaupun agama secara religius berubah, kita sudah dapat meletakkan kekhawatiran yang jauh lebih besar kepada pluralitas agama masa kini.
Kita sadari atau tidak, kita bergumul dengan isu mengenai kekhususan dan pluralisme, pada tingkat tertentu kita di peringatkan bahwa agama itu adalah komponen yang kompleks dari kehidupan manusia. Kita mengetahui agama mencakup tradisi dan pengalaman kita sendiri. Beberapa berasal dari pengamatan pribadi atau gambar media; beberapa gagasan telah disampaikan secara kultural dengan cara halus dan tidak begitu halus.
Peristiwa-peristwa di dunia pada awal milenium baru ini memberikan dorongan untuk melangkah mundur dan berpikir lebih luas tentang agama dan kekuatan yang bergolak yang berhubungan dengan agama di dunia kita. Ketika agama menjadi jahat Terlepas dari pandangan pribadi seseorang tentang agama, studi perbandingan agama menawarkan kepada kita cara yang efektif untuk mengatasi masalah ketidaktahuan secara  rinci .

b.      Help from the Comparative Study of Religion (Bantuan dari Studi Perbandingan Agama)
Metode umum untuk memahami dunia agama ini melibatkan pendekatan pendekatan deskriptif yang jujur. Mengumpulkan data dan mengorganisasi fakta mengenai agama tertentu adalah hal yang tepat untuk memulai studi perbandingan agama. Kita dapat melihat pada saat peristiwa serangna 11 september. Wartawan, pemimpin agama dan politik, dan banyak warga non-Muslim sangat ingin memahami apa yang sedang terjadi dan mengapa. Meskipun Islam adalah agama global dan aktivis dan negara Muslim sering muncul dalam berita selama beberapa dekade ini, banyak orang menemukan fakta bahwa betapa sedikit yang mereka ketahui tentang agama terbesar kedua di dunia ini. Setiap harapan untuk memahami beberapa gambar yang sering kali saling bertentangan membutuhkan semacam pengenalan dasar tentang Islam. Tokoh televisi terkemuka seperti Oprah Winfrey, Peter Jennings, dan Christianne Amanpour melakukan seminar untuk jaringan masing-masing. Wartawan cetak - dari surat kabar harian besar dan publikasi mingguan nasional besar - bergabung dalam proses tersebut. Gereja, sinagoge, dan masjid menyelenggarakan program pendidikan. Universitas dan organisasi kemasyarakatan menampilkan panel ahli dan presentasi. Banyak upaya edukasi semacam itu yang penting dan sesuai sehingga melalui prakarsa ini, orang bisa mengambil langkah-langkah pertama yang disengaja dari sebuah perjalanan penting di luar wilayah lokal dan asing, ke dunia global dan yang kurang akrab.
Ini adalah hal yang menakutkan untuk menyajikan informasi dasar tentang agama dunia dengan cara yang adil dan mudah dipahami dalam waktu yang sangat singkat. Siapa pun yang ingin melakukannya harus mencoba untuk menggambarkan tradisi lain dengan cara yang paling dipeluk dan tradisi tersebut harus dikenali dan diyakinkan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa orang tidak dapat memberikan penilaian nilai. Kita semua melakukan ini setiap saat. Tetapi langkah pertama adalah menyajikan informasi secara akurat dan adil. Saat ini, tidak seperti bertahun-tahun yang lalu, tidak ada kekurangan data, banyak informasi dapat diakses secara terbuka. Selain itu, semakin sering penonton hadir dalam presentasi publik akan beragam dalam hal keagamaan. Informasi yang akurat harus menjadi dasar untuk penilaian nilai apa pun yang dibuat orang secara tepat waktu.
Agama seharusnya tidak cukup dipahami sebagai kumpulan individu, abstrak, pengajaran dan praktek. Menemukan fakta-fakta tentang agama merupakan tempat terbaik untuk memulai, dan juga lebih diperlukan. Memahami agama perlu merenungkan bagaimana penganut agama memahami dan menafsirkan unsur unsur dalam agama, dan agama tidak akan eksis dalam kekosongan; tetapi agama akan eksis didalam hati, fikiran dan didalam perilaku manusia. Ini adalah hal yang sangat manusiawi, dan merupakan kenyataan hidup. Untuk mengatakan bahwa Muslim merangkul Al Qur’an sebagai firman Tuhan yang benar, namun berbagai cara muslim terkait masalah teks rahasia merupakan hal yang lebih kompleks seperti yang akan kita temukan dalam bab mendatang.
Sebagai ladang studi, perbandingan agama (kadang disebut sejarah agama) telah melampaui permintaan yang terfokus dalam tradisi keagamaan tertentu. Beberapa sarjana yang berkonsentrasi pada hubungan antara sejarah dengan tradisi. Batas batas yang memisahkan Hindu dan Budha, atau orang orang Yahudi, Kristen dan Muslim dalam pemeriksaan yang terperinci diartikan berubah menjadi buruk dan sangan fleksibel. Agama agama sering berbagi tentang cerita suci, ruang yang sakral, dan orang orang suci. Kita bisa menelusuri pola dualisme kosmik, misalnya melalui beberapa tradisi yang berasal dari Timur Dekat kuno. Penganut Zoroastrianisme mendefenisikan kosmik sebagai perjuangan antara baik dan jahat seperti Ahura Mazda dan Ahriman (figur Allah dan kejahatan), malaikat dan iblis, surga dan neraka. Hal ini menjadi fitur penting dari Judaisme kuno, Kristen dan Islam. Setiap tradisi keagamaan-mulai dari agama besar di dunia sampai kepada agama agama suku di Afrika dan Amerika Utara- memiliki cerita suci (mitos) tentang penciptaan dunia, dan menggabungkan banyak fitur atau motif yang serupa. Dalam beberapa kasus, kita dapat melihat jelas hubungan antara tradisi-tradisi; banyak kasus yang menunjukkan bahwa kesamaan tidak dapat dijelaskan dengan mudah, baik dengan pendekatan geografis atau perpindahan orang orang.
Pendekatan komparatif juga mengungkapkan sejumlah karakteristik umum yang dimiliki dan disebar oleh kebanyakan komunitas keagamaan. Terlepas dari perbedaan pandangan dunia dan klaim kebenaran yang bertentangan, tradisi keagamaan berfungsi dengan cara yang sama dan bahkan berbagi beberapa ajaran dasar. Semua tradisi keagamaan, misalnya membedakan antara yang sakral dan profan. Sebagai ilustrasi, dalam hal mendefinisikan peristiwa atau cerita suci, orang, tempat, waktu dan objek tertentu terpisah dari hal-hal duniawi. Orang Hindu dan Budha, praktisi Shinto, dan tradisi Penduduk asli Amerika memiliki kisah suci, manusia, benda, gunung, sungai, dan sejenisnya yang paralel atau berhubungan.
Kehidupan beragama di masyarakat selalu terstruktur seputar komponen-komponen ini. Kalender di setiap agama, misalnya cenderung mengikuti siklus tahunan dimana peristiwa sakral yang menjadi penentu (misalnya; Natal, Paskah, Haji, Diwali, pencerahan Budha) diceritakan kembali, dirayakan dan sering disahkan melalui ritual.  Ritual kalender-apakah itu ibadah mingguan atau perayaan tahunan-ikuti pola yang dapat diprediksi dan memiliki tujuan serupa di hampir semua komunitas religius.
Agama juga menawarkan analisis tentang keadaan manusia, dan mereka menguraikan jalan menuju tujuan yang diinginkan. Pemahaman tentang kondisi manusia didefinisikan secara berbeda dan tujuannya tidak sama, namun pola fungsional diantara tradisi keagamaan sebanding. Suatu hal yang menarik adalah bahwa sebagian besar tradisi keagamaan menantikan harapan masa depan di zaman baru.  Banyak kelompok dalam agama-agama besar menghormati seorang tokoh penyelamat, seseorang yang akan mengantarkan pada zaman baru, baik dibumi atau di dunia surgawi.
Studi perbandingan agama membantu kita melihat keterkaitan antara agama-agama tersebut, termasuk persamaan bagaimana agama digunakan oleh penganut dan bahkan persamaan dalam hal doktrin. Contoh diatas secara singkat menggambarkan pendekatan komparatif yang digunakan dalam buku ini. Pada satu tingkat, perlu untuk mengidetifikasi dan menggambarkan fakta-fakta dasar tentang agama dengan cara yang dapat dikenali oleh orang-orang dalam tradisi itu dan dapat dipahami oleh orang lain. Tetapi kita harus dapat melangkah lebih jauh lagi, yaitu berusaha untuk mengetahui apa arti data bagi beberapa penganut, khususnya perlakuan tindakan berbahaya yang dilakukan  yang dihubungkan dengan bagaimana mereka memahami tradisi mereka. Hal ini dimungkinkan untuk menarik kesimpulan yang lebih luas.
Mengidentifikasi karakteristik umum diantara agama tidak sama dengan mengatakan bahwa semua agama sama. Jelas tidak. Dapat kita ketahui bahwa, satu agama tidak sama dari satu abad ke abad berikutnya, dari satu benua ke benua berikutnya atau dari satu komunitas  pemujaan ke seberang lainnya.
Jika keragaman ada di dalam satu komunitas religius, maka ada juga didalam setia anggota komunitas tersebut. Kita semua selalu dan sedang dalam proses perubahan. Jika kita berpikir, mengamati, mendengar, membaca atau memproses informasi setiap hari, kita akan sadar bahwa kita akan terus berubah dengan cara kecil dan kadang-kadang substansial, termasuk berkenaan dengan agama kita sendiri.  Siapa diantara kita yang benar benar statis? Siapa yang bisa mengatakan pandangan kita tetap sama persis apapun data yang dimasukkan ke dalam otak kita? Pemahaman religius adalah proses yang terus menerus dan sangat manusiawi.
Fakta sejarah ini harus ditanggapi dengan serius, tapi bukan berarti semua jalan menuju gunung yang sama. Peristiwa di dunia kita saat ini menunjukkan bahwa nilai Penilaian sangat dibutuhkan Saya yakin ada kriteria yang dapat kita gunakan untuk membuat keputusan yang informatif dan bertanggung jawab. Kebebasan beragama adalah hal yang baik. Jadi, kebebasan dari agama lain mungkin diharapkan untuk memaksakan kepada orang-orang yang berbeda.
Pendekatan komparatif terhadap agama dapat membantu kita menjernihkan cara-cara manusia saling berhubungan dan saling tergantung. Memahami. Karena agama-agama itu juga saling tergantung memiliki implikasi moral.

c.       Is Religion the Problem ? (Apakah Agama itu masalah)
Bagi orang-orang yang akhir-akhir ini menerima tindakan kekerasan atau dikecam oleh agama atau termotivasi oleh tindakan kekrasan oleh agama, konsekuensinya selalu sangat serius. Pada masa sekarang hampir semua orang di manapun bisa menjadi korban perilaku destruktif yang berasal dari separuh dunia. Kekalahan mengerikan dari kefanitasan akan agama atau paham-paham teologis yang merusak tidak dapat lagi ditebak atau didefenisikan berdasarkan batas geografis.
Potensi pemusnah massal ini bukan hal yang baru. Tapi kita berada dalam situasi baru. Kemungkinana bahwa seorang yang sangat fanatik agama akan memprakarsai atau menjadi  katalis perusak yang tak terkatakan adalah tidak jauh. Sejarah tanpa diragukan meningggalkan beberapa motivasi keagamaan atau komunitas, dan juka mempengaruhi manusia untuk melaaskan kekerasan dan teror atas nama allah mereka atau keyakinan mereka. Perdebatan tentang globalisme versus tribalisme atau benturan peradaban menimbulkan pertanyaan penting tentang masa depan peradaban manusia. Secara keagamaan berdasarkan figur konflik secara menyolok menjadi sebuah debat. Jelas, status quo tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang, jika bukan jangka pendek semua ini menimbulkan pertanyaan. , "Apakah agama itu masalah?"

d.      Why Those Who Say Yes Are Right – in part (Mengapa bagi yang berkata YA itu benar – di satu sisi )
Respon atas pertanyaan ini muncul dari beberapa arah, dari orang beragama dan tidak beragama. Di satu sisi bertanya “apakah agama itu masalah ?” berdasarkan berapa besar seseorang memahami agama. Pada masa ini bagi banyak orang, jawabannya adalah YA.
            Banyak orang beragama melihat agama sebagai masalah. Melalui agama, mereka tanpa terkecuali menganggap orang lain memiliki agama yang palsu.
Banyak orang menganggap agama sebagai masalah. Mereka berargumentasi berbeda  pandangan bahwa dunia keagamaan tradisional lebih berjalan sesuai rencana, karena sains telah membuat sebuah ejekan-ejekan bagi agama. Agama yang suci dalam pandangan ini adalah cara yang tidak bertentangan dengan jaman, melihat dunia khususnya kosmos yang membabahayakan. Perspektif ini memiliki kelebihan dan dukungan luas. Beberapa contoh dalam buku ini bisa digunakan untuk memperkuat kasus ini. Munculnya penyelidikan ilmiah modren mempertanyakan praduga keagamaan, karena pertanyaan tatanan alam oleh orang-orang memandang agama dapat menjawabannya, dapat dipecahkan dengan percaya diri dengan mengamati dan eksperimen didunia fisik secara saksama. Kasus terkenal Jen Galileo mengungkapkan hubungan yang tidak nyaman antara teolog tradisional. Pemikiran dan penyelidikan ilmiah pada tahun 1633 oleh pejabat gereja yang ditemukan dan Galileo dinyatakan bersalah karena ajaran sesat yang menegaskan teori Copernican bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari. Galileo dilecehkan dan ditempatkan di tahanan bawah tanah selama tujuh tahun sampai akhirnya ia dibebaskan. Pejabat gereja telah lama mengetahui bahwa inti dari argumen Galileo dan doktrin mereka telah berdasarkan asumsi yang salah, sekalipun butuh waktu sekitar tiga abad oleh gereja Katolik untuk mengeluarkan permintaan maaf secara formal untuk urusan Galileo.
Pandangan dunia religius dan doktrin yang tidak fleksibel dikalangan kelompok kristen sering menimbulkan masalah serius dalam menghadapi pertanyaan dan hipotesis ilmiah. Persidangan tahun 1925 yang terkenal di Tennessee dikenal melalui kemenangan pengadilan tersebut tentang masalah biologi evolusioner melawan pendekatan literalis terhadap kisah penciptaan pada kitab Kejadian. Perdebatan berlanjut–dibeberapa sekolah setempat- dengan beberapa pendukung. Kristen menganjurkan  ilmu yang mereka sebut pengetahuan penciptaan jika agama meminta persetujuan intelektual atas proposisi bahwa planet ini berusia kurang dari seribu tahun dan cerita penciptaan dalam Kejadian secara harafiah adalah cara bumi diciptakan. Ketika murid-murid saya membaca cerita tentang penciptaan Izanagi dan Izanami dari Jepang atau cerita-cerita suci dari suku asli Amerika, mereka segera melihat pengertian-pengertian simbolisme untuk menyampaikan pesan yang kuat tentang kesucian dan tempat manusia dalam penciptaan. Ketika orang Yahudi dan Kristen membaca Kejadian 1-3, mereka menemukan ajaran yang kaya dan kuat tentang makna, tujuan, dan tanggungjawab manusia dalam penciptaan. Juga jelas bahwa buku ini bukan buku teks ilmiah. Apakah alam semesta semacam kue lapis tiga? Apakah ular berbisa? Benarkah ada pohon di taman Eden yang menaungi buah kehidupan yang kekal? Orientasi religius yang menghampiri anda dari sudut pandang William Jennings Bryan di Scopes sangat berbahaya. Agama yang mengharuskan pemeluk untuk melepaskan otak mereka seringkali merupakan bagian besar dari masalah keagamaan.
e.       Why Those Who say NO are Right – in Part ( Mengapa yang berkata tidak adalah benar – di satu sisi )
Huston Smith, penulis The World's Religions, buku yang telah memperkenalkan beberapa generasi mahasiswa dan jutaan lainnya untuk mempelajari agama-agama dunia, dalam bukunya Why Religion Matters secara langsung menantang orang-orang yang akan mendefinisikan agama dengan begitu sempit dan kemudian menolaknya. Berbeda dengan mereka yang percaya bahwa agama adalah masalahnya, Smith menyarankan bahwa krisis utama yang kita hadapi pada abad kedua puluh satu adalah spiritual. Dengan menggunakan metafora terowongan, Smith berpendapat bahwa saintisme dan materialisme telah berkonspirasi untuk menghalangi banyak orang melihat gambaran besarnya. Ilmu pengetahuan adalah keyakinan bahwa metode ilmiah adalah satu-satunya atau paling tidak cara yang paling andal untuk mendapatkan kebenaran dan entitas material adalah unsur eksistensi paling mendasar.
Banyak orang-orang yang beragama mengambil posisi tengah pada pernyataan tentang realitas apakah agama adalah sebuah masalah dengan menyatakan bahwa bukan agama yang membahayakan tetapi  oranglah masalahnya. Anehnya analogi ini sering dikutip oleh lawan dari pengontrolan senjatan : “Senjata tidak membunuh manusia; manusia membunuh manusia”. Penglihatan orang-orang, bukan agama yang menjadi masalahnya yang telah secara luas baik sejak, analisis awal, ini adalah sikap dan tindakan dari orang itu yang merupakan isu. Telah dicatat sebelumnya, bahwa bagaimana pun keagamaan tidaklah bisa bebas mengambang, entitas abstrak  mereka datang untuk hidup sebagai teladan yang dipeluk dan dijalani oleh orang. Tetapi bentuk dan arah tradisi orang tersebut, maka tradisi juga mengarahkan kekuasaan atas orang, dimana pengaruh itu tidak hanya datang dari satu arah hanya karena hubungan ini adalah hal yang dinamis.
Apakah agama itu masalah? Tidak. Dan iya. Jawabannya berubah di satu sisi kepada bagaimana orang memahami sifat agama. Inti orientasi dan pencarian religius, manusia menemukan makna dan harapan. Didalam asal usul mereka dan ajaran inti mereka, agama-agama mungkin mulia, tapi bagaimana mereka berkembang hampir selalu gagal mencapai cita-cita atau apa yang mereka anggap ideal. Penganutnya terlalu sering membuat pemimpin agama mereka, doktrin dan kebutuhan untuk mempertahankan struktur kelembagaan kendaraan dan pembenaran untuk prilaku yang tidak dapat diterima. Apapun pandangan pribadi seseorang tentang sifat dan nilai agama, itu adalah realitas yang kuat dan sekarang. Orang-orang yang berpikiran penuh dengan iman harus mencoba untuk belajar lebih banyak tentang bahaya dan janji yang terkandung dalam fenomena globalmanusia yang kita sebut dengan agama.

f.       Taking Religious Seriously – Globally and Locally (Membawa agama Secara serius – Secara Global dan Lokal)
Kita dapat mengatakan bahwa agama merupakan kekuatan paling kuat dan meresap dalam masyarakat. Ini adalah fakta historis dan realitas dinamis yang membentuk komunitas dunia kita sekarang dan masa depan. Dengan demikian, kita semua harus menganggap serius agama. Pemenang penghargaan buku, Thomas Friedman, dalam bukunya yang berjudul “The Lexus and the olive tree”, memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami kompleksitas komunitas dunia kita yang semakin saling bergantung dan peran sentral seperti agama dan budaya. Dia berpendapat bahwa subuah sistem yang baru dari globalisasi pada masa sekarang telah menggantikan sistem perang dingin yang mendominasi dunia selama beberapa dekade sebelum runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1989. Kita hanya bisa memahami globalisasi, Friedman berpendapat ketika kita memahami bahwa garis tajam sekali memisahkan budaya politik, teknologi, keuangan, keamanan nasional, dan ekologi kita kini lenyap. Sulit untuk membahas satu bidang atau dimensi tanpa mengacu pada yang lain. Judul bukunya mencerminkan dua kutub utama yang menarik dan menopang manusia. Lexus melambangkan semua pasar global, lembaga keuangan, dan teknologi komputer yang sedang berkembang yang dengan kita memperoleh standar hidup yang lebih tinggi saat ini. Pohon Zaitun, disisi lain, “mewakili segala sesuatu yang mengakar kita, menyadarkan kita, mengidentifikasi kita dan menempatkan kita disunia in.” Agama, menurut saya, adalah akar terbesar dan terdalam, mengangkat dan mempertahankan kehidupan dari pohon tersebut.
Thomas Friedman tahu banyak tentang pohon zaitun-secara harafiah dan simbolis. Bukunya yang berjudul Pulitzer Prize yang merupakan bukunya yang mendapat penghargaan , From beirut to jerusalem, dibangun selama bertahun-tahun sebagai kepala biro untuk New York Times yang berbasis dikota-kota yang dilanda perang tersebut. Dia tahu betul bahwa konflik besar yang dihadapi- konflik israel- palestina- arab yang sedang berlangsung dan perang lima belas tahun yang multiside di lebanon dan itu bukan hanya perang agama. Tapi tokoh agama menonjol dalam campuran dinamika politik, ekonomi, sosial dan sejarah yang bercalan secara berbelit-belit. Mereka yang secara sederhana berpendapat bahwa konflik tragis ini tidak pernah berakhir  diantara keturunan abraham  dimana terjadi salah penafsiran ilmuwan bahwa kejadian politik, ekonomi, sosial dapat dijelsakan dengna mudah. Kita perlu melihat dan saling mempengaruhi semua faktor, seperti pendukung Friedman. Untuk menganalisis secara akurat dan bergerak menuju resolusi konflik kita harus menganggap serius agama sebagai komponen utama dalam campuran.
, Stephen Carter, mengajukan permohonan terkait dengan agama secara serius dalam bukunya, The Cultureof Trust: Bagaimana Hukum dan Politik Amerika memperdebatkan Pengabdian Beragama. Buku ini terus menghasilkan perhatian satu dekade setelah pertama kali diterbitkan. Seorang profesor hukum Yale dan Episcopalian yang aktif, Carter menghadirkan berbagai cara penjaga alun-alun publik dengan sopan menegaskan hak individu untuk percaya sebagaimana yang dia inginkan sambil terus-menerus memperlakukan agama sebagai hal sepele dan tidak penting bagi orang-orang yang serius, sesuatu yang tidak disebutkan dalam dialog publik yang bijaksana Seperti Huston Smith, Carter menunjukkan bahwa menjadi orang yang memiliki akal dan agama bukanlah hanya sebuah oxymoron atau ungkapan.
g.      The Propensity Toward Evil (Kecondongan kepada Kejahatan)
Ketika presiden Bush menyandingkan baik dan jahat, dia mengartikulasikan kerangka acuan yang sudah dikenal dengan memanfaatkan tradisi dualisme kosmik yang dalam. Realitas kejahatan setidaknya setua kesadaran manusia. Dalam narasi alkitabiah, segera setelah Tuhan menyelesaikan karya penciptaan dan melihat bahwa itu baik, manusia menjadi mangsa godaan untuk mengambil pohon terlarang di taman eden, pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan.Tepat setelah pria dan wanita itu diusir dari taman, para pembaca dibawa bertatap muka dengan manifestasi kejahatan yang kejam: Kain membunuh saudaranya Habel.
Kita beresonansi dengan konsep kejahatan karena kita mengetahui ini adalah kenyataan yang selalu ada. Keinginan untuk penjelasan yang koheren mengenai asal mula dan sifat kejahatan bersifat global. Setiap tradisi keagamaan hendaknya memberikan satu atau lebih penjelasan untuk realitas kejahatan dan ketidakadilan. Jawabannya sangat bermacam, namun muncul dalam setiap tradisi. Orang yang tidak beragama juga berusaha memahami kecenderungan kejahatan, di antaranya untuk meminimalkan penderitaan dan menghindari potensi bencana. Bahkan orang-orang yang tidak menawarkan penjelasan khusus untuk kejahatan, ketidakadilan, kesakitan, dan penderitaan - orang-orang yang hanya mengangkat bahu dan berkata, "hal-hal terjadi" - umumnya tidak terlalu santai saat "bahan" terjadi pada mereka atau kepada orang yang mereka cintai.
Kita tahu kejahatan berada di antara individu dan kenyataan perusahaan. Faktor sosial dan psikologis selalu dilibatkan. Pencobaan individual terhadap perilaku perusakan diri muncul dalam banyak bentuk. Banyak tokoh heroik dalam Alkitab, misalnya, tidak dapat selalu mengatasi daya tarik kuat perilaku kekerasan dan destruktif pada tingkat pribadi. Musa mencambuk dan membunuh seorang Mesir. Hawa agung Daud untuk wanita yang sudah menikah memaksa dia untuk mengirim suaminya, seorang tentara yang setia kepada rajanya, sampai mati dalam pertempuran. Rasul Paulus secara terbuka mengakui perjuangannya untuk mengatasi perilaku egois dan berdosa untuk melakukan apa yang dia tahu benar.
Kita juga akrab dengan mentalitas massa. Dinamika kelompok dapat memisahkan, memecahkan  hati nurani individu, dan sebaliknya orang-orang yang baik terkadang melakukan hal-hal yang mengerikan. Meskipun Pontius Pilatus tidak dapat menemukan sesuatu yang salah dengan Yesus, menurut Injil Lukas, ketika massa berseru, "Salibkan Dia," Pilatus menyetujui. Contoh perilaku kelompok jahat yang terkenal, seperti pembantaian My Lai selama Perang Vietnam dan massa lynch di Amerika Serikat, mengingatkan kita akan konsekuensi mengerikan dari kejahatan yang terkorporasi. Komunitas religius dapat tersapu dalam semangat yang bersemangat dan mengembangkan mentalitas massa untuk mendukung seorang guru karismatik tertentu atau doktrin yang dianggap sakral. Psikologi perilaku kelompok itu nyata dan kuat. Kekejaman religius semacam itu sama dengan nasionalisme yang tidak terkekang. Beberapa kali keduanya menjadi saling terkait secara eksplosif.
Jadi fokus penelitian ini bersifat pragmatis. Semakin efektif kita dalam mengidentifikasi pola berbahaya dari agama yang merusak, semakin besar kemungkinan orang-orang yang memiliki niat baik dapat mencegah bencana yang di inspirasi atau dibenarkan oleh agama. Apakah seseorang percaya bahwa agama itu sendiri adalah masalahnya, tradisi keagamaan yang beragam akan terus menjadi fakta kehidupan yang kuat di komunitas dunia kita yang semakin saling bergantung. Apa pun penjelasan filosofis atau teologis yang bisa dilakukan untuk hal-hal jahat yang terjadi, mendekati masa depan secara pasif tidak dapat diterima. Setelah 11 September, adalah kewajiban semua orang untuk mendidik diri kita sendiri tentang sikap dan perilaku keagamaan yang menyebabkan penderitaan yang meluas.
Kecenderungan terhadap kejahatan di dalam komunitas religius selalu memberi tanda peringatan. Sikap dan tindakan jelas tertentu dapat menjadi pertanda perilaku berbahaya atau jahat yang akan terjadi.

2.      Absolute Truth Claim ( Klaim Kebenaran Absolut)
Setiap bertanya dalam hal korupsi keagamaan harus dimulai dengan klaim kebenaran yang dibuatnya. Selalu, klaim kebenaran religius didasarkan pada ajaran otoritatif pemimpin karismatik “terinspirasi” atau mirip rasul atau tentang interpretasi teks suci, yang sering dikaitkan dengan pemimpin berbakat semacam itu. Mereka meresapi tradisi keagamaan dengan cara yang jelas dan halus. Dalam setiap agama, klaim kebenaran merupakan dasar dimana seluruh struktur berada. Namun, ketika interpretasi tertentu dari klaim ini menjadi proposisi yang memerlukan persetujuan yang seragam dan diperlukan sebagai doktrin yang kaku, kemungkinan korupsi dalam tradisi tersebut meningkat secara eksponensial. Kecenderungan semacam itu adalah pertanda pertama dari kejahatan yang mungkin terjadi.
Kita dapat pahami bahwa setiap tradisi keagamaan memiliki unsur yang cenderung mengarah pada hal yang kaku dan memperlihatkan bahaya dan potensi kesalahan dalam mempertahankan kekakuan semacam itu adalah langkah yang penting untuk memberi alternatif sehat. Klaim kebenaran religius yang otentik tidak pernah tidak fleksibel dan eklusif seperti penganut yang gigih bersikeras. Klaim kebenaran agama yang korup selalu kekurangan kesadaran membebaskan bahwa manusia terbatas saat mereka mencari dan mengartikulasikan kebenaran agama.
Dua ribu tahun, orang kristen memberitakan injil mengenai Yesus yang menjelma menjadi anak Allah mati untuk dosa dunia - untuk semua orang di dunia. Demikian pula, orang muslim yang datang dari Arab pada abad ke tujuh dengan memberitakan iman yaitu Shahadah: Tidak ada Tuhan tetapi Tuhan dan Muhammad menyampaikan pesan Tuhan. Seperti injil kekeristenan, shahadah tidak sederhana dan mudah di awal kemunculannya. Tigabelas kata-kata yang mengandung makna dan kemungkinan ditafsir. Mereka menunjukkan implikasi utama tentang Tuhan, sifat dari kesulitan manusia, sesuai jalan untuk hidup di dunia ini, dan bimbingan menuju tujuan akhir dari keberadaan manusia itu sendiri.
Kedua dari pengakuan iman yang berhubungan ke dua untuk Tuhan dan fungsi dari Muhammad. Tuhan, yang dipahami bagi orang Muslim sebagai pencipta, penopang dan hakim di akhir waktu, tidak meninggalkan manusia itu sendiri. Komunikasi Tuhan untuk manusia disampaikan melalui nabi-nabi dan pesan-pesan, yang terakhir, atau “segel” yang diantarai oleh Muhammad. Islam mengerti bahwa Quran adalah wahyu ilahi dan batasan wewenang wahyu dari Allah, yang membantu manusia mengetahui tentang Allah dengan baik sebagai pedoman hidup sesuai kehendak Tuhan. Dalam Al-Quran dikatakan bahwa pesan dari Tuhan adalah sebauh contoh yang baik (33:21). Demikian, perkataan dan perbuatan dari pesan, panggilan dari hadits, mendatangkan sumber kedua dari shariah (“jalan” “bimbingan atau hukum islam”). yang resmi dan ritual tugas bakti membuat sebuah struktur yang memberikan panduan dan disiplin untuk orang yang dalam kebanggan dan penuh dosa, sehingga cenderung lupa bahwa Tuhan menciptakan dan menopang mereka dan akan menggegam pertanggungjawaban mereka pada hari penghakiman.
Penjelasan awal tentang pernyataan iman Islam ini segera menimbulkan pertanyaan serius. Apakah orang Kristen bersalah karena syirik jika mereka menghubungkan manusia, Yesus, dengan Tuhan? Apakah orang Kristen yang menegaskan doktrin Trinitas benar-benar orang musyrik? Bagaimana Anda mengatasi ketegangan antara kesetiaan total kepada Tuhan dan tanggung jawab kewarganegaraan di negara Muslim yang kurang sempurna? Bagaimana seorang Muslim bisa tinggal di tanah yang diperintah oleh non-Muslim? Ini dan sejumlah pertanyaan lain yang tersirat dalam kredo dibahas di sumber otoritas Islam yang diakui. Meskipun demikian, umat Islam sering berbeda dalam interpretasi mereka atas petunjuk yang diberikan dalam Al Qur'an, hadis (ucapan dan tindakan yang berwibawa dari Muhammad), dan pendapat para ilmuwan hukum.
Ketidaksepakatan tentang bagaimana menafsirkan klaim kebenaran agama menyebabkan perpecahan dan fragmentasi didalam Islam, sama seperti di semua tradisi utama. Kekristenan, yang dimulai di lingkungan yang sederhana dua ribu tahun yang lalu di Palestina, sekarang mencakup ribuan gereja dan denominasi yang diakui secara resmi di seluruh dunia. Dalam kisah sejarah gereja Kristen yang terus berlanjut, pandangan dan praktik yang berbeda seringkali dianggap oleh orang lain sebagai penyimpangan dari kebenaran dasar. Masalahnya diperbesar lintas agama. Berpegang teguh pada interpretasi tertentu terhadap klaim kebenaran memungkinkan orang merasa dibenarkan untuk memegang semua jenis sikap dan perilaku, termasuk keyakinan dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama yang mereka kenal.
Sementara klaim kebenaran adalah bahan penting bagi agama, namun juga titik-titik di mana interpretasi berbeda muncul. Ketika pemahaman tertentu menjadi kaku dan tidak kritis sesuai dengan kebenaran absolut, orang-orang yang bermaksud baik dapat dan sering melukis diri mereka sendiri ke sudut di mana mereka harus mengasumsikan sikap defensif atau bahkan ofensif. Dengan konsekuensi yang berpotensi merusak, orang mengira mengenal Tuhan, menyalahgunakan teks-teks suci, dan menyebarkan versi kebenaran absolut mereka yang khas

a.      Knowledge of God (Pengetahuan akan Tuhan)
Di seluruh dunia dan selama berabad-abad manusia di semua budaya telah mencoba untuk memahami dan mengartikulasikan keberadaan kita di alam semesta. Beberapa pemahaman kita tentang Tuhan yang transenden adalah inti dari pencariannya. Dua faktor utama menimbulkan hambatan berat. Pertama, ada banyak cara untuk mengetahui: pengalaman, pengamatan, nalar, intuisi, wahyu, dan sebagainya. Bahkan orang-orang yang menganggapnya menarik hanya pada wahyu ilahi karena sumber kebenaran agama mereka sebenarnya menggunakan sumber epistemologis lainnya pada saat bersamaan. Kedua, apa pun yang ditangkap atau diketahui, tidak masalah seberapa besar kebenarannya, dapat dikomunikasikan kepada orang lain hanya melalui simbol. Ini sudah jelas ketika kita memikirkan seni, musik, puisi, bahasa isyarat, atau bahasa tubuh. Tapi sering terabaikan saat kita berkomunikasi melalui prosa, baik lisan atau tulisan. Klaim kebenaran agama paling sering dinyatakan dalam bahasa prosa. Namun, bahasa pada dasarnya besar, sistem simbol yang rumit. Dan bahkan jika Anda tahu simbolnya dengan baik, kata dan banyak hal bergerak di berbagai tingkatan dan membutuhkan nuansa dan penjelasan.
Kita dapat dengan mudah melihat kebutuhan dan keterbatasan mengenai bahasa simbolis ketika kita mengajukan pertanyaan sederhana: apa yang kita maksud ketika kita mengatakan "Tuhan"? tanyakan pada diri sendiri pertanyaan itu.
Apakah Tuhan seperti seorang tokoh kakek yang lebih besar dari pada duduk di awan di atas takhta besar dengan malaikat-malaikat di dekatnya memikat musik yang indah dengan kecapi ? Citra itu tetap populer di kalangan pria Yahudi dan Kristen, yang pada tahap perkembangan kognitif tertentu, cenderung mengkonseptualisasikan suatu hal dengan sangat konkret. Tapi penulis alkitabiah menunjukkan betapa pentingnya bergerak melampaui bahasa antropomorfik sederhana ke konsep yang lebih abstrak. Dalam pasal ketiga dari Kejadian, Tuhan digambarkan dengan istilah yang sangat manusiawi - mengunyah daun sambil berjalan di kebun dan memanggil Adam dan malam, yang bersembunyi di balik sebatang pohon. Visi Yesaya tentang takhta surgawi sangat mengagumkan bagi nabi yang akan segera datang. Kitab Ayub berakhir dengan pengingat yang keras bahwa manusia - bahkan orang yang paling benar di bumi - tidak dapat mulai memahami Tuhan.
Ketika konseptualisasi tertentu mengarah pada doktrin dan daya tarik yang kaku tentang Tuhan, kemungkinan masalah utama meningkat dengan cepat.
Allah hanyalah kata Arab untuk Tuhan. Orang yang berbahasa Arab - termasuk lebih dari lima belas juta orang Kristen yang tinggal di Timur Tengah hari ini - berdoa kepada Allah; orang-orang yang berbicara bahasa Prancis berdoa kepada Dieu; Orang-orang yang berbicara bahasa Jerman berdoa pada Gott. Saya telah bergabung dalam banyak ibadah Kristen di Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania dan Israel / Palestina selama beberapa dekade. Kami selalu berdoa kepada Allah. Tapi ini lebih dari sekadar bahasa. Mengambil ke aitwaves untuk mengklaim bahwa umat Islam menyembah tuhan palsu yang tidak bertanggung jawab. Ini mengungkapkan betapa buruknya pemimpin terkemuka yang tidak tahu informasi dan betapa mudahnya menjadi diperbudak oleh klaim kebenaran yang tidak fleksibel tentang Tuhan. Bagaimanapun, tidak masuk akal untuk menggunakan mimbar untuk memicu ketidaktahuan dan kefanatikan.
Kebenaran religius mengklaim tentang Tuhan atau yang transendenmengandalkan bahasa. Bila bahasa itu ditekankan menjadi doktrin yang tak pantang menyerah,orang sering mengambil peranuntuk membela Tuhan.
Teks suci menjadi sumber kebijaksanaan dan bimbingan yang kaya dalam perubahan kehidupan. Seperti hal yang sangat kuat, teks-teks suci dapat disalahgunakan melalui semacam pengudusan keseluruhan dan melalui pembacaan dan interpretasi yang selektif. Teks suci adalah komponen yang paling mudah disalahgunakan oleh agama. Koran harian dan penyiar Alkitab atau Alquran mendukung kebijakan yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Teks suci menyediakan alat yang mudah diakses dan berwibawa untuk mempromosikan agenda atau sebab. Observasi tajam dari Shakespeare adalah apropos: "Bahkan iblis pun bisa mengutip kitab suci untuk tujuannya." Sayangnya, sejumlah besar orang rentan terhadap retorika teologis sederhana berdasarkan prooftexts atau teks pendukung. Pemanfaatan teks-teks yang dipalsukan secara manipulatif dapat menyebabkan fanatisme kekerasan.
Klaim kebenaran berdasarkan tindakan yang selektif terhadp pembacaan teks-teks suci mengakibatkan korupsi dalam keagamaan yang tidak segera menghasilkan kekerasan. Tapi sempit, kebenaran mutlak dapat mengklaim dan sering memiliki konsekuensi destruktif. Banyak orang Kristen mengklaim Alkitab adalah Firman Tuhan, secara harfiah benar dalam segala hal  lisan diilhami. Jutaan memeluk pandangan sedemikian, rupanya sering dilakukan tanpa banyak refleksi. Sebaliknya mereka menunda  untuk figur otoritas yang menentukan "itu" posisi Kristen tentang berbagai masalah, mulai dari seksualitas umur manusia secara fisik di planet. Jika Anda juga tidak yakin bahwa klaim kebenaran agama yang didasarkan pada bukti teks seperti yang ditafsirkan oleh figur otoritas dapat memiliki konsekuensi yang berbahaya, berpikir tentang sejarah antisemitisme atau pembenaran perbudakan atau diskriminasi terhadap wanita atau sikap perilaku terhadap orang-orang yang homoseksual.
Tapi pemikiran dan kejujuran yang jelas dan murni mengenai teks suci seseorang tidaklah mudah. Kebanyakan orang tidak didorong untuk mengajukan pertanyaan kritis dalam tradisi mereka sendiri. Dilihat dari perspektif lain, masalah menjadi jelas dan pentingnya penyelidikan kritis mudah dilihat.
Penyalahgunaan teks-teks suci yang muncul dalam berbagai bentuk. Ini tidak boleh dibiarkan, bagaimanapun, mengaburkan fakta yang meyakinkan bahwa teks suci telah menjadi sumber kekuatan, inspirasi, dan bimbingan konstan bagi orang-orang di banyak kebudayaan selama lebih dari tiga ribu tahun. Dengan cara yang tak terbayangkan seratus tahun yang lalu, orang-orang Kristen di Barat sekarang memiliki akses yang siap untuk menerjemahkan teks-teks yang dihargai oleh ratusan juta umat Hindu, Budha, Tao, Muslim, dan lainnya.

b.      The Abuse of Sacred Texts (Penyalahgunaan teks suci)
Teks suci menjadi sumber kebijaksanaan dan bimbingan yang kaya dalam perubahan kehidupan. Seperti sesuatu hal yang sangat kuat, teks-teks suci cenderung dapat disalahgunakan melalui semacam proses pengudusan keseluruhan dan melalui pembacaan dan interpretasi yang selektif. Teks suci adalah komponen yang paling mudah disalahgunakan oleh agama. Koran harian dan penyiar Alkitab atau Alquran mendukung kebijakan yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Teks suci menyediakan alat yang mudah diakses dan berwibawa untuk mempromosikan agenda atau sebab. Observasi tajam dari Shakespeare adalah apropos: "Bahkan iblis pun bisa mengutip kitab suci untuk tujuannya." Sayangnya, banyak orang rentan terhadap retorika teologis sederhana berdasarkan prooftexts atau teks pendukung. Pemanfaatan teks-teks yang dipalsukan secara manipulatif dapat menyebabkan fanatisme kekerasan.
Klaim kebenaran berdasarkan tindakan yang selektif terhadap pembacaan teks-teks suci mengakibatkan korupsi dalam hal keagamaan yang tidak segera menghasilkan kekerasan. Tapi sempit, kebenaran mutlak dapat mengklaim dan sering memiliki konsekuensi destruktif. Banyak orang Kristen mengklaim Alkitab adalah Firman Tuhan, secara harfiah benar dalam segala hal  lisan diilhami. Jutaan memeluk pandangan sedemikian, rupanya sering dilakukan tanpa banyak refleksi. Sebaliknya mereka menunda  untuk figur otoritas yang menentukan "itu" posisi Kristen tentang berbagai masalah, mulai dari seksualitas umur manusia secara fisik di planet. Jika Anda juga tidak yakin bahwa klaim kebenaran agama yang didasarkan pada bukti teks seperti yang ditafsirkan oleh figur otoritas dapat memiliki konsekuensi yang berbahaya, berpikir tentang sejarah antisemitisme atau pembenaran perbudakan atau diskriminasi terhadap wanita atau sikap perilaku terhadap orang-orang yang homoseksual.
Tapi pemikiran dan kejujuran yang jelas dan murni mengenai teks suci seseorang tidaklah mudah. Kebanyakan orang tidak didorong untuk mengajukan pertanyaan kritis dalam tradisi mereka sendiri. Dilihat dari perspektif lain, masalah menjadi jelas dan pentingnya penyelidikan kritis mudah dilihat.
Penyalahgunaan teks-teks suci yang muncul dalam berbagai bentuk. Ini tidak boleh dibiarkan, bagaimanapun, mengaburkan fakta yang meyakinkan bahwa teks suci telah menjadi sumber kekuatan, inspirasi, dan bimbingan konstan bagi orang-orang di banyak kebudayaan selama lebih dari tiga ribu tahun. Dengan cara yang tak terbayangkan seratus tahun yang lalu, orang-orang Kristen di Barat sekarang memiliki akses yang siap untuk menerjemahkan teks-teks yang dihargai oleh ratusan juta umat Hindu, Budha, Tao, Muslim, dan lainnya.

c.       The Special Challenge for Missionary Religions (Tantangan khudud bagi misionaris keagamaan)
Bukanlah sebuah kebetulan, bahwa agama kedua terbesar dan paling meluas memasukkan perintah penginjilan, bermissi. Tidak seperti umat percaya Hindu, Yahudi, Taoist, dan Praktisi Sintho, Kristen dan Islam dipanggil untuk beriman, dengan hormat menginjili sampai ke ujung bumi. Kedua penganut ini (kristen dan islam) sama-sama memiliki mandat didalam mandat mereka untuk melakukan penginjilan. Bagaimanapun juga, pemahaman sempit mengenai proses misi yang disatukan dengan proses impreialisme dan kekuatan militer yang dimana itu dapat menghancurkan proses penunjukan kasih dan Rahmat Allah.
Kegiatan misionaris yang di informasikan berdasarkan kalim kebenaran mutlak itu menegaskan secara tajama siapa yang dialam dan siapa yang diluar melanjutkan untuk membentuk sebuah pandangan.
Langkah maju kedepan belum tertutup. Kristen dan Muslim membutuhkan sikap untuk tidak meninggalkan komitmen mereka untuk membagi kabar baik mengenai pandangan mereka terhadap Tuhan dengan manusia. Untuk mengisyaratkan hal diatas, mereka harus mengingat bahwa memasukkan orang masuk agama lain bukanlah tanggung jawab mereka. Panduan mengenai bagaimana untuk melahirkan penemuan kepercayaan didalam hati dari antara kedua tradisi. Perjanjian Baru dan Al-Quran kedu-duanya mengutamakan bahwa kasih dari Allah adlah manifestasi dari jalan orang untuk berhubungan dengan yang lain. Kedua tradisi mengajarkan manusia untk menighitung hari mereka kepada penghakiman.
Banyak masalah dari proses penyebaran agama adalah terikat kepada issu mengenai kekuasaan. Seringkali proses misi yang sehat terdapat jika mereka dalam kondisi minoritas.
  
d.      A Human View of Truth (Pandangan manusia tentang kebenaran)
Klaim kebenaran ada di mana-mana. Tapi kebenaran seringkali sulit dipahami. Bagaimanapun cara kita bersikap objektif, cara kita untuk menyeleksi dan memproses informasi mengenai masalah yang kompleks tentu saja dikondisikan oleh berbagai macam faktor.
Kita dapat lakukan dengan baik klaim kebenaran mutlak agama dengan memperhatikan isu dan kejadian yang dimana kita memiliki data yang jelas. Manusia adalah sangat subjektif dan terkondisi oleh jalan yang dia lakukan dan dia tidak pahami.
Kebutuhan akan bintang tetap, dimana kepastian di tengah kehidupan kita yang lemah di planet yang berbahaya dan tak terduga, adalah nyata dan mudah dipahami. Pemimpin keagamaan yang dapat membungkus dan melayani kebenaran absolut untuk jemaat yang menerima.
Lebih mudah untuk mengetahui kebenaran daripada mencara kebenaran itu sendiri. Tetapi kehidupan beragama adalah perjalanan yang dimana kita belajar, tidak belajar, berubah dan bertumbuh. Kebenaran religius adalah hal yang penting; mereka tidak mudah dikemas atau dibatasi dengan klaim mutlak. Dan sebaliknya, mencari kebenaran agama adalah proses yang terus berjalan.
Pandangan manusia mengenai kebenaran, salah satunya ialah dinamis dan relasional mengaktifkan orang utnuk merangkul dan menrerima fondasi kebenaran tanpa harus memdatkan dunia menjadi kaku dan statis, mutlak, pernyataan yang proporsional. Sebaliknya, keyakinan religius yang menjadi rahasia mutlak dapat dengan mudah mengarahkan orang untuk melihat diri mereka sebagai agen Tuhan. Orang menjadi begitu berani mampu untuk melakukan tindakan kekerasan dan destruktif atas nama agama.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTBAH Lukas 18 : 1 - 8

PERTANYAAN YANG MUNCUL DARI LUKAS 18 : 1-8

LATIHAN SOAL BAHASA INGGRIS