Hari Raya Galungan
HARI RAYA GALUNGAN
Daftar Isi :
1.
Pengertian
............................................................................................................... 2
2.
Mitologi Galungan
................................................................................................. 5
3.
Filsafat Galungan
................................................................................................... 9
4.
Dasar Pelaksanaan beryadnya
................................................................................ 14
5.
Upacara Menyongsong Galungan
.......................................................................... 14
a.
Tumpek Wariga
......................................................................................... 14
b.
Senin/Soma Pahing Wuku Warigadian ..................................................... 16
c.
Sugihan
...................................................................................................... 17
d.
Upacara pada Wuku Dungulan .................................................................. 18
6.
Upacara pada Wuku Kuningan
.............................................................................. 22
a.
Hari Ulihan
................................................................................................ 22
b.
Pamacekan Agung ..................................................................................... 22
c.
Hari Buda Pahing Kuningan ..................................................................... 22
d.
Panampahan Kuningan .............................................................................. 22
e.
Hari Raya Kuningan .................................................................................. 23
7.
Upacara pada Wuku Pahang
.................................................................................. 23
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 24
1. Pengertian
Hari Raya
Galungan adalah salah satu dari sekian hari-hari Raya Hindu, yang dirayakan
setiap enam bulan (210 hari) sekali, pada setiap hari Rebo/Budha Keliwon Wuku Dungulan. Hari
raya Galungan termasuk hari raya
keagamaan berdasarkan pawukon/wuku.
Menurut
sumber pada lontar “Sundarigama”, mengenai Galungan
itu dinyatakan sebagai berikut :
....... Bu, Ka, Galungan, nga, patitis ikang
ajnana sandi, galang apadang, maryakena sarwa bya paraning idep, aturakena widi
widanaya ring sarwa dewa, ring sanggar parhayangan ..............
Artinya :
................
Buda Keliwon Galungan, adalah yang mengarahkan bersatunya pikiran agar menjadi terang dan
berkesadaran tinggi, untuk melenyapkan penyebab kekacauan pemikiran, dengan
menghaturkan upacara upakara kehadapan para dewa, di tempat suci, sanggah,
Mrajan/Parhyangan................
Kata Galungan, diperkirakan sudah ada di
Indonesia sejak abad ke XI. Hal ini didasarkan atas antara lain Kidung Panji
Malat Rasmi dan Pararaton kerajaan Majapahit. Di Indonesia perayaan semacam ini
dinamakan hari raya Cradha Wijaya Dacami.
Di
Bali, sebelum pemerintahan raja Sri Jayakusunu, perayaan hari raya Galungan
pernah tidak diadakan, oleh karena raja-raja pada jaman itu kurang
memperhatikan upacara keagamaan. Hal ini mengakibatkan kehidupan rakyat pada
masa itu sangat menderita, demikian pula para raja yang memegang tampuk
pemerintahan. Selanjutnya setelah Raja Sri Jayakusunu naik tahta dan memgang
tampuk pemerintahan, maka pada suatu hari beliau bersemadi di Setra Gandamayu,
ingin mohon petunjuk kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, apa yang patut
dilaksanakan dalam tugasnya sebagai raja dan pemegang kekuaaan demi memperoleh
keselamatan untuk semuanya. Akhirnya semadi beliau itu berhasil dengan turunNya
Bhatari Durga memberikan pewarah-warah, yang intinya agar
pelaksanaan hari Raya Galungan tetap diperingati. Adapun ucapan pewarah-pewarah
tersebut seperti tersurat dalam lontar Jayakusunu yang kutipannya sebagai
berikut :
“Adapun
tata cara bagi orang yang meninggalkan hari Dungulan (Galungan) tiga kali
berturut-turut, dapat melaksanakan upacara makekelud di lingkungan Pura, dengan ayam lima warna, prayascita, durmanggala, sasayut sidasampurna, mendirikan penjor. Bila tiba Dungulan
ke dua, menghaturkan nasi sahud-sahudan disertai dengan penjor.
Bila tiba Dungulan ke tiga, dapat menghaturkan upacara Ngarebonin
yaitu dengan menghaturkan banten tumpeng yang dapat
dilaksanakan dengan sesuai dengan keinginan (keadaan), mendirikan penjor
pada hari Selasa, Wage Dungulan, berisi hasil sawah
kelapa dua butir, kue, sate lembat, sate asem, kekuwung disertai
sampyan,
lamal dan segala jenis ikan. Pada hari Budha Keliwon Pahang, membersihkan
sampah Galungan, menghatukan tumpeng mapucak manik, canang, yang
semuanya diletakkan pada sanggar, dilanjutkan dengan mencabut
penjor,
membakar lamak, selanjutnya ditanam ditengah pekarangan rumah, Habis.”
Selain Pewarah-warah
untuk tetap memperingati hari raya Galungan, juga diperingati supaya
melaksanakan upacara Byakala sampai dengan rakyatnya
masing-masing pada saat turunnya Sang Kala Tiga Dungulan dengan caru bertempat
ditengah-tengah halaman rumah. Disamping itu juga supaya diperintahkan pada
semua rakyatnya mengadakan upacara terhadapa senjata setiap hari Sabtu
Keliwon Wuku Kuningan yang pada pokoknya menekankan agar tetap waspada
mempergunakan senjata itu secara baik dan tidak dipergunakan untuk perbuatan
yang bersifat negatip, seperti membunuh-bunuh orang. Pewarah-warah tersebut
berbunyi sebagai berikut :
Lagi
Anakku, enghkau hendaknya melaksanakan upacara Byakala, sampai dengan rakyatmu
masing-masing pada saat jatuhnya Kala Tiga Dungulan dengan upacara yang terdiri
dari : dangdang 1, segeha penek 5, sate 5 batang, gecok rumbah gile, sasak
mentah, pencok kacang ijo, amel-amel, ikan dalam wakul, sayur satu kuali. Caru
di tengah halaman rumah, sama-sama makan di tengah pekarangan, dan Sang
Bhuta dipanggila agar menyantap suguhan
dengan mantra : Om Kaki Bra Galungan, Bhatara Kala, Bhatara Jabung, Bhatara Kala
Amangkurat. Sang Kala Enjer, Sang Kala Yamaraja, Kaki Sang Kala Nadah, janganlah
memakan si Anu, karena si Anu Saudaranya, tetapi memisahkan diri darinya, si
Anu kasih bersaudara dengannya, ia kasih bersaudara dengan si Anu, tahu akan
rupa dan warnanya, yang tiada kuning tiada hitam, sedang-sedang, rambutnya
tidak kaku, tidak halus, sedang-sedang sebagai kembang sepatu, setelah engkau
makan syukuran si Anu, kurangilah dosa-dosanya yang menimpa seluruh
jasamaninya, dan hindarkan mereka dari segala dosa dan kutukan, jika berkata
benar, maka benarlah dia, berilah kerahayuan, sehat, panjang umut,
kesempurnaan, kekebalan dengan baju kulit seperti berkulit tembaga, bertulang
besi berotot kawat, terhindar dari sakit, semoga sebagai penjaga Beliau Sri
Jayakusunu, demikianlah penjagaan Beliau terhadap si Anu, jagalah ia selalu,
baik pagi maupun sore, siang dan malam. Ya Tuhan semoga berhasil atas nama
Ciwa. Habis.
Pewarah-warah
untuk mengadakan upacara kehadapan senjata setiap hari Sabtu Keliwon wuku
Kuningan, sebagai berikut :
Anakku
Sri Jayakusunu; Perintahkan rakymu masing-masing, untuk mengadakan uapcara
terhadap senjata, setiap hari Sabtu Keliwon wuku Kuningan dengna upacara
widiwidana, diantarkan oleh Brahmana, karena kemunculan Sang Maut adalah dari
pasupati yang hendak memangsa, dan tak henti-hentinya dengan guna dan papangan
(segala bentuk makanan), tetapi janganlah hendaknya membunuh-bunuh orang,
karena hal itu bukan kelakukan sebagai manusia.
Demikianlah
pewara-warah batari durga yang telah dapat diterima oleh raj Sri Jayakusunu melalui
semadinya, yang pada dasarnya bahwa untuk tercapainya tujuan dimaksud yaitu
mayarakat tenteram, kerta rahaja dan para raja memperoleh umur yang panjang
serta dapat mengendalikan pemerintahannya dengan baik, maka setiap umat Hindu
patut kembali melaksanakan ajaran agamanya, dengan memperingati perayaan hari
Galungan sebagai hari kemenangan Dharma melawan a-Dharma, secara tradisional
serta disesuaikan dengan desa, kala dan patra (tempat, waktu dan keadaan).
Berpangkal
dari pewarah-warah yang ditelah diterima itu, rupanya pelaksanaan peringatan
hari raya Galungan itu pernah tidak terlaksana sebelumnya, yang diakibatkan
kurang percayanya para penganut agama terhadap ajarannya, sehingga menjadikan
pengalaman yang pahit dan meresahkan, seperti yang dialami oleh keluarga raja
Sri Jayakusunu ketika beliau naik tahta. Berdasarkan pengalaman yang
menyedihkan itu maka semenjak pemerintahan raja Sri Jayakusunu peringaatan hari
raya Galungan tetap dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yang untuk di Bali
pelaksanaannya telah populer dengan semboyan berbahasa Bali yaitu “Tusing ada
Galungan buwung”, maksudnya tidak da hari raya Galungan yang tidak dirayakan.
Akhirnya sejak itu pulalah hari raya Galungan kembali tetap dirayakan secara
tradisional oleh umat hingga sekarang.[1]
2. Mitologi Galungan
Didalam
Lontar usana bali yang diceritakan, bahwa yang diceritakan, bahwa perayaan
Galungan adalah suatu peringatan atas kemenangan Bhatara Indra dalam
pertempurannya melawan raja Mayadanawa. Mitologi ini mengandung suatu kias tentang
Mayadanawa. Mitologi ini mengandung suatu kias tentang pergulatan antara Dharma
melawan A-Dharma yang berakhir dengan kemenangan Dharma.
Lebih
jauh menurut lontar Usana Bali diceritakan, bahwa sebelum pemerintahan raja
Mayadanawa di Bali, pelaksanaan ajaran agama Hindu berjalan dengan baik.
Pelaksanaan itu diawali dari mulai Sang Tapa Hyang yaitu Sang Kulputih yang
berasal dari Jawa datang ke Bali dan bertempat tinggal di Besakih sebagai
Pamangku, dalam waktu yang cukup lama. Sejak beliau mulai pamangku, muncul air
Kiduling Besakih yang kemudian diberi nama air suci Sindhu (Titrha Sindhu). Air
suci tersebut dipergunakan sebagai sarana penyucian terhadap diri Sang
Kuluputih setiap Purnama dan Tilem. Beliau adalah seorang yang arif dan
bijaksana, dapat mengetahi keadaaan secara lahir dan batin. Beliau pulalah yang
melaksanakan upacara-upacara pemujaan secara lengkap dengan sarana-sarana
upacaranya berupa babanten, yang dipersembahkan dengan puja mantra dan
diantarkan dengan suara bajra yang nyaring tanda turunNya para Dewa.Tuhan
memberikan kemakmuran kepada umatnya.
Setelah
Sang Kulputih juga diceritakan kedatangan Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali,
mengajarkan tentang pembuatan tempat-tempat suci sampai ke Desa-desa, seperti
Kahyangan Tiga, upakara-upakara pada saat saat hari raya, yang pada
prinsipnya lebih memantapkan agamanya. Pelaksanaan ini telah pula
dikukuhkan dalam Raja Purana dan prasasti. prasasti, untuk kemudian
dapat diwariskan serta dilanjutkan oleh umat selaku generasi penerusnya. Disamping
Mpu Kuturan, juga diceritakan pemerintahan raja-raja yang lain seperti
Jayapangus, Sang Ratu Detya di Balingkang dan Ratu Mayadanawa di Bedulu.
Diantara pemerintahan raja-raja tersebut ketika pemerintahan raja Mayadanawa
terjadi pergolakan yang hebat, karena pemerintahannya sangat berbeda
dengan raja-raja yang lainnya. Beliau dikenal sebagai raja yang
sakti, loba, angkara murka, raja diraja dan menganggap
dirinya paling sakti, lebih sakti dari para Dewa Tuhan dan malahan
dinyatakan bahwa dirinyalah sebagai Tuhan. Beliau melarang segala
upacara-upacara yang telah biasa terlaksana sebelumnya, sehingga bumi
Bali menjadi kering dan tidak menghasilkan apa-apa. Perlakuan tersebut
mengakibatkan rakyat Bali hidupnya sangat sengsara. Hal ini sangat
dirasakan oleh Sang Kulputih, sehingga beliau bersama-sama dengan para Pamangku
dari berbagai desa-desa lain memohon ke Pura Besakih, agar dapat
diselamatkan dari serangan raja Mayadanawa. Permohonan tersebut direstui
oleh Dewa-dewa di Indraloka, dan kemudian mengutus Bhatara Mahadewa dan
Bhatari Danuh serta Bhatara-Bhatara semuanya untuk turun ke Bali, dan
menghaturkan pula duduk persoalannya kehadapan Bhatara Pasupati yang
dilanjutkan dengan mohon kematian raja Mayadanawa, karena segala
perbuatannya telah mengakibatkan kehancuran di bumi Bali itu. Segala
petunjuk tersebut dilaksanakan dengan baik, sehingga pelaksanaan
kepergiannya itu diantarkan dari alam niskala Indraloka, dan akhirnya
Bhatara Indra telah berada di Bali diiringi oleh para Dewa, Raksasa yang
telah lengkap dengan senjata untuk berperang, disertai dengan jutaan
pengikutnya dalam keadaan siap tempur. Kedatangan pasukan Bhatara Indra
itu telah didengar oleh raja Mayadanawa di Bedulu, sehingga segera para
patih, mantri dan punggawa semuanya dikumpulkan, karena kerajaannya
akan mendapat serangan untuk dihancurkan. Untuk menyelidiki
kebenarannya, maka diutuslah patih Kala Wong berangkat, serta melaporkan
hasilnya dengan segera pada raja Mayadanawa. Ternyata semua hasil
penyelidikannya itu benar.
Pasukan
yang dipimpin oleh Bhatara Indra dengan semua pengiringnya, telah berada
di Besakih dan memenuhi tempat yang ada, lalu saat itu beliau memanggil
Bhagawan Narada dengan widyadaranya akan diutus selaku duta ke Bedahulu,
menyelidiki perlakuan raja Mayadanawa mempersiapkan dirinya menghadapi
serangan. Perintah tersebut dilaksanakan dan hasilnya segera dilaporkan
pula bahwa pasukan Mayadanawa sudah siap sedia. Turunlah pasukan Bhatara
Indra dan terjadilah peperangan dengan hebatnya, yang mengakibatkan
banyak yang mati, diantaranya para patih raja Mayadanawa yang diandalkan
banyak mati terbunuh Kejadian ini segera dilaporkan oleh Kala Wong pada raja
dan Mayadanawa menjadi marah serta segera pergi ke medan perang untuk
mengadakan perlawanan terhadap musuh-musuhnya itu. Di lain pihak pasukan
Bhatara Indra telah siap untuk mengadapinya, karena telah diketahui para
pengikut Mayadanawa semakin berkurang. Menghadapi ini lalu Maydanawa
dengan patih Kala Wong mempergunakan kesaktiaanya untuk menghindar dan dan
mengelabui seran musuhnya, yaitu dengan berkali-kali mengubah
rupanya. Selain itu air yang mengalir di sungai dibuatnya beracun,
agar usahanya ini berhasil, namun cepat pula diketahui oleh Bhatara Indra
sehingga beliau segera mengutus Bhagawan Narada dengan Bhagawan Whraspati dan
para Bhujangga Resi Ciwasogata untuk memohon keselamatan dengan Weda Yoga
Sandhinya, supaya air yang beracun itu cepat berubah menjadi tirtha
amertha sebagai sumber kehidupan terhadap para pengikutnya semua. Upacara
permohonan itu segera dilaksanakan, namun tirtha amerta belum juga
muncul. Pada kesempatan itu lalu turunlah Bhatara Indra dengan Bhatara
Mahadewa dari Padmasana menancapkan gaganco dan umbul-umbul terus dilanjutkan
memohon dan memuja dengan Weda Yoga Sandhinya, akhirnya dengan tiba-tiba muncul
percikan tirtha dengan kekuatan yang luar biasa, serta dapat menghidupkan semua
pengikut yang tadinya telah mati keracunan. Tirtha tersebut kemudian diberi
nama Tirtha Empul. Selanjutnya perjuangan untuk mengejar pasukan
Mayadanawa dikerahkan lagi menuju ke Manukaya dan mengurungnya dari segala
penjuru. Pada kesempatan ini Mayadanawa sering berpindah-pindah dan
berubah-ubah bentuknya akibat dari kesaktiannya, sehingga tidak terlihat
oleh Bhatara Indra dalam pengejarannya, namun akhirnya Mayadanawa dapat
pula terbunuh dengan mengeluarkan darah dari sekujur tubuhnya sampai mengalir
ke arah selatan dan konon sungai ini kemudian bernama We Petanu/Tukad
Petanu. Dengan sudah terbunuhnya Mayadanawa itu, maka dimulailah
melaksanakan pemujaan dan persembahan upacara-upacara yang terputus itu
kembali, dan diperingati sebagai hari Kemenangan Dharma melawan
a-Dharma.
Demikian
mitologi tentang kemenangan Dharma melawan a-Dharma dikiaskan dengan
pergulatan/peperangan antara Bhatara Indra melawan Mayadanawa yang berakhir
dengan kemenangan dipihak Dharma/penganut agama dan diperingati sebagai hari
Galungan. Lebih jauh dapat dikaji dari mitologi Galungan
tersebut, bahwa dengan berhasilnya kemenangan dharma merupakan hari
turunnya Dharma untuk ditegakkan kembali oleh sebab itu, maka hari raya
Galungan juga disebut hari Pawedalan Jagat, yang merupakan peringatan
untuk mengucapkan kelahiran dunia dengan segala isinya, yang
permohonannya ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumbernya
Pawedalan Jagat, maksudnya bahwa dunia dengan segala isinya telah lahir
kembali, karena semenjak pemerintahan raja Mayadanawa, pemeliharaannya
baik secara lahir maupun batin tidak mendapatkan perhatian, yang
mengakibatkan keadaan jagat jaman itu mengalami kehancuran. Kehancuran
tersebut, disebabkan oleh keserakahan nafsu Mayadanawa dalam
pemerintahannya, yang berusaha memaksa untuk menghilangkan kepercayaan
dan keyakinan para rakyatnya yang telah taat pada ajaran agamanya, serta
menyuruh memuja dan memuji dirinya, serta menganggap dan menyatakan bahwa
dirinyalah Tuhan yang paling sakti di dunia ini. Paksaan ini bagi para
penganut agama, jelas tidak dapat diterima, maka itulah sampai
terjadi pergulatan/peperangan yang didukung oleh para abdi agama, dibawah
pimpinan yang ditokohkan sebagai Bhatara Indra yang menganyomi dan
menyelamatkan para pendukung agama itu, yang diperjuangkan secara lahir batin.
Secara lahir, yaitu dengan berperang mengadakan perlawanan untuk menegakkan
kebenaran den didukung oleh semangat kerja, sedangkan secara batin
melalui untuk memohon petunjuk dan kekuatan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
melalui tapa, brata, yoga dan semadi agar terhindar dari mala
petaka. Demikianlah maknanya yang terkandung dalam mitologi Galungan patut
disyukuri hikmahnya dengan melaksanakan peringatannya setiap 210 hari/6 bulan
sekali secara lahir batin, demi kelangsungan tegak dan kokohnya dharma itu
sepanjang masa.
Selanjutnya
tentang tokoh Mayadanawa dalam mitologi ini, perlu juga dikaji lebih
mendalam, siapakah sebenarnya beliau itu. Untuk adanya sekedar
gambaran berdasarkan sumber tertulis yang dapat ditemukan dan kepercayaan
dimasyarakat, akhirnya dapat disimpulkan bahwa raja Mayadanawa itu adalah
seorang raja keturunan dari Singha Mandawa, yang dalam suatu prasasti
(875) menyebut nama Cri Agni Nripati dengan pusat kerajaan mula-mula bera
di daerah Kintamani, tetapi kemudian karena istananya terbakar dan
berusaha mencari daerah yang lebih makmur, dipindahkan ke daerah
Pejeng/Bedahulu. Beliau mula-mula menganut agama Waisnawa, kemudian
beragama Ciwa, yang selanjutnya karena merasa dirinya kuat, lalu
menganggap dirinya sebagai Tuhan dan melarang rakyatnya memuja leluhurnya
ataupun Tuhan yang telah diyakininya. Larangan inilah yang dirasakan
sebagai paksaan, sehingga untuk membela kebenaran berdasarkan
keyakinannya dihadapi dengan peperangan, yang akhirnya dapat mengalahkan
Mayadanawa dalam tahun 887 caka.
Dikalangan
masyarakat, mitologi tentang Mayadanawa yang juga telah
memasyarakat, adalah menganggap beliau sebagai seorang raja yang sudah
berjnana tinggi, sehingga dengan kesaktian yang telah dimilikinya,
beliau dapat terhindar dari serangan musuh serta sering dapat berubah-ubah rupa
dan bentuk yang sulit diketahui oleh rakyat biasa. Akibat memiliki jnana
yang tinggi, maka cara beliau sulit diikuti oleh rakyatnya, yang termasuk
golongan awam untuk melaksanakan ajarannya, sehingga beliau melarang
rakyatnya untuk melaksanakan pemujaan terhadap Tuhan dan leluhurnya. Bila hal
ini dikaji lebih mendalam, tentang jalan yang belum searah ini dapat terjadi
antara raja yang memerintah dengan rakyat yang diperintahnya itu kemungkinan
terletak pada tinggi dan rendahnya penghayatan masing-masing dalam menempuh
jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Diantara keempat jalan yang ada,
yaitu tentang Catur Marga itu, maka raja Mayadanawa kemungkinan menempuh Jnana
Marga sedangkan rakyatnya baru sampai pada tingkatan Bhakti dan KARMA
MARGA. Rupa-rupanya dari jalan yang ditempuh itulah merupakan pangkal
tolak munculnya ketidak searahan itu, sehingga sampai terjadi peperangan
tersebut,yang akhirnya dari hasil perang itu pulalah menimbulkan akibat
terjadinya kekalahan dan kemenangan. Yang kalah akan lenyap, dan yang menang
akan jaya. Demikianlah Kemenangan Dharma merupakan kejayaan bagi umat Hindu
untuk tetap menegakkan dharman-Nya, serta memelihara kekokohannya.[2]
3. Filsafat Galungan
Filsafat
Galungan berpusat pada pergulatan Dharma melawan a-Dharma dengan kemenangan
dipihak Dharma. Menyimak kesimpulan mitologi Galungan tersebut di atas
tadi, dan pelaksanaan perayaannya tetap dilaksanakan setiap 210 hari
sekali sebagai hari turunnya Dharma, maka makna Galungan adalah merupakan
terciptanya kemenangan dharma menundukkan a-dharma.
Kata dharma
di India secara umum dipakai dalam istilah kerohanian, yang berasal dari
bahasa Sansekerta yaitu dari urat kata kerja "dhr" yang berarti
menjunjung, memangku, mengatur dan menuntun. Lebih jauh dalam
kaitannya sebagai pengatur, dharma dinyatakan dalam pustaka suci
Mahabharata(Cantiparwa 109,11) sebagai berikut
Dharanad
dharma
ityahur
Dharmena widhrtah prajah
Artinya
Dharma dikatakan datang dari kata dharana(yang berarti memangku atau
mengatur) dengan dharma semua makhluk diatur(dipelihara).
Peranan
dharma sangat besar untuk peningkatan kelestarian alam dengan segala
isinya. Untuk peredaran alam semesta, kata dharma diartikan kodrat
sedangkan untuk kehidupan umat manusia dia sebagai ajaran, kewajiban atau
peraturan suci yang memelihara dan menuntun untuk mencapai kesempurnaan hidup
berupa laksana dan budi pekerti yang tinggi. Dharma dalam artian sebagai
kodrat, juga dijelaskan dalam pustaka suci Mahabharata 2, 28 yang
berbunyi sebagai berikut :
Dharmena
dharyate sarvam
Jagat
sthawarajanggaman
Artinya
:
Semua
alam, tumbuh-tumbuhan dan binatang diatur oleh dharma(kodrat).
Selain
dari pada itu, juga dharma merupakan sumber kesentosaan dan kesejahteraan
umat manusia. Akan hal ini, juga pustaka suci
Mahabharata(Cantiparwa 259, 26) ada menyatakan sebagai berikut
Lokasarngrahasannyuktam
Widatrawihitam
pura
Suksmadharmarthaniyatam
Satam
caritam uttamam
Artinya:
Kesentosaan umat manusia dan kesejahteraan
masyarakat datang dari dharma, laksana budi yang luhur untuk
kesejahteraan manusia itulah dharma yang utama.
Menyimak
arti sloka tersebut yang menyatakan bahwa kesentosaan dan kesejahteraan umat
manusia datang dari dharma atau bersumber pada dharma, maka sudah
sepatutnyalah manusia dalam segala usahanya mencapai tujuan berupa
kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin seperti tersebut dalam pustaka suci
Weda yaitu"Mokshartham Jagadhita ya ca iti dharmah", adalah
merupakan tujuan akhir dari hidupnya, juga mempergunakan dharma untuk
saran alat sebagai dasar dalam usaha pelaksanaannya. Dharma dipergunakan
sebagai alat, karena dharma merupakan pedoman hidup yang
terpenting. Dengan dharma dapat menuntun umatnya untuk berlaksana dan
berbudi pekerti yang tinggi, sebagai dasar dalam mewujudkan kesejahteraan
diri, keluarga dan masyarakat terhadap
sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan demikian, maka dharma
juga merupakan pembuka pintu kebahagiaan secara lahir dan batin. Peranan dharma
sebagai alat penyebab untuk mencapai kesempurnaan ataupun tujuannya pustaka
Suci Saras amucchaya i. 14, dan Weda(Manusamhita 1)
menyebutkan sebagai berikut I
·
kang dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi
gati ning prahu, an hetuning banyaga nent asing tasik.
Terjemahannya
Yang
disebut dharma, penyebab menuju sampai kesurga itu, seperti halnya
sebuah perahu, alat bagi pedagang menyeberangi laut.
·
Weda pramanakah crevah sadha mam dharmah
Artinya
Dharma di dalam ajaran suci Weda, sebagai
alat untuk mencapai kesempurnaan, bebasnya roh atau atma dari penjelmaan
dan menunggal dengan Tuhan Brahma.
Peranan
dharma sebagai alat dalam usaha mencapai tujuan tersebut lebih jauh dinyatakan
akan dipergunakan oleh tubuh, maka dari itu, tubuh dinyatakan
sebagai alat untuk mendapatkan dharma itu. Hal ini lebih jelas dinyatakan
pada pustaka suci Brahma Purana.
Dharmarthakamamoksanam
Cariram sadhanam
Artinya
Tubuh adalah alat untuk mendapat) Dharma, artha, kama dan
moksa.
Agama
atau dharma sebagai petunjuk suci adalah berupa ajaran yang menekankan kepada
umatnya untuk melaksanakan dharma sebagai alat atau pedoman dalam usaha
mencapai tujuannya. Setiap umat akan mempergunakan tubuhnya sebagai alat
dalam usaha pelaksanaannya, untuk mewujud tujuan yang diinginkan.
Berhasil tidaknya suatu tujuan tersebut, sangat tergantung pada umat
manusia melaksanakan dharma itu dalam kehidupannya. oleh sebab itu,
maka manusia jugalah yang merupakan subyek dan objek dalam
pelaksanaannya.
Berhasilnya
Kemenangan dharma melawan karma dalam hubungannya dengan filsafat Galungan,
adalah berkat kesadaran dan keyakinan yang tinggi dari umat dalam menghayati
dan melaksanakan dharma sebagai pedoman dalam segala perbuatan hidupnya
sehingga dapat membuahkan hasil berupa kesejahteraan lahir dan kebahagiaan
batin. Dengan tercapainya tujuan yang dimaksudkan itu, maka berarti
telah dapat mengantarkan umat untuk menikmati kedamaian dalam hidupnya.
Kemenangan dipihak dharma inilah yang menyebabkan terciptanya beraneka ragam
wujud dan tata kehidupan yang harmonis di dunia ini, baik dalam kehidupan
di bhuwana alit maupun bhuwana lahir dan batin. Bila agung telah
diperoleh mendalam dari kemenangan yang melalui pergulatan itu, dapat ditarik
kesimpulan, bahwa para penerus kemenangan tersebut, dapat mengamalkan serta
meningkatkan pelaksanaan dalam pemeliharaannya untuk mencapai keserasian
hubungan antara pencipta, pelaksana dan tempatnya. Ketiga hubungan
yang serasi ini, merupakan tugas umat untuk mengamalkannya dalam
kehidupan. Ketiga hal tersebut, disebut Trihita Karana. yaitu
tiga sumber atau penyebab terciptanya kesejahteraan atau kerahayuan
Konsep
Tri hita Karana itu adalah mencakup tiga unsur yaitu Tuhan Yang Maha Esa/Sang
Hyang Widhi Wasa sebagai Yang Maha Pencipta, telah menciptakan manusia
beserta alam yang mengandung sumber potensi kebutuhan hidup. Ketiga unsur
tersebut terdiri dari Parhyangan, Pawongan dan Palemahan yang ketiganya itu
dipelihara dengan hubungan keseimbangan/keselarasan, keserasian. Di
Bali, pemeliharaannya berdasarkan yadnya, karena Tuhanpun sebagai
sumbernya, menciptakan sesuatu yang ada ini melalui yadnya. Peranan
yadnya dalam kehidupan adalah sangat besar karena hiduppun dapat juga berarti
yadnya, karena manusia tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini tanpa
saling beryadnya.
Berhasilnya
kemenangan dharma, juga berarti terciptanya kelahiran dunia
kembali, sehingga hari raya Galungan sering disebutkan"hari Pawedalan
Jagat", yang dalam kenyataannya tetap setiap enam bulan sekali
disambut dan dirayakan, dengan tujuan agar umat tetap dapat meningkatkan
pelaksanaan dharma.
Wujud
nyata dalam menegakkan dharmanya, akan jelas dan tetap dialami oleh setiap
umat yang akan merayakannya, karena setiap merayakan didahului oleh
berbagai godaan yang merupakan ujian dalam hidupnya. Berhasil tidaknya
menghadapi segala godaan itu, sangat tergantung pada masing- masing
pribadi untuk mengendalikan hawa nafsunya. Misalnya sebelum hari Galungan
tiba umat yang akan merayakannya, jauh-jauh sebelumnya telah memulai
dengan beberapa persiapan baik sekala maupun niskala. Lebih-lebih lagi sesuai
dengan keyakinannya, dimana tiga hari sebelum Galungan sudah dihadapkan
dengan godaan yang diturunkan melalui Sang Bhuta Kala Tiga, sehingga
dalam hal itu bila kurang waspada dan tidak yakin, pasti akan mengalami kemelut
dan kekacauan, baik menimpa diri pribadi, keluarga maupun
masyarakat. Berkat kesadaran yang tinggi dan keyakinannya yang
tebal, serta kewaspadaannya melekat, maka perayaan Galungan secara
umum tetap terlaksana secara tradisional. Untuk pelaksanaan semacam ini
oleh umat di Bali diistilahkan dengan semboyan berbahasa Bali
seperti"Tusing ada Galungan buwung", maksudnya tidak akan ada
hari raya Galungan yang batal.
Demikianlah
perayaan Galungan merupakan tonggak peringatan kemenangan dharma, yang
juga sebagai hari turunnya dharma, merupakan kunci kehidupan umat dalam
usaha mencapai kerahayuan akan tetap diperingatinya.[3]
4. Dasar Pelaksanaan Beryadnya
Umat Hindu selalu melaksanakan hari-hari
peringatan sebagaimana biasanya yang terjadi pada agama-agama yang lain. Tetapi
dalam hal ini agama Hindu dipengaruhi oleh Tuntunan dalam kitab pustaka suci
Bhagawadgita” mengenai pentingnya Yadnya” yang dinyatakan dalam dalam sloka
yang berjumlah tujuh mulai dari sloka 10-16.
·
Sloka 10 : prajapati
merupakan pencipta manusia dengan adanya Yadnya dan sabda.
·
Sloka 11 : saling
memelihara antara eksistensi dengan yang diciptakan
·
Sloka 12 : Yadnya yang
memelihara yang tidak menginginkan balas jasa
·
Sloka 13 : orang yang
memakan sisa dari makanan Yadnya akan dihapuskan dosanya
·
Sloka 14 : dari makanan
muncullah hujan yang merupakan lahirnya pekerjaan
·
Sloka 15 : asal munculnya
karma dalam weda dan Brahmana
·
Sloka 16 : Ia yang ikut
didunia ini tidak ikut memutar roda
Yang mendasari pelaksanaannya adalah
catur marga yaitu Bakti marga, karma Marga,Jnana marga, dan raja yoga Marga
serta tapa, Brata, Yoga dan Samadhi.[4]
5. Upacara Menyongsong Galungan
Upacara-upacara awal menyongsong Galungan,
ada beberapa yang patut dilakukan sebagai wujud catur marga berupa
pengamalan-pengamlannya secara lahir dan batin.
a. Tumpek
Wariga
Upacara
ini sering dikenal dengan sebutan Tumpek pangarah, pangatag, uduh, dan bubuh.
Upacara ini diperingati seiap hari sabtu yaitu 25 hari sebelum galungan (
Saniscara Keliwon Wuku Wariga) setiap
enam bulan 210 hari sekali. Mengapa disebut dengan Tumepek Wariga?
Karena diadakan tepat pada hari sabtu. Wariga mengandung arti untuk menentukan
baik buruknya hari pendewasaan khusus bagi umat Hindu. Wariga dengan Tumpek Wariga memiliki
keterkaitan yaitu Hari yang baik untuk memohonkan keselamatan tumbuh-tumbuhan
dan merupakan hari yang buruk untuk memetik hasil tumbuh-tumbuhan. Tumepek
Pangarah adalah memberi arahan minta tolong yang dilakukan oleh umat Hindu
kepada sesama makhluk hidup Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berfungsi untuk
membantu memberikan daun, bunga, buahnya yang akan dipakai untuk menyongsong
galungan. Upakara pada tumpek wariga berupa peras, tulung, sasayut, tumpeng
bubuh, tumpeng agung, memakai ulam bayi atau guling itik, panyeneng dan sasayut cakrageni, pabersihan dan
segehan. Cara untuk mempersembahkan dengan diletakkannya pada sebuah asagan
dekat pohon yang merupakan objek yang diupacarai. Pohon tersebut dikenakan pakaian
yang ditempeli candiga/cenigan, sampyan gantung-gantungan dan sasap.
Pelaksanaannya diawali dengan masageh dibawah depan asagan yang ditujukan
kepada para bhutakala. Upakara-upakara lainnya terletak pada asagan yang
ditujukan kehadapan Dewa Sangkara/Dewa Tumbuh-Tumbuhan/Sarwa tumuwuh dengan
menghaturkan bubur pada pohon yang dianggap mistis. Mereka menggunakan Isyarat
atau pertanda mapengaruh, yang diikuti dengan sasapanya yaitu:
“kaki-kaki, tiang
mapengaruh, malih sale (25)
Dina Galungan, mabuah
apang nged,-nged, nged”
Setelah ritual penyembahan itu
selesai maka dilanjutkan juga dengan menoreh sedikit batang pohon yang disebut
dengan diayabkannya banten bubuh dan bubuhnya yang ditempelkan pada torehan
tersebut. Sasapa memiliki makna yang dapat kita pahami yang disebut dengan
kaki-kaki yang merupakan keluarga tertua maklhuk hidup yang dianggap memiliki
kekuatan yang berupa bayu semenjak diciptakan pada jaman dulu. Ciptaan yang
kedua berupa jenis binatang yang disebut dengan Ingon-ingon yang memiliki
kekuatan bayu, sabda dan yang ketiga manusia memiliki bayu, sabda, idep.
Galungan, mabuah apang nged,nged,nged artinya adalah agar berbuah lebat
sepanjang kehidupan. Setelah upacara selesai dilakukan yang akan dilaksanakan
adalah sembahyang yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
merupakan dewa tumbuh-tumbuhan agar tumbuhan hidup berkembang dengan baik dan
memiliki hasil yang baik juga. Mamfaat yang diambil dari hal ini adalah agar
sama-sama memerlukan dan tolong menolong dan memiliki pemeliharaan yang baik
mengenai alam.
Tanda berakhirnya upacara ini, salah
satu banten yang bernama pras diambil dan dilebar dan jahutan pada sampyannya
dirobek sebagai tanda berhasilnya upacara tersebut dan banten itu diletakkan
pada pohon.
b. Senin/
Soma Pahing Wuku Warigadian
Acara
ini dilaksanakan setelah berlalu 2 hari upacara Tumpek Wariga. Dalam upacara
ini memakai Sedahwoh atau sering disebut dengan daun beserta dengan buah yang
dilengkapi dengan kemampuan canang maraka.
c. Sugihan
Dalam adat jawa dan bali
ada 3 jenis sugihan
·
Sugihan pangenten
Hari
pengadaannya tepat pada hari rabu acara ini sering juga disebut dengan Buda Pon
Wuku Sungsang, yang berlangsung atau datang pada setiap 6 bulan . arti dari
kata sugihan pangenten ini adalah “Ngentenin” yang berarti mengingatkan serta
mewartakan kepada umat Hindu untuk mengendalikan diri untuk mengurangi
aktivitas jasmani.
·
Sugihan Jawa
Hari
pengadaan acara Sugihan jawa tepatnya pada hari Kamis atau sugihan jawa sering
disebut dengan Wraspati Wage Wuku Sungsang yang diadakan setiap 6 bulan sama
halnya seperti Sungihan Pangenten. Dalam agama Hindu sugihan jawa memiliki arti
yaitu merupakan hari yang baik untuk pembersihan dan penyucian Bhuwana
agung/Alam semesta dan isinya. Dan ada juga pembersihan tempat-tempat suci
seperti Pura, paibon, Sanggah, Marajan hal ini sering disebut dengan Sakala.
Sedangkan melaksanakan upacara menghaturkan upakara pebersihan atau pasucian,
kepada tempat-tempat yang suci seperti Pratima, pralingga ida sang hyang widhi
wasa disebut dengan Niskala. Para pendeta mengucapkan mantram untuk
melaksanakan pembersihan.
Upacara/banten yang digunakan berupa:
1. Untuk
dipalinggih utama, berupa Daksina,peras, soda,canang
2. Untuk
palinggih lebih kecil, berupa canang pabersihan, canang burat wangi lenga
wangi.
3. Penyucian
secara umum memakai “Parerebuan” yang terdiri dari: Sorohan Dapetan Tumpeng 5.
Penyelenggaraan Upacara
Cara yang pertama dilakukan adalah
pembesihan secara sakala kemudian dilanjutkan dengan pembersihan niskala dengan
menghaturkan upacara “marerebu”. Bukan
hanya ini saja jenis upacara yang dilakukan, tetapi ada juga yang memakai
upakara parerebuan, yang memakai gulungan itik. Dalam hal nini yang dihaturkan
terlebih dahulu pada bangunan suci yang utama yaitu dari Padmasa, dilanjutkan
dengan Sanggah Kamulan dan berikutnya sampai pada bangunan kecil yang terakhir.
Setelah marrebu selesai dilanjutkan dnegan menghaturkan upakara/banten yang
lainnya.
·
Sugihan Bali
Pelaksanaannya
setiap 6 bulan sekali tepatnya pada hari jumat atau sering juga disebut dengan
Sukra Keliwon Wuku Sungsang perayaan ini terjadi setelah berlangsungnya Sugihan
Jawa. Perayaan upacara dalam Sugihan Bali ini bertujuan untuk pembersihan atau
penyucian terhadap bhuwana alit atau sering kita sebut dengan diri sendiri yang
dilaksanakan dengan doa permohonan
d. Upacara
pada Wuku Dungulan
Untuk pelaksanaan uapacara wuku dungulan
dibutuhkan pengendalian diri sebab akan banyak godaan-godaan yang akan dihadapi.
Dalam upacara ini akan turun Sang Kala Tiga Wisesa yang akan menguji pikiran
dan perkataan manusia. Hari-hari yang merupakan upacara dalam Wuku Dungulan ini
adalah
·
Hari Panyekeban
Tepatnya pada hari minggu
atau tiga hari sebelum galungan
·
Hari Panyajahan
Tepatnya
pada hari senin dua hari sebelum galungan. Arti dari hari panyajahan ini adalah
hari pemguasaan atau penaklukan dari Sangkala Tiga Wisesa.
·
Penampahan
Penampahan
jatuh pada hari selasa/ Anggra Wage Wuku Dungulan yaitu sehari sebelum
Galungan. Nampah yaitu kegiatan memotong hewan seperti ayam, babi untuk
dijadikan olahan-olahan seperti sate lembat, sate asem, jepit babi, urutan dan
lain sejenisnya. Kegiatan ini dilkukan oleh kaum pria. Hari penampahan
merupakan suatu kesempatan terakhir dari Sang Kala Tiga Wisesa yaitu Sang Bhuta
Amangkurat untuk mengukki dan menggoda ketabahan hati umat manusia. Kegitan
nampah didahului dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar kelak
bila kembali lahir ke dunia mendapatkan kesempatan dan tempat yang lebih baik.
Upacara atau
banten pada hari Penampahan Galungan.
i.
Untuk di Pekarangan Rumah
yaitu pada halaman atau tengah natah
dan di lebuhyaitu di depan pintu
keluar perumahan, berupa : Segehan agung
dan Nasi sasah berwarna putih 5 tanding diletakkan mengarah ke
timur, nasi sasah merah 9 tanding mengarah
ke selatan, dan nasi sasah ireng/
hitam 4 tanding, mengarah ke utara.
Masing-masing dilengkapi ulam daging babi
berisi lawar urab merah ,urab putih, canang genten, toya anyar, dupa dan tabuh-tabuh. Semua upakara bantenditujukan kepada Sang
Bhuta Amangkurat/ Sang Kala Tiga Wisesa, bertujuan untuk mengembalikanNya
ke tempat asalnya dan menghentikan godaan serta gangguannya dari umat manusia.
Diupacarakan siang hari setelah memasak.
ii.
Untuk anggota keluarga
dan senjata yang digunakan dalam
kehidupan, berupa : Byakala/Byakaon,
Prayascita dan Tebasan Pamiyak Kala.
Dilakukan sore hari setelah persiapan selesai. Bertempat di Natar pekarangan,
ditujukan pada Bhuta Kala/Sang Kala Tiga
Wisesa. Upacara mabyaka dilakukan
oleh semua anggota keluarga kecuali yang belum maketus atau tanggal gigi.
iii.
Sebuah Penjor yang
lengkap memakai Sanggah, Sampyan, lamak, gantung-gantungan. Bahan penjor
memakai sebatang bambu yang ujungnya melengkung ke bawah, berisi : plawa, pala
bungkah, pala wija, pala gantung, raka-raka, kain putih kuning raranggitan dan
sampyan penjor pada ujung bambunya. Penjor dipancangkan pada sore hari setelah
“mabyaka’ selesai di sebelah kanan
pintu keluar pada lebuh, bermakna seagai tanda kemenangan dharma melawan a-dharma
·
Galungan
Galungan
dirayakan setiap hari Rebo/BudaKeliwon
Wuku Dungulan, setiap enam bulan atau210 hari sekali ,merupakan klimak dari
upacaranya. Galungan merupakan
kemenangan dharma melawan a-dharma.
Upacara sejak sugihan jawa hingga hari Penampahan
Galungan, merupakan unsur pembersih dan penyucian terhadap Bhuwana agung dan bhuwana alit termasuk pula penyucian terhadap Sang Kala Tiga Wisesa.
Upacara atau banten pada hari
Galungan, berupa :
1. Dihanturkan
pada Palinggih seperti: Padmasana, Kamulan, Taksu, Ibu, Dadia,
Panti, Paibon, Panunggun Karang, atau lain sejenisnya setingkat dengan itu,
berupa Tumpeng Wawakulan atau Jarimpen Dewa, Soda atau Ajuman, Canang
Maraka, Canang Pasucian atau Pabersihan,
Canang Burat Wangi Lenga Wangi, dan lainnya disesuaikan dengan desa, kala, patra.
2.
Untuk di Paparuman, Piyasan, Pasambyangan berupa:
Sorohan Dapetan Tumpeng Pitu atau Sorohan Peras Pengambyan dilengkapi sasayut, jarimpen, Gebongan, Pajegan,
Pasucian Rantasan dilengkapi cecepan
,panastan, dupa, pasepan dan
tabuh-tabuh.
3. Pada
Palingih-palinggih kecil seperti: Tugu, ulun sawah atau ladang dan lain
sejenisnya terdiri dari tumpeng penyajaan atau banten pakideh, cacahan, soda,
canang maraka, segehan, canang pabersih dan canang genten, toya anyar, dupa
atau asep serta tabuh-tabuh.
4. Pada
kamar-kamar di atas tempat tidur yaitu pada Palangkiran, dapur, tempat air,
tempat menyimpan beras, padi, tempat bekerja atau berdagang dan lain
sejenisnya, berupa tumpeng panyajaan atau banten pakideh, soda dan canang
maraka.
5. Pada
binatang-binatang/gumatat-gumitit (sarwa prani), peralatan yang telah membantu
dan lain-lain sejenisnya ,dihaturkan upakara yang ditujukan kehadapan
“sedahan”, seperti sedahan rayap, semut, berupa tumpeng penyajaan, canang
maraka, disesuaikan dengan desa, kala, patra.
6. Kehadapan
Sang Hyang Galungan/Sang Hyang Dharma
atau Bhatara Sarining Galungan, dihaturkan upakara berupa: tumpeng 2 buah
agar besar lengkap dengan tatandingannya, gebongan, pajegan, tumpeng panyajaan,
tumpeng wawakulan/Jaringan Dewa, soda, canang maraka, canang pabersih, canang
burat wangi, panyengeng, segehan dilengkapi rantasan, cecepan, panastan,
pasepan, toya anyar, tabuh-tabuh.
7. Pada
lebuh di depan pintu keluar pekarangan, berupa segehan, tumpeng pangayaan,
canang maraka, toya anyar, dupa, tabuh-tabuh dan api takep.
Penyelenggaraan Upacara :
1. Selaku
awal dilakukan pembersihan pada tempat-tempat pelaksanaan upacara.
2. Memasang
sarana perlengkapan berupa busana/raja pangangge, pada palinggih-palinggih,
tempat-tempat suci selanjutnya memasang lamak, candiga, sampyan,
gatung-gatungan, plawa atau don kayu. Ada kalanya pada hari galungan dilakukan
saling “ngejot banten” pada keluarga yang melaksanakan upacara perkawinan
sebelum galungan dan melahirkan anak. Maksudnya adalah untuk memohonkan agar
kepada mereka dianugerahkan kekuatan lahir dan batin serta rukun dalam
lindungan Sng Hyang Dharma.
3. Menghaturkan
upakara yang telah dipersembahkan pada tempanya masing-masing dilanjutkan
dengan pelaksanaan persembahyangan bersama, matirtha dan majiba, lanjut
ngalebar dan nyurud upakara yang telah dihaturkan.
·
Hari Pamaridan Guru
Diperingati
setiap hari sabtu/saniscara pon wuku
dungulan, yaitu enam bulan atau 210 hari sekali, bertepatan dengan hari
terakhir wuku galungan. Upakara yang
dihaturkan berupa Tumpeng Guru pada Palinggih Sanggah Kamulan ditujukan
kehadapan Bhatara Hyang Guru, dengan
tujuan sebagai pembersih dan penyucian terhadap diri. Selain itu dilakukan pula
Tipat Kelanan Dampulan, Canang Burat
wangi Lenga Wangi, Canang, Pabersihan, atau disesuaikan dengan desa, kala, patra.[8]
6. Upacara pada Wuku Kuningan
a. Hari
Ulihan
Pada
hari minggu atau Redite Wage Wuku
Kuningan, hakekatnya merupakan saat kembalinya pada Dewata ke KahyanganNya masing-msing setelah memberikan
kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin serta panjang umur ke Dirghayusa-an pada umat manusia.
Upakara
yang dihaturkan berupa barang-barang mentah seperti beras, rempah-rempah yang
disesuaikan dengan desa, kala, dan patra.
b. Pamacekan
Agung
Diperingati
pada setiap hari senin atau Soma Keliwon
Wuku Kuningan, setiap enam bulanatau 210 hari sekali. Upakara yang
dihaturkan berupa Segehan agung
memakai panyembahan ayam samelulung
,diupacarakan pada lebuh sore hari dengan tujuan untuk mengembalikan Sang Bhuta Galungan dan para pengikutNya ke
tempat asalnya semula.
c. Hari
Buda Pahing Kuningan
Diperingati
pada hari Rebo atau Buda Pahing Kuningan
setiap enam bulan atau 210 hari sekali. Pemujaan saat ini ditujukan kehadapan Bhatara Wisnu dengan menghaturkan
Upakara di Ibu, Dadia, Paibon, Panti
sesuai desa, kala, dan patra.
d. Panampahan
Kuningan
Saatnya
sehari sebelum kuningan, yaitu pada hari jumat atau Sukra Wage Wuku Kuningan, merupakan saat untuk melakukan berbagai
kegiatan baik pada wanita dan pria seperti saat PanampahanGalungan, yaitu menyiapkan saran dan prasaran untuk hari Kuningan. Upacaraa saat ini hampir tidak
ada, namun dapat disesuaikan dengan desa, kala, patra.
e. Hari
Kuningan
Dirayakan
pada hari sabtu atau SaniscaraKeliwonWukuKuningan
setiap enam bulan ata 210 hari sekali yaitu hari setalah Galungan sebagai hari resepsinya. Pada perayaan ini para Dewa serta Pitara akan turun dari Kahyangan
untuk melakukan penyucian sambil mukti atau menikmati banten-banten yang
dihaturkan, memberkahkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kedamaian serta ka-dirghayusan, selanjutnya kembali ke kahyanganNya masing-masing.[9]
7. Upacara pada Wuku Pahang
Saatnya
pada hari Rebo atau Buda Keliwon Wuku Pahang yang dikenal pula dengan sebutan
Buda Keliwon Pegat Wakan, Buda Keliwon Pegat Warah atau Panelahan Galungan,
merupakana upacara akhir dari rangkaian raruntutan Galungan. Pegat (bahasa
bali) berarti putus, wakan atau artinya bicaram sabda. Pegat wakan atau pegat
warah, maksudnya berakhirlah sudah batas pelaksanaan hari raya Galungan yang
patut diselenggarakan sesuai dengan pawarah-pawarah Bhatari Durgha yang telah
disampaikan dan diterima oleh Sri Jaya Kasunu untuk memulai naik tahta.
Sebagai
tanda berakhirnya, maka semua sarana Upakara yang masih tertinggal dari
penyelenggaraan upacara Galungan dan Kuningan, ditempatkan pada satu tempat
untuk dibakar dan abunya dimasukkan pada sebuah bungkak nyuh gading makasturi,
diupacarakan dengan upakara berupa Tumpeng mapucak manik sebagai sarana memohon
kehadapan Bhatara Galungan dan para Dewata serta leluhur untuk dibersihkan dan
disucikan. Selanjutnya akan ditanam pada natar halaman rumah diupacarakan
dengan upakara berupa soda, canang burat wangi lenga wangi, kawangen dan
segehan Panca Warna seabagai sarana memohon kehadapan Hyang Pertiwi kekuatan
hidup dan pikukh jiwa urip.[10]
Daftar
Pustaka :
Arwati,
Ni Made Sri, 2007 : Hari Raya Galungan, milik Pemda TK.I Bali, Proyek Penyuluhan
dan Penerbitan Buku Agama.
Putu
Mardika, “Refleksi Tunpek Wariga : Tumbuhan Punya Perasaan,” http://www.tatkala.co/2017/10/07/refleksi-tumpek-wariga-tumbuhan-pun-punya-perasaan/
(dikunjungi 28 Maret 2018)
“Pagerwesi, Saat manusia balimemuja sang guru
semesta,” http://www.balisaja.com/2013/08/pagerwesi-saata-manusia-bali-memuja.html
(dikunjungi 28 Maret 2018).
[1] Ni Made Sri Ariwati, Hari Raya
Galungan, (Denpasar : Pemda TK.I Bali, Proyek dan Penerbitan Buku Agama,
2007), 1-12.
[2] Hari Raya Galungan, 12-22.
[3] Hari Raya Galungan, 23-31.
[4] Hari Raya Galungan, 31-33.
[5] Putu Mardika, “Refleksi Tunpek Wariga : Tumbuhan Punya Perasaan,” http://www.tatkala.co/2017/10/07/refleksi-tumpek-wariga-tumbuhan-pun-punya-perasaan/
(dikunjungi 28 Maret 2018)
[6] “Pagerwesi, Saat manusia balimemuja sang guru semesta,” http://www.balisaja.com/2013/08/pagerwesi-saata-manusia-bali-memuja.html
(dikunjungi 28 Maret 2018).
[8] Hari Raya Galungan, 33-57.
[9] Hari Raya Galungan, 57-63.
[10] Hari Raya Galungan, 63-64.

Komentar
Posting Komentar